Industri Hasil Tembakau

Netralitas Ilmu dan Keberpihakan Teknologi pada Kemajuan Umat Manusia

menjemur-tembakau-3
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Perdebatan tentang rokok dan merokok sampai saat ini belum kunjung usai. Namun, sebenarnya perdebatan itu dapat dikurangi secara ekstrem apabila ilmu pengetahuan dan teknologi dipergunakan sebagai titik temu.

Netralitas ilmu dan keberpihakan teknologi pada kemajuan umat manusia menentukan sekaligus kebaikan dan keburukan rokok dan produk tembakau. Sejauh ini, melalui beberapa studi yang berbasis pada nanosains, nanoteknologi dan nanobiologi telah ditemukan kenyataan bahwa merokok sejatinya tidak selalu berarti negatif. Sebaliknya, orang bisa tetap sehat bahkan sembuh dari penyakit yang diderita justru apabila merokok (Zahar dan Sumitro, 2011).

Studi tentang rokok, termasuk kretek, di Indonesia sampai saat ini dapat dikatakan parsial untuk ukuran besaran dampak masalahnya, karena seiring terbatas hanya pada beberapa aspek saja. Bahkan, ukuran sampelnya pun relatif kecil dan lebih bersifat hospital based research karena sampel diambil dari orang sakit yang datang ke rumah sakit.

Seharusnya, penelitian bersifat population based research dengan sampel diambil dari populasi dengan sebaran yang mempertimbangkan aspek-aspek sosial ekonomi, psikologi, kependudukan, pendidikan, gizi, iklim, kualitas lingkungan serta faktor-faktor lain yang diperlukan.

Program riset seperti itu harus diinisiasi oleh pemerintah dan menjadi program nasional sebagai bentuk pertanggunggjawaban negara, mengingat isu negatif terkait tembakau dan rokok yang berhembus dari luar negeri jelas mengancam langsung nasib jutaan rakyat Indonesia dan aset negara yang bernilai triliunan rupiah.

Apabila riset komprehensif belum dilakukan, sangat naif jika pemerintah sudah berani membuat kebijakan regulasi terkait rokok dan produk tembakau, seperti menetapkan definisi tembakau sebagai zat adiktif dalam “UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan” dalam pasal 113 ayat (2).

Di kalangan masyarakat, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan, selama ini berkembang pandangan yang cenderung bersifat reduktif dalam menyikapi masalah rokok dan merokok. Dalam asap rokok secara simplikatif direduksi bahwa zat yang berbahaya adalah nikotin dan tar. Ini pandangan atau pendapat yang salah kaprah, sebab yang justru berbahaya dalam asap rokok adalah radikal bebas yang tercipta dari pembakaran rokok, bukan nikotin dan tar (Zahar dan Sumitro, 2011).

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa radikal bebas sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Karena itu, sangat aneh bila dalam kampanye antirokok yang dituding berbahaya bagi manusia adalah nikotin dan tar. Apalagi sesungguhnya, secara sains, masalah efek negatif nikotin dan tar sampai saat ini masih bersifat debatable (ilmu pengetahuan terus berkembang dan tidak ada yang bersifat final).

Issue ETS: Environmental Tobacco Smoke, passive smoking, ditempatkan sebagai perkosaan pernafasan orang. Non perokok lebih menderita daripada perokok? Faktanya memang ada orang yang tidak tahan terhadap bau asap rokok. Hal tersebut harus dihargai. Hasil penelitian terhadap ratusan ‘kafe’ yang dilengkapi dengan penangkap nikotin diatas kepala; setelah kafe tutup (sekitar durasi 4 jam) ternyata pengunjung non-perokok dapat paparan ekuivalen merokok satu batang kalau dia tinggal di kafe selama 105 jam.

Bandingkan dengan asap mobil dan emisi pabrik, pesawat terbang debu lainnya. Kalau 70 juta batang rokok dibakar di Jakarta per hari, akan memberikan Total Particulate Mater (TPM) sebanyak 5 ton. Kalau 200 ribu kiloliter BBM dibakar sehari, di Jakarta, akan menebarkan 100 ton TPM, ditambah dari industri, emisi pesawat terbang dan debu akan ada total 205 ton TPM per hari di Jakarta. Kontribusi TPM rokok hanya 2,4% (Serad, 2009).

Dengan cara pandang holistik, kita tidak akan bersikap reduktif serta-merta memandang nikotin dan tar sebagai “tertuduh” yang menyebabkan penyakit bagi manusia karena kedua senyawa itu memapar bersama-sama ribuan komponen dan partikel senyawa lainnya. Kita perlu meneliti secara seksama, mana unsur-unsur yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya.

Diketahui bahwa unsur utama penyusunan tubuh manusia adalah atom-aton sederhana yang stabil, yaitu atom C, H, N, O dan P. Itulah atomatom pembentuk struktur DNA sedangkan sisanya terdiri atas berbagai unsur logam yang salah satunya merkuri (Hg), yang sangat tidak stabil dan hanya sedikit diperlukan tubuh. Apabila terdapat unsur Hg berlebihan dalam tubuh manusia, ia menjadi racun yang merusak komponen tubuh.

Problem kesehatan sebetulnya lebih disebabkan kualitas hidup seseorang. Penyebab timbulnya penyakit pada seseorang bisa datang dari luar maupun dari dalam tubuhnya. Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa rasa sakit hati, benci, kecewa dan stres yang ada dalam dirinya, yang umumnya terkait dengan kualitas hidupnya yang kurang memadai, sesungguhnya adalah sumber atau akar masalah, sehingga jangan hanya menyalahkan bakteri, karena itu daripada mengembangkan konsep akar masalah berupa mempermasalahkan bakteri dan membunuhnya, kita akan lebih arif bila memfokuskan perhatian pada metabolisme radikal bebas yang sesungguhnya sangat terkait dengan kualitas hidup.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar