Lain-Lain

Asbak Rokok Aidit

asbak-rokok-aidit
Arpan Rachman
Ditulis oleh Arpan Rachman

FILM Pengkhianatan G30S/PKI, propaganda orde baru, berbiaya Rp800 juta. Ini film nasional termahal pada masanya, dulu. Setiap tanggal 30 September sejak diproduksi 1984, film ini diputar di TVRI. Pemutarannya baru dihentikan ketika Soeharto tumbang 1998.

Ketua Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit, di film itu diperankan Syu’bah Asa, wartawan senior sekaligus aktor. Aidit digambarkan gemar merokok. Propaganda keji yang sungguh tidak sesuai kenyataan.

Selama 173 detik—dari menit ke-20 lewat 38 detik sampai menit 23:31—muncul adegan negatif tentang hubungan antara rokok dengan rencana pemberontakan PKI. Hubungan itu jelas imajiner, yang—meminjam bahasa orde baru dulu—“mendiskreditkan” keduanya: baik rokok maupun PKI.

Gambarnya hanya remang-remang. Mungkin sengaja dibuat agak gelap untuk mengesankan sebuah rapat gelap.

Di menit 20:38, disorot mulut yang sedang bicara, tampak giginya, lalu bibir mengepulkan asap rokok. “Inilah saatnya kita harus merebut kekuasaan. Kita harus lebih cepat. Kita harus mendahului. Jangan didahului,” kata Aidit. Ia sedang berbicara dengan Sjam Kamaruzzaman, tokoh PKI lain. Lalu, menit 20:54, Sjam sedang duduk di kursi, disorot, juga merokok.

Adegan berpindah tempat di menit 21:09. Dalam siluet di balik gorden jendela, seorang lelaki berdiri, menyalakan rokok. Dua detik kemudian, muncul seorang lelaki lagi, perokok lain. Mereka kemudian diajak pergi oleh lelaki ketiga yang datang terakhir.

Menit 22:19, adegan kembali ke tempat pertama. Aidit mematikan rokoknya ke asbak. Lalu dia menyalakan sebatang rokok baru. Kini, gantian Sjam yang bicara kepadanya. Cuplikan adegan menggambarkan PKI dan rokok itu berakhir di menit 23:31.

Adegan per adegan tersebut hanya berlangsung kurang dari tiga menit. Tapi film itu pernah membodohi anak-anak se-Indonesia selama 14 tahun! Para pelajar SD, siswa SMP dan SMA, libur belajar setiap tanggal 30 September karena wajib menontonnya di bioskop. Pulang menonton, mereka harus menulis resensi sebagai pekerjaan rumah.

Pasti tidak ada resensi karya anak SD yang mempertanyakan mengapa Aidit merokok. Faktanya, Aidit memang bukan seorang perokok!

Film propaganda itu pun telah menyeret rokok secara implisit sebagai barang haram yang diisap PKI. Tentu saja mengharamkan rokok buatan asli Indonesia adalah propaganda biadab amat keji untuk membunuh para petani yang menanam cengkeh dan tembakau di negeri ini.

 

Sumber foto: YouTube, gambar film setelah Aidit mematikan rokok di asbak.

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar