Industri Hasil Tembakau

Tradisi Kretek sebagai Proses Panjang dan Berliku

kretek-tradisi
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Lebih dari empat abad tembakau masuk ke Jawa. Tradisi merokok kretek sudah menjadi bagian budaya masyarakat Indonesia (akulturasi) sedemikian lama, yang tidak hanya tinggal di Jawa.

Kini, rokok dan kebiasaan merokok mulai mendapat “hujatan” keras dari berbagai pihak. Utamanya karena, konon, merokok dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan si pelaku (perokok aktif), dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif).

Diakui atau tidak disukai, diterima atau tidak diterima, sebenarnya rokok dan kebiasaan merokok kretek telah mewarnai kehidupan berbagai lapisan masyarakat. Rokok kretek dan bagaimana cara menikmatinya, bisa menggambarkan perkembangan peradaban masyarakat kita.

Rokok kretek merupakan produk asli Indonesia yang unik dan diakui dunia. Bahan baku rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh yang sebagian besar menggunakan sumber alam lokal. Industri rokok kretek sendiri merupakan industri yang padat modal, padat karya, dan memiliki andil besar dalam penerimaan cukai negara.

Konsumen tembakau Indonesia terbilang unik, mengingat mayoritas perokok (sekitar 90 persen) mengonsumsi rokok kretek yang merupakan rokok tradisional yang dibuat dari tembakau, kuncup cengkeh, dan bumbu (saus). Jenis rokok semacam ini merupakan satu-satunya yang diproduksi dunia, baik yang dibuat tradisional oleh tangan, maupun oleh mesin.

Berbagai kebiasaan individu maupun sosial yang mewarnai nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat terbentuk melalui suatu proses yang panjang dan berliku-liku. Termasuk kretek dan kebiasaan merokok kretek di masyarakat Indonesia.

Bicara tentang kretek, apabila dicermati maka kita bicara mengenai sejarah tembakau dan rokok kretek yang telah menjadi kehidupan dan penghidupan petani tembakau, produksi dan perdagangan tembakau dan rokok kretek, kebiasaan merokok (konsumen), dan penggunaan kretek dalam tradisi-tradisi, upacara, dan kegiatan-kegiatan lain dalam kehidupan masyarakat.

Kebijakan mengenai tembakau dan rokok tidak lepas kaitannya dengan Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Kovenan Internasional Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, selayaknya disikapi dengan bijaksana, dengan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat kita.

Untuk menghindari kontroversi yang berkepanjangan, lebih dari itu dapat memunculkan konflik, diperlukan suatu pengambilan kebijakan yang menguntungkan semua pihak.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar