Industri Hasil Tembakau

Nikotin Bukan Zat Adiktif

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Dalam prespektif kuantum, nikotin bukanlah racun atau berbahaya bagi manusia karena elemen pembentuk nikotin sama dengan elemen pembentuk DNA manusia. Nikotin (C10H14N2) terbentuk dari unsur-unsur atom C, H, dan N. Sementara tubuh manusia sebagian terbesar juga dibangun oleh atom-atom unsur C, H, N, dan O, yang merupakan atom-atom pembangunan DNA.

Keberadaan nikotin dalam tubuh manusia tidak merusak DNA, tetapi justru membersihkan DNA. Nikotin akan larut keluar dari tubuh dalam bentuk keringat dan air seni hanya dalam beberapa jam.

Dengan demikian, nikotin positif bagi manusia. Sehingga kebiasaan merokok memberikan rasa nyaman karena DNA dibersihkan, energi menjadi lebih besar. Proses itu akan berlangsung optimal apabila rokok yang digunakan adalah divine kretek, yaitu rokok yang sudah disehatkan/dinanokan.

Dalam hal ini, struktur nikotin yang terpisah, yakni pyridin yang berbentuk flat dengan ikatan yang biasa memutar-putar gugus pyrol-nya yang terlarut dalam air akan berfungsi sebagai scavenger partikel Hg* metal/amalgam*. (Zahar dan Sumitro, 2011)

Merokok dapat menjadi kebiasaan karena reaksi alamiah dari tubuh yang selalu ingin membersihkan struktur DNA dari “pencemaran” Hg* metal. Dalam hal ini jelas bahwa nikotin berfungsi membersihkan DNA, yang secara visual dalam penelitian ditunjukkan oleh nikotin dalam air membuat air berwarna kecoklatan.

Nikotin sejatinya sama dengan nasi (karbohidrat) dengan rumus kimia C(H2O)n yang terlarut sangat baik dalam air, kemudian dikeluarkan dari tubuh sebagai air seni dan keringat.

Dengan penjelasan dasar sifat kimia-fisika terrsebut di atas bisa dipahami bahwa nikotin bukan zat adiktif.

Prof. Aris Widodo, ahli farmasi, justru mempertanyakan kampanye anti rokok. Sebab dikhawatirkan bila tembakau dan produk turunanmya dihabisi akan memicu orang mencari pengganti rokok.

Jangan sampai penggantinya justru produk yang mengadung zat adiktif, seperti morpin dan kokain. Maka tidak salah bila ada ungkapan kebiasaan makan nasi bangsa kita seperti halnya kebiasaan merokok kretek. Kedua bahan yaitu nasi dan nikotin larut dengan baik dalam air, masukannya dan keluarannya dari tubuh tidak mengganggu unsur lainnya.

Nikotin dituduh sebagai senyawa adiktif yang sangat kuat. Gambaran inilah yang tidak mendidik, sehingga nikotin sebagai korban fitnah. Tingkat adiktivitas atau tingkat ketergantungan nikotin sangat rendah dibandingkan dengan napza seperti opium, kokain, ganja, maupun zat lain yang menimbulkan halusinasi.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar