Industri Hasil Tembakau

Membahayakan Kelangsungan Hidup Industri Tembakau dari Hulu ke Hilir

cengkeh
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Rantai produksi industri rokok kretek diperangi karena dituduh dan dipropagandakan sebagai biang kerok kematian 500.000 orang per tahun di Indonesia. Menghantam perusahaan-perusahaan industri rokok terutama industri kecil dan menengah. Kemudian berdampak langsung terhadap buruh-buruh yang dipekerjakan dengan PHK. Juga rantai-rantai produksi berikutnya yang berada di hulu, yaitu perkebunan tembakau dan cengkeh.

Sedangkan rantai perdagangan di hilir juga terkenda dampak dari kebijakan pemerintah dalam mengendalikan konsumsi, distribusi, dan promosi produk tembakau dan cengkeh. Perdagangan produk tembakau adalah bagian dari rangkaian industri pengolahan tembakau dan cengkeh.

Para pedagang kebingungan dalam menentukan harga jual seiring kenaikan tarif cukai rokok pada permulaan tahun 2012. Harga sebungkus rokok bisa naik setiap minggu sampai Rp500. Sampai akhirnya mereka mempertahankan harga kenaikan rata-rata di bawah Rp 1.000 per bungkus. Kenaikan harga jual rokok ini juga berdampak pada konsumen yang terpaksa merogok uangnya lebih besar dalam membeli rokok.

Tekanan atas industri rokok diperkirakan muncul di pasar modal atas terbitnya PP No. 109/2012. Bukan saja petani tembakau yang tertekan dengan PP Tembakau, namun saham emiten rokok juga akan mengalami tekanan tersebut. Pasar rokok domestik tidak akan berkurang dengan adanya aturan baru ini, namun bentuk pengaruhnya adalah pertumbuhan industri rokok akan tertahan hanya sampai 10 persen.

PP ini sudah mempersulit bahkan dengan alasan kesehatan saja, sehingga berpengaruh terhadap marjin keuntungan perusahaan. Setiap perusahaan industri rokok kretek sudah mengalami kerugian yang cukup besar yang mencapai 1 juta dolar AS dalam menambah biaya produksinya.

Dalam PP Tembakau tercantumkan larangan campuran zat yang berpotensi membahayakan bila dicampur dalam kretek, kecuali zat tersebut sudah terbukti tidak membahayakan. Sehingga dibutuhkan riset untuk menguji seberapa bahayanya bila rokok sudah terbakar.

Namun persoalannya, PP ini bukanlah aturan yang melindungi kesehatan, karena tidak satu pasal pun di dalamnya yang mengacu pada kesehatan. Semua jelas ke arah membatasi dan mengekang perdagangan rokok kretek.

Pemerintah tidak mendukung industri rokok kretek – produk asli Indonesia yang telah melakukan upaya dan strategi untuk meningkatkan daya saing – yang sudah dijalankan dengan kesungguhan, mengasah pengalaman, dan menerapkan strategi-taktik sampai menguasai 92 persen pangsa pasar (market share).

Sebaliknya, pemerintah cenderung memberikan kesempatan kepada investor rokok nonkretek (rokok putih) yang berupaya mengembalikan daya saingnya lewat regulasi. PP ini arahnya jelas kepada tren anti rokok beraroma (rokok kretek).

Jika PP No. 109/2012 itu tidak ada kaitannya antara rokok kretek dengan alasan kesehatan, melainkan lebih mengatur perdagangan rokok, khususnya kretek, maka kebijakan pemerintah bersifat ancaman bagi industri rokok kretek, dengan menekan pangsa pasarnya. PP Tembakau ini bukan saja tidak berurusan dengan kesehatan, namun juga membahayakan kelangsungan hidup industri tembakau dari hulu ke hilir.

Ketika rokok dituduh sebagai “mesin pembunuh”, kini dengan PP Tembakau – mengatur tentang tata niaga, standarisasi produk, iklan, dan pengenaan cukai yang tinggi – pemerintah justru mengarahkan industri rokok kretek ke jurang kehancuran.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar