Lain-Lain

Mari Mengubah Wajah Jakarta

RPJNM
Pramoedya Ananta Toer

Sebagai penduduk Jakarta aku kira ada baiknya bicara-bicara sedikit tentang kota tempat tinggalnya. Dan demikian pula yang kuperbuat sekali ini aku kira tiap penduduk Jakarta berhak bicara juga tentang kotanya, dan punya hak bahwa suaranya didengarkan oleh petugas-petugas yang bersangkutan, sekalipun suara itu tidak berkumandang di dalam sidang suatu dewan perwakilan.

Tumpukan desa dan kampung.
Sudah sejak lama kita mengetahui, bahwa Jakarta ini bukanlah kota dalam pengertian sosiologis dan ekonomis. Hingga pada dewasa ini Jakarta baru merupakan tumbukan desa-desa dan kampung yang dipaksa berfungsi sebagai kota dalam segi-segi sosiologis dan ekonomis. Perkosaan ini terjadi tiap hari sejak berdirinya Jakarta sebagai pemerintah Hindia Belanda hingga dewasa ini. Pada suatu kali mungkin perkosaan dapat berhasil, tetapi setelah Indonesia dapat merampas kemerdekaannya, ternyata perkosaan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda yang diteruskan oleh Jepang itu, kini benar-benar melahirkan aspek-aspek sosial dan ekonomis yang menyimpang daripada apa yang mesti dilahirkan oleh sebuah kota yang benar-benar kota.

Baiklah kita mulai saja acara kita dengan segi-segi kesusilaan suatu ibukota dari negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Acara permulaan adalah :

Perumahan.
Kita semua menyaksikan dekadensi yang diterbitkan karena bergeloranya urbanisasi penduduk pedalaman yang disebabkan oleh berbagai alasan yang memang tidak bisa kita tolak demikian saja. Sebaliknya daripada itu urbanisasi dengan segala akibatnya, pun bukan selayaknya dibiarkan berkembang tanpa adanya usaha-usaha penyaluran. Apabila hal ini dibiarkan saja, akibatnya Jakarta akan lebih susah lagi untuk dapat dibangun sebagai kota, teristimewa sebagai ibukota suatu negara yang merdeka. Baiklah, walaupun sebenarnya sudah terlambat tidak ada buruknya kita mulai memikirkannya kembali sejak dari permulaan.

Ruangan-ruangan yang tidak layak.
Kita semua tahu, bahwa karena sulitnya perumahan ini sebahagian terbesar dari penduduk Jakarta meninggali ruangan-ruangan yang sebenarnya tidak layak bagi suatu bangsa yang telah memenangkan suatu Revolusi. Aku sendiri berpendapat, bahwa paling sedikit seorang warganegara dari suatu bangsa merdeka, mempunyai ruang tidur 2x2m; ini berarti bahwa untuk seorang suami dengan istrinya paling sedikit mempunyai ruang tidur 4m persegi, atau yang lazim dinamai standard gentlemen’s room. Di samping itu tiap kita mempunyai hak untuk mempunyai ruang kerja dan keperluan sehari-hari serta keperluan rumah tangga lainnya. Pelanggaran atas garis minim akomodasi ini berarti, bahwa orang dewasa, kakek-nenek, kanak-kanak dijejalkan dalam suatu ruangan yang tidak layak bagi warganegara bangsa merdeka. Kakek-kakek dan nenek-nenek kehilangan haknya untuk menempuh hidup tuanya dengan aman dan damai setelah puluhan tahun lamanya berjuang untuk penghidupannya. Kanak-kanak menjadi vreegijp karena terlampau dekat dengan orangtuanya masing-masing dengan berbagai soalnya, sejak soal keuangan hingga kekelaminan. Dan anak-anak ini juga yang kehilangan daerah bergerak dan bermain, yakni hak yang mutlak bagi kanak-kanak. Dengan bahan-bahan yang buruk yang didapatnya dari kondisi perumahan yang buruk, mereka mereka mencoba merampas daerah bergerak dan bermain sendiri dan tanpa disadarinya mereka menjadi petualang-petualang di jalan-jalan raya. Tumbuh tanpa kasih orangtua yang dirundung kesulitan perumahan ini, mereka pun kehilangan kasih terhadap orangtua dan lingkungannya. Dan mereka bergelandengan terus. Kadang-kadang orang tua kanak-kanak yang tidak berdosa ini, pada suatu kali dikejutkan oleh berita resmi yang mengabarkan: Anak Saudara tertangkap waktu mencuri sepeda.

Khusus di kalangan seniman aku punya beberapa orang kawan yang setia mengunjungi gedung bioskop tiap jam permintaan sore. Mereka ini bukanlah mengunjungi gedung bioskop untuk menonton, tapi sekadar untuk dapat tidur di waktu permainan sambil mendengar sedikit musik dan tidak diganggu oleh kawan serumahnya. Ada pula kawan seniman yang setelah melakukan pekerjaan sehari-hari baik di kantor ataupun di sanggarnya sendiri, lari ke taman-taman yang tidak terurus itu di bawah pohon-pohonan. Bukan untuk menikmati taman yang tidak mempunyai keindahan itu, sekadar untuk dapat menghindarkan diri dari kelelahan.

Energi-energi yang terbuang percuma ini tidak menguntungkan, baik buat perseorangan maupun buat kehidupan dan keselamatan sosial.

Anakkota sebagai sumber korupsi.
Sudah sejak zaman federal telah diusahakan mengatasi kekurangan ruangan tinggal ini dengan mengadakan ank kota-kota, mula-mula Kebayoran Baru, yang dengan cara-cara kolonialnya telah merugikan banyak para petani. (Bahkan terdengar kabar, bahwa sesungguhnya pembangunan anakkota Kebayoran Baru ini, tidak lain daripada pembangunan suatu korupsi besar-besaran. Salah satu di antaranya berkorupsi ini kabarnya ialah memendekkan tinggi rumah-rumah batu dengan satu batu, serta mengganti eternitnya dengan kacang merah). Tanpa memperbincangkan hal ini, sebenarnya kita masih banyak dapat bicara tentang pembangunan anak-anakkota ini. Pertama, usaha untuk mengatasi kesulitan perumahan bukanlah hanya dengan jalan membuat rumah sebanyak-banyaknya, tetapi juga harus mempertimbangkan kemampuan tanah dalam jangka waktu tertentu, karena tanah tidak bisa diperluas, dan kebutuhan-kebutuhan yang komplit dari sebuah kota: pasar, toko-toko, pusat-pusat hiburan, pusat-pusat kegiatan seni dan ilmu pengetahuan, gedung-gedung pertemuan – sehingga penduduk kota baru ini tak perlu gentayangan ke induk kota yang berarti menerbitkan perasaan tidak senang. Dan jangan pula dilupakan kepentingan kanak-kanak yang selama ini jarang sekali teringat: kebun kanak-kanak, perpustakaan kanak-kanak, tempat kanak-kanak berhimpun – agar kanak-kanak ini tumbuh menjadi dewasa melalui masa anak-anak yang sesungguhnya.

Desa Torongrejo sebagai model.
Aku sendiri lebih setuju bila kota tumbuhan ini terdiri atas gedung-gedung flat dari dua atau tiga tingkat, di mana perterre dipergunakan sebagai tempat duduk dan dapur serta kamar makan, sedang tingkat-tingkat di atasnya sebagai ruangan tidur dan tempat kerja. Tetapi soalnya adalah keuangan. Aku kira soalnya yang sesungguhnya bukan soal keuangan. Desa Torongrejo, Malang, yang kini menjadi model desa itu, bisa memberi kita banyak pelajaran yang berfaedah. Mungkin Kawan-kawan akan meniadakan desa ini karena keadaannya berlainan daripada Jakarta. Aku kira persoalannya tentang perumahan sama saja, tetapi memang sebuah desa adalah homogen. Homogenitas ini yang memungkinkan adanya gotong-royong. Jakarta tidak punya homogenitas yang dimiliki oleh desa. Tetapi kita bersama masih bisa menghimpunkan masyarakat-masyarakat kecil juga dijadikan oleh kesamaan lapangan pekerjaan atau vak, artinya tiap blok daripada anakkota hendaknya secara gotong-royong dibangunkan oleh serikat sekerja, sedangkan dewan gabungan serikat sekerja memberikan bantuan-bantuan berupa gambar dan insinyur-insinyur sebagai kelanjutan daripada pemobilisasian semangat gotong-royong.

Bentuk masyarakat-masyarakat vak
Cara-cara pembangunan rumah secara individual yang tidak menguntungkan semua orang hendaknya dapat dibatasi. Perusahaan-perusahaan pembangunan dianjurkan untuk bergabung untuk menghindari tindakan sewenang-wenang daripada pangkalan-pangkalan bahan bangunan kecil. Dengan demikian harga bahan dapat ditekan dan mungkin juga dapat dibuat stabil. Contoh yang baik daripada usaha demikian telah diberikan oleh segolongan kawan-kawan di seluruh Indonesia ini dalam rencana mendirikan Gedung Kebudayaan di Rawasari, Jakarta. Walaupun gedung itu belum lagi didirikan, biayanya ditaksir hanya separoh daripada biaya yang sesungguhnya bila gedung itu didirikan atas usaha yang biasa. Lagi pula bila blok-blok dalam anak-anakkota itu didirikan menurut pekerjaan calon penghuni, bukan saja hal itu menimbulkan homogenitas masyarakat kecil, juga dapat menghimpunkan suatu masyarakat vak di satu tempat tertentu, sehingga antara satu dan lain anggota masyarakat vak ini dapat sering berhubungan dan dengan sendirinya bertukaran pengalaman, juga membawa mereka kepada kemajuan yang lebih cepat – sesuatu yang dipinta di dalam zaman modern ini.

Dengan sendirinya menganjurkan untuk bergabung kepada mereka yang berkepentingan agak sulit dilakukan, tetapi selamanya ada tenaga jujur dan tidak serakah juga sedia mau bekerja, mereka inilah yang harus kita cari.

Republik
13 April 1957

 

(Diambil dari Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding I, Jakarta: Lentera Dipantara, 2004, h.536-41)

Sumber gambar: Array

Tentang Penulis

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Lahir di Blora, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun. Salah satu pengarang legendaris dalam sejarah sastra Indonesia. Telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Tinggalkan komentar