Industri Hasil Tembakau

Tradisi Budaya Jawa yang Tidak Asing

budaya-jawa
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Merokok di kalangan orang-orang Eropa pun pada awalnya juga hanya meniru suku Indian di Amerika yang merokok menggunakan pipa utuk keperluan ritual, seperti memuja dewa atau roh.

Merokok menggunakan pipa juga dijadikan ritual persahabatan antar pribadi dan kelompok. Diperkirakan, tradisi mengunyah tembakau dan mengisap tembakau pipa bagi orang-orang Maya, Aztec, dan Indian, sudah terjadi sejak 1000 tahun sebelum Masehi.

Di Indonesia, secara kasat mata, aktivitas merokok tampak di mana-mana. Ada di ruang pribadi maupun ruang publik, baik di kota maupun di pedesaan. Dikonsumsi oleh berbagai strata masyarakat, mulai rakyat hingga pejabat, tua muda, si kaya dan si miskin, laki-laki dan perempuan, tidak terkecuali tokoh-tokoh agama dan kepercayaan, seperti di Jawa.

Gambaran kasar ini sama sekali bukan untuk menyatakan atau mengklaim bahwa gaya hidup orang Jawa sangat dipengaruhi oleh rokok. Sebab tidak semua orang Jawa dan mereka yang tinggal di Jawa adalah perokok.

Memang, ada yang benar-benar menjadi penggemar rokok berat. Tetapi, tidak sedikit pula merokoknya hanya kadang-kadang. Kadang-kadang merokok, kadang-kadang tidak. Ada yang awalnya perokok berat atau perokok ringan, namun akhirnya berhenti merokok karena alasan kesehatan atau kesadaran pribadi yang lain.

Bahkan tidak kurang pula kalangan yang selama hidupnya boleh dibilang steril. Bebas rokok, tidak mengenal dan bersentuhan sama sekali dengan tembakau, rokok, dan seluk-beluknya.

Rokok merupakan bagian tradisi atau budaya Jawa yang tidak asing dan yang sudah dikenal oleh Jawa, misalnya, tanda merokok atau tidaknya seseorang. Laki-laki bukan perokok bibirnya relatif bersih kemerahan (bukan biru kehitaman). Kuku jari tangannya pun tidak kekuningan seperti umumnya perokok.

Jika sudah berkeluarga dan tinggal di rumah sendiri, biasanya di meja tamu rumahnya tidak terdapat asbak. Barulah ketika ada tamu datang dan si tamu merokok, dia akan menyiapkan asbak atau apa saja yang dapat dijadikan dijadikan tempat menampung abu dan punting rokok. Upaya “melayani” tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan, toleransi, kompromi, sekaligus upaya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dari abu yang bertebaran.

Biasanya laki-laki perokok selalu membekal rokok dan korek api ke mana pun dia pergi. Meskipun sesungguhnya untuk mendapatkan rokok relatif mudah karena hampir setiap warung dan toko di sepanjang jalan menjual rokok. Namun dengan membawa rokok dan korek di saku dia akan merasa lebih tenang dan nyaman. Karena kapan pun keinginan merokok itu datang, dirinya dapat segera memenuhinya tanpa harus repot-repot ke warung atau toko untuk membelinya.

Oleh karena itu, yang dapat dilakukan dalam pengendalian konflik akibat pengendalian tembakau dan rokok kretek, yang penting adalah konsiliasi (consiliation), Pengendalian semacam itu terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan-keputusan di antara pihak-pihak yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar