Lain-Lain

Wajah Muram Papua

papua
R. Geos Wirya
Ditulis oleh R. Geos Wirya

Kunjungan Jokowi ke Papua dengan meresmikan bandara Yahukimo dan enam pembangkit listrik tidak akan menyelesaikan persoalan Papua. Papua tidak melulu soal infrastruktur dan keterbatasan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar manusia. Melainkan masih ada stigmatisasi dan perlakuaan tidak sama terhadap masyarakat Papua sebagai warga negara.

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menyebutkan masih terdapat kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahan Jokowi di Papua. Antara lain penembakan di Yahukimo (Maret 2015), kericuhan Tolikara (Juli 2015), kematian sejumlah anak di Nduga (November 2015), dan kasus saham PT Freeport Indonesia yang mengabaikan masalah sosial warga lokal.

Papua Behind Bars mencatat, hingga Maret 2016 sebanyak 32 warga Papua dijadikan status tahanan poilitik. Setahun sebelumnya, 1083 orang Papua ditangkap secara sewenang-wenang di seluruh Indonesia atas beragam tuduhan kejahatan. Tertinggi sejak 2012.

Persoalan politik, hukum, dan keamanan masih menjadi duri dalam hubungan Papua dan pemerintah. Masih terjadi kekerasan yang dilakukan personil institusi keamanan di Papua. Semua itu diakibatkan oleh kebijakan keamanan di Papua yang masih berorientasi pada state security dan bukan human security.

Pemerintah seharusnya melindungi masyarakat Papua sebagai warga negara. Dengan cara melakukan dialog inklusif secara rutin dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat Papua. Apalagi pemerintah mempunyai gagasan revolusi mental. Aspek manusia dalam persoalan Papua merupakan bagian yang tidak boleh dikesampingkan. Cita-cita Papua tidak akan pernah tercapai apabila pemerintah masih menjadi kaki tangan pemodal.

Tentang Penulis

R. Geos Wirya

R. Geos Wirya

Pemerhati batuan dan pecinta sepeda.

Tinggalkan komentar