Industri Hasil Tembakau

Jejak Langkah Para Perintis

perintis-kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Kretek menggelembungkan rasa bangga sebagai salah satu produk yang berjaya di pasar domestik dan mampu menembus pasar dunia ke-70 negeri sehingga mengaitkan kretek dengan identitas Indonesia. Industri pengolahan tembakau dan cengkeh pun mengilhami sejumlah musisi untuk menciptakan lirik lagu maupun nyanyian kanak-kanak tanpa perlu dikenal siapa penciptanya, juga karya puisi. Beberapa karya tulis lainnya dalam bentuk cerita pendek maupun novel juga terinspirasi dari kretek.

Kontribusi perusahaan-perusahaan industri rokok kretek itu tidak ketinggalan pula untuk mewariskan sebuah museum pada 1985 di Kudus yang dibangun atas sokongan dana para pengusaha kretek yang tergabung dalam PPRK. Museum yang berada di atas lahan seluas 2,5 hektar di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, ini terdapat pula Rumah Adat Kudus ukuran 8×10 meter persegi peninggalan abad ke-17.

Dalam museum ini terpajang peralatan pembuatan kretek, patung-patung replika buruh-buruh merajang dan menggunting kretek, lukisan diaroma buruh-buruh melinting kretek, foto-foto pengusaha, surat perdagangan, dan dokumen-dokumen lainnya.

Karya-karya seni kreatif pada bungkus-bungkus jenis klobot dan kretek (SKT) lainnya, ikut dibentangkan dalam pajangan. Masih ada lagi koleksi produk merchandise dalam bentuk asbak, gantungan kunci, cangkir, gelas, termos, tas dan kaos yang memamerkan logo perusahaan kretek yang pernah ada di Kudus. Untuk menikmati koleksi museum ini setiap pengunjung hanya dikenakan sumbangan sukarela.

Selain itu, bertambah pula dengan fasilitas lainnya seperti bioskop mini (movie theatre), edukasi ilmu pengetahuan dan sosial-humanis berupa Techno Hall dan Pojok Buruh Rokok.

Satu lagi museum kretek tersaji di Surabaya, milik perusahaan PT HM Sampoerna, namanya House of Sampoerna yang terletak di Taman Sampoerna 6. Bangunan berasitektur Belanda yang dibangun pada 1862 ini semula adalah panti asuhan Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1932, Liem Seeng Tee – pendiri Sampoerna – membelinya dan mengalihfungsikan menjadi pabrik rokok Sampoerna.

Dalam museum ini terpampang beraneka benda peninggalan keluarga Sampoerna yang berhubungan dengan sejarah perusahaan, seperti mesin cetak pertama dan peralatan-peralatan pertama yang dipakai oleh Research & Development Departement. Lantai dua beroperasi pabrik kretek di mana lebih dari 3.000 buruh perempuan bekerja dan setiap buruh mampu melinting rokok dengan kecepatan sampai 325 rokok per jam.

Selain menikmati koleksi di museum ini juga disediakan program Surabaya Heritage Track (SHT) – dengan bus khusus ber-AC dan pemandu – pengunjung dibawa dengan nyaman berkeliling kota Surabaya untuk menikmati wisata sejarah.

Kedua museum itu menyajikan jejak langkah para perintis, peletak fondasinya yang mengaitkan hulu ke hilir, dan gemuruhnya di masa kolonial Hindia Belanda sebagai periode kebangkitan awal yang sempat dihantam badai kerusuhan sosial, krisis ekonomi, dan didera dua perang dunia.

Kini berkat pembangunan yang membentang dari hulu ke hilir, industri ini mencapai zaman keemasannya pada milenium baru. Warisan industri ini pertama kali dibangun dan tumbuh jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar