Industri Hasil Tembakau

Era Industri Rokok Kretek di Tanah Jawa

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tahun 1870 lintingan rokok kretek berskala rumahan diproduksi tersebar hingga berjarak 24 km dari kota Kudus, seperti Desa Mayong, Pecangan, dan Welahan yang masuk wilayah Kabupaten Jepara. Nama Haji Djamhari disebut-sebut sebagai penemu dan produsen rumahan awal rokok kretek di Kudus.

Awal mula munculnya rokok kretek sendiri dapat dikatakan sebagai “kebetulan”. Haji Djamhari, warga Kudus, merasakan sesak di dada. Untuk meredakan rasa sakitnya, ia mencoba menggosokkan minyak cengkeh di bagian dada dan pinggang. Rupanya sakitnya berkurang, sekalipun belum sembuh sama sekali.

Berikutnya dia mencoba mengunyah cengkeh dan hasilnya jauh lebih baik. Terlintas dalam pikiran guna memakai rempah-rempah ini sebagai obat. Dengan cara sederhana cengkeh dirajang halus, kemudian dioplos pada tembakau. Saat dihisap, asapnya sampai masuk ke dalam paru-paru.

Hasilnya menggembirakan, penyakit dada Haji Djamhari menjadi sembuh. Informasi terapi asap tembakau dicampur cengkeh tersebut segera menyebar di sekitaran Kudus. Para tetangga dan kerabat beramai-ramai ingin mencoba rokok mujarab yang menyembuhkan itu, sampai sebuah perusahaan rokok kecil harus didirikan Haji Djamhari.

Pada awalnya perdagangan rokok kretek produksi Haji Djamhari hanya beredar di kawasan Kudus dan sekitarnya. Namun dalam waktu singkat, rokok tersebut menyebar ke daerah-daerah di luar Kudus. Pada masa awal ini, seluruh industri rokok kretek adalah milik pribumi. Haji Djamhari meninggal pada tahun 1890. Tahun meninggalnya beliau menjadi tanda industri rokok di Kudus dimulai.

Nama yang juga melegenda bagi tradisi kretek di Kudus adalah Niti Semito, yang juga berkiprah di Kudus pada awal abad XX. Sebelum terjun dalam usaha kretek, Niti Semito sempat mencoba berdagang minyak kelapa, kemudian pernah pula berdagang kerbau. Tetapi rupanya peruntungannya ada di bidang kretek.

Jadilah Niti Semito merintis usaha rokok berbungkus klobot (bukan kretek) dengan merk “Kodok Mangan Ula” (kodok makan ular). Karena dirasa nama yang aneh, dicarilah merk baru, yang secara instan dibuatlah logo “tiga lingkaran” pada bungkus rokok klobot produksinya.

Rupanya logo “tiga lingkaran” tersebut mendapat sambutan baik dari konsumen. Para penikmat kretek produksi Niti Semito secara beragam menyebut logo baru tersebut dengan “Tiga Lingkaran”, ada yang menyebut “Tiga Bola” atau “Bal Tiga”. Sejarah kemudian mencatat, yang paling terkenal adalah sebutan Bal Tiga. Dengan merek Bal Tiga ini pulalah Niti Semito mendapat izin resmi dari Pemerintah Hindia-Belanda atas usaha rokoknya.

Baru pada tahun 1909 Niti Semito memulai produksi kretek, yang produk awalnya dilempar ke pasar tanpa bungkus. Produk awal ini dikemas dalam bentuk ikatan, dengan harga 2,5 sen per ikat (25 batang ukuran kecil) dan 3 sen (25 batang ukuran besar). Setelah mendapat sambutan positif di konsumen, barulah kretek produksinya diberi merek “Soempil”, lalu diganti merek “Djeruk”, kemudian diganti lagi dengan mengunduh namanya “M Niti Semito”. Namun apa pun mereknya, logo Bal Tiga tetap tertera dalam kemasan rokok kreteknya.

Dengan produksi kretek ini pulalah usahanya menjadi besar dengan nama resmi perusahaan Sigaretan Fabriek M.Niti Semito Koedoes. Awal 1914 pabrik kreteknya melibatkan ribuan tenaga kerja, bahkan di masa puncaknya pernah memperkerjakan 15.000 orang.

Banyak orang yang kemudian mengikuti jejaknya, sehingga antara tahun 1912–1918, tumbuh pabrik rokok baru bak jamur di musim hujan. Tidak sebatas di Kudus, namun juga di Semarang, Surabaya, Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, dan seterusnya. Untuk di Kudus sendiri telah berdiri sejumlah pabrik kretek, seperti cap “Delima” (pemilik Haji Ashadi), cap “Mrico” (keluarga Atmo), dan cap “Jangkar Duren” (pemilik Haji Ali Asikin).

Hal ini menandakan kebangkitan industri bumiputera di Pulau Jawa. Bahkan saat itu peralatannya pun, misalnya alat gilingan cengkehnya berupa ragangan terbuat dari kayu jati dan mesin penggerus cengkeh terbuat dari logam, adalah hasil inovasi masyarakat setempat dan dapat dibeli di toko tjengkeh, Handel Tan Khing Liep, di Jalan Bitingan Lama 56, Kudus. Alat giling cengkeh tersebut diproduksi dalam dua ukuran, ukuran besar mampu memproduksi 8 pikul per hari dan ukuran kecil untuk empat pikul per hari.

Kesuksesan industri kretek M. Nitisemito, dengan cepat disusul oleh beberapa nama besar dalam dunia kretek. Era industri rokok kretek di tanah Jawa telah dimulai. Puluhan pabrik rokok bermunculan dengan produksi hingga 50 juta batang per tahun dari sebuah pabrik, jumlah yang tak terkira pada saat itu. Sebuah rantai produksi komoditi tercipta mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik hingga jaringan distribusi. Sebuah gambaran masyarakat yang mandiri dan sejahtera yang jarang terkuak terdapat pada suatu tempat pada suatu saat dalam lingkup kekuasaan penjajahan kolonial.

Setelah para pengusaha pribumi berhasil mencapai kemajuan, para pengusaha Tionghoa beramai-ramai mengikuti jejak mereka. Maka masuklah era kompetisi, yang mencapai puncaknya pada peristiwa kerusuhan Oktober 1918 di Kudus. Saat itu banyak pabrik rokok yang rusak, bahkan hancur, karena dibakar. Banyak pengusaha pribumi yang dihukum setelah kerusuhan, yang berakibat industri rokok kretek mengalami kemunduran.

Usai huru-hara, pengusaha Tionghoa berhasil memperkuat kedudukannya dalam industri rokok di Kudus. Setelah tahun 1924 industri rokok kembali berkembang, baik di daerah Kudus, maupun di kawasan yang relatif jauh dari Kudus, seperti Kediri, Blitar, Tulungagung dan Malang. Bila pada tahun 1924 baru ada sekitar 35 pabrik, maka pada tahun 1928 sudah ada 50, kemudian pada tahun 1933 jumlahnya sudah mencapai 269 pabrik.

Sebelum tahun 1928, rokok kretek hampir seluruhnya menggunakan pembungkus dari kulit jagung kering (klobot). Sedangkan rokok kretek dengan pembungkus kertas baru muncul tahun 1928. Dengan pembungkus berbahan kertas tersebut, memungkinkan digunakannya alat pelinting dalam produksinya. Kretek yang dibungkus klobot adalah khas Indonesia. Meski di masa sekarang, rokok berfilter buatan mesin sudah memenuhi pasar, kretek berbungkus klobot masih tetap diproduksi dan dikonsumsi, khususnya bagi masyarakat pedesaan di Jawa. Salah satu pabrik besar yang masih memproduksi kretek berbungkus klobot adalah Gudang Garam di Kediri.

Kemudian di sekitaran Kudus, tepatnya Pati, pada tahun 1930 muncul merk “Menak Djinggo” hasil kongsi antara Kho Djie Siong dan Tan Djie Siong. Tahun 1935 pabrik ini pindah ke Kudus yang di kemudian hari (1953) memproduksi kretek cap “Nojorono”. Mengingat Nojorono mendapat sambutan hangat di konsumen, maka pada tahun 1973, nama tersebut dijadikan nama badan usaha: PT Nojorono Kudus.

Selanjutnya pada tahun 1936 muncul kretek dengan merek “Gentong Gotri” (pemilik Kho Djie Hay). Disusul merk “Djambu Bol” pada tahun 1937 dengan pemilik Haji Ma’roef. Tahun 1949 berdiri lagi pabrik kretek cap “Sukun”. Sampai akhirnya muncul nama baru, Oei Wie Gwan, yang mendirikan pabrik kretek “Djarum” yang terbesar di Kudus dan terus meraksasa sampai sekarang.

Sementara para produsen rokok kretek sibuk dengan pengembangan usahanya di dalam negeri (khususnya Jawa dan sebagian Sumatera), pada awal abad XX produsen rokok (putih) Eropa dan Amerika telah mampu menjual produksi mereka ke berbagai tempat di luar negaranya, termasuk Hindia-Belanda. Pada tahun 1923, rokok putih yang diimpor oleh Indonesia diperkirakan sudah mencapai sejuta batang.

Masyarakat kita kerap memahami kretek sebatas rokok yang tidak memakai filter (busa). Sampai dasawarsa 1970-an, kretek masih dianggap sebagai konsumsi kalangan bawah. Ditinjau dari asal kata dan bunyi yang ditimbulkannya, yang membedakan kretek dengan jenis rokok lain adalah kandungan cengkeh dan unsur rempah alamiah di dalamnya.

Bila rokok putih yang berasal dari Barat hanya mengandung tembakau, kretek merupakan produk hasil racikan tembakau dengan potongan cengkeh serta tambahan saus. Racikan seperti inilah yang menjadikan rokok kretek memiliki rasa dan aroma yang berbeda dari jenis sigaret lain.

Tradisi yang juga khas dalam menikmati sebatang kretek adalah dengan cara mengolesi kopi. Kebiasaan mengolesi kretek dengan ampas seduhan kopi ini masih mudah ditemukan di pedesaan, yang dipercaya menambah aroma kopi pada cita rasa kretek. Di Rembang (tetangga Kudus) misalnya, banyak warga sangat terampil “mengukir” batang kretek dengan ampas kopi, sebagai kriya kesenian rakyat.

Dalam sebatang kretek bisa terkandung belasan jenis tembakau dari seluruh pelosok Indonesia. Mulai era 1970-an, varian kretek telah berkembang dan memunculkan bentuk-bentuk kretek baru, yang kemasannya tak kalah dengan rokok putih. Termasuk muncul produk kretek yang rendah tar dan rendah nikotin.

Melihat prospek cerah pemasaran rokok putih di Indonesia, perusahaan patungan Inggris-Amerika, yaitu British American Tobacco (BAT), mendirikan dua pabrik di sini, masing-masing di Cirebon (1925) dan Surabaya (1928). Pada tahun 1931, produksi dari kedua pabrik tersebur tak kurang dari tujuh juta batang, di samping masih tetap mengimpor sejuta batang. Sementara pada tahun-tahun itu, jumlah produksi kretek sekitar enam setengah juta batang. Jadi masih di bawah rokok putih produksi BAT.

Untuk mengatasi ketimpangan dalam produksi, dikeluarkanlah beberapa regulasi, seperti perbedaan tarif cukai, serta dalam hal pemakaian mesin-mesin baru. Dari regulasi soal mesin inilah kemudian muncul istilah SKT (sigarek kretek tangan) dan SKM (sigaret kretek mesin). SKT mengacu pada proses produksi rokok dengan menggunakan tangan, sementara SKM mengacu pada jenis rokok kretek yang proses produksinya memakai mesin. Dan satu lagi adalah SPM, yaitu sigaret putih mesin, yang utamanya dihasilkan BAT.

Dalam perjalanannya melewati zaman perang Dunia I hingga zaman kemerdekaan terjadi gegap gempita persaingan bisnis rokok kretek antara pengusaha pribumi dan pengusaha Tionghwa. Pada awalnya pengusaha pribumi menguasai pasar, namun lama-kelamaan pengusaha Tionghwa mengambil alih dominasi atas pasar. Dalam perebutan para tenaga kerja yang handal dan berkualitas dalam dunia perkretekan sebagai kunci keberhasilan dalam persaingan, para pengusaha Tionghwa memberi imbalan lebih tinggi dari pengusaha pribumi. Lebih jauh, mereka juga menggunakan cara memberi ontvangen-voorscot atau panjar upah dan cara terugbetaling geleend ged atau cicilan pinjaman bagi kebutuhan hidup para pekerjanya.

Ditambah lagi dengan kurangnya jam terbang pengusaha pribumi dalam medan perdagangan dibandingkan oleh etnis Tionghwa, sehingga mereka tidak menggunakan media iklan untuk mensosialisasikan produknya pada konsumen dan calon konsumen. Lambat laun pasar dikuasai para pengusaha Tionghwa. Pertikaian bisnis antar pengusaha tidak jarang berubah menjadi kerusuhan yang disulut oleh isu SARA.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar