Industri Hasil Tembakau

Terus Berproduksi dan Tidak Akan Berhenti

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Keberadaan industri kretek maupun beragam produknya tersebar dan membentang panjang untuk sampai ke banyak orang. Dari distributor mengalir rokok-rokok kretek itu ke tangan para pengecer di toko-toko, kios-kios, atau warung-warung pinggir jalan.

Kretek ini pula yang menginspirasi Leo Kristi – musisi balada yang lebih mengandalkan gitar akustik –mencipta lagu berjudul “Di Deretan Rel-rel”. Cuplikan liriknya menampilkan gaya dan selera seorang perokok yang tengah mengisap kretek sambil menikmati suasana pagi yang membekaskan sisa-sisa hujan semalam, dengan tersaji hidangan kopi panas dan pisang goreng di sebuah kedai.

Banyak kegiatan kebudayaan seperti liga sepakbola, basket, pentas atau konser musik, kegiatan perlombaan, dan tontotan televisi disokong dana dari perusahaan-perusahaan industri rokok kretek.

Salah satu aktivitas yang rutin digelar setiap tahun di Jakarta adalah Java Jazz Festival. Pentas musik kolosal yang menyedot total 100.000 penonton ini banyak mengundang musisi dan penyanyi jazz dari luar negeri, selain dari dalam negeri. Sebelumnya, konser Anggun C. Sasmi sukses digelar pada November 2009 di Sabuga, Bandung, juga didukung dana dari perusahaan rokok.

Musik menjadi salah satu ajang kebudayaan yang menyedot ketertarikan orang secara massal dan dukungan dana dari perusahaan rokok kretek masih diharapkan. Bersama kawan-kawannya, Ariel – sekeluar dari penjara Kebonwaru, Bandung – membentuk grup band baru, Noah. Dengan album yang mereka rilis, sebuah perusahaan industri rokok menyongsong mereka untuk melakukan serangkaian tur di 25 kota yang dimulai dari September 2012 dan berakhir pada Februari 2013. Sebelumnya mereka menggelarnya dengan kode “mission impossible” konser tur 5 negeri 2 benua dalam 24 jam, sehingga mencatatkan rekor.

Besarnya laba yang dipetik para pengusaha industri rokok kretek memang ditunjukkan dengan leluasanya mereka memberikan kontribusi dalam mensponsori berbagai kegiatan kebudayaan pop. Kontribusi ini juga menjadi arena promosi mereka.

Namun berbeda dengan produk komoditas lainnya, perusahaan penghasil rokok justru menghadapi tekanan kampanye anti rokok. Rokok sudah dapat dikatakan sebagai produk “setengah ilegal”. Di satu sisi banyak larangan bagi para pengisap rokok sebagai konsumen langsung dalam mengkonsumsi di berbagai kawasan, sementara di sisi lain perusahaan rokok ditekan untuk membatasi produksi dan dibebani dengan sejumlah ketentuan maupun kebijakan ketat dan larangan impor oleh pemerintah asing.

Belum lagi ditambah dengan serangkaian kampanye global yang melibatkan banyak pengikut, dengan menyatakan jutaan orang mengalami kematian gara-gara konsumsi rokok.

Salah satu yang gencar dikampanyekan adalah larangan mensponsori acara musik dan olahraga di Indonesia yang disuarakan oleh Menteri Kesehatan ketika melakukan sosialisasi PP No.109/2012 yang ditujukan kepada pimpinan para media massa dan elektronik. Sponsor dari perusahaan rokok diingatkan paling lambat dalam 12 bulan diberikan waktu untuk mempersiapkan diri. Selanjutnya semua iklan dan sponsorship rokok berhenti.

Namun, perusahaan industri rokok terus berproduksi dan tidak akan berhenti, kecuali bangkrut atau ditutup dengan cara menindasnya. Dengan laba yang dipetiknya, perusahaan rokok akan terus mempromosikan produknya supaya komoditasnya “laris manis”. Apa pun ajang promosi dimasuki, terutama dalam bentuk iklan, adalah sarana promosi yang penting dan sekaligus memberikan keuntungan bagi perusahaan periklanan dan media massa.

Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) DKI Jakarta Irfan Ramli mengatakan, rokok merupakan produk primadona di mata dunia periklanan Indonesia. Pemberlakuan PP No.109/2012 itu secara otomatis berimbas pada iklan produk rokok. Belanja iklan secara nasional mencapai Rp 119 triliun.

Namun diprediksi, pendapatan perusahaan periklanan dari produk rokok akan turun cukup signifikan. Padahal, belanja iklan rokok tiap tahun selalu naik, hampir 90 persen ditempatkan di TV dan media elektronik, sisanya untuk media cetak. Maka, dengan peraturan baru ini diprediksi penyusutan belanja iklan rokok mencapai Rp 11,9 triliun atau 10 persen. Dengan itu, pihaknya merasa perlu menghasilkan karya-karya iklan secara lebih kreatif untuk mengikuti peraturan pemerintah.

Kendati menghadapi banyak tekanan baik secara internasional maupun nasional, industri pengolahan tembakau dan cengkeh dengan produk akhir yang dikenal kretek itu telah memberikan berbagai kontribusi bagi pemenuhan hak setiap orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya, terutama kebudayaan pop: mulai dari olahraga sampai kesenian dan pendidikan.

Industri ini telah mengukir prestasi bagi penerima kontribusinya seperti para jagoan bulutangkis, digelarnya liga sepakbola nasional, liga basket, banyak pentas dan tur grup musik, tontonan lainnya, sampai beasiswa dan pelatihan guru, terlepas dari relasinya dengan buruh yang kerap menimbulkan perselisihan. Kontribusinya juga teralokasi bagi sejumlah usaha kecil dan pembangunan RS, termasuk riset kesehatan.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar