Lain-Lain

Yang Terampas dan Yang Punah

mesuji
Arpan Rachman
Ditulis oleh Arpan Rachman

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
– Chairil Anwar

 

Memang benar. Di Indonesia, penggusuran massal telah menjadi modus operandi dari pemerintah yang frustrasi untuk mengembangkan industrinya. Konflik lahan merenggut banyak korban jiwa. Aparat dan cukong seperti hantu gentayangan menakut-nakuti nyali dan mencabut-cabuti nyawa anak-anak negeri ini.

Walau rezim Soeharto telah lama tumbang, agenda Reformasi mulai banyak dicuri antek-anteknya yang masih berkuasa sampai kini. Tak hanya pengusiran di kota-kota, bahkan di tengah hutan pun jadi.

Budiman Sudjatmiko pernah menjelajahi Mesuji, saat itu salah satu titik terpanas konflik pertanahan di Indonesia. Memoarnya Anak-anak Revolusi – di buku 2 khususnya halaman 445–497, terasa benar situasi genting itu sangat mengerikan.

Ia bercerita pengalamannya sampai ke dusun di balik perkebunan karet dan sawit di Desa Kagungan Dalam, Register 45, dan Sungai Sodong, di perbatasan Lampung-Sumatra Selatan. Alhasil, tulisnya getir:

“Ah… tanah dan mata air,
masih saja menjadi sumber air mata di tanah airku…”

Selain memoar Budiman, tersebutlah cerita klasik tentang perampasan lahan. Sebut saja, Y. Dia bukan orang miskin. Bapaknya penilik sekolah dan ibunya kepala Sekolah Dasar. Dia mengajari kawan-kawannya bermain scrabble, gitar, dan piano di rumahnya. Rumahnya di sudut lorong sempit di pusat kota, amat jauh dari kesan mewah bagi ukuran orang tuanya: sepasang suami-istri, pegawai negeri berpangkat tinggi.

Alkisah, Y pernah mudik ke kampung halamannya: sebuah dusun di kawasan Mesuji, Sumatra Selatan. Suatu hari, di tahun 1995, berdua sahabatnya dia menumpang bus dari Palembang ke arah tenggara, menempuh perjalanan dua jam lamanya. Di bilangan dusun dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir itu, Y dan keluarganya mewarisi rumah, tanah, dan kebun.

Sang paman menangkap seekor ikan dari sungai, Y dan sahabatnya makan berlauk ikan besar, siang itu. Malamnya, kedua pemuda dari kota itu pergi ke rumah ketua lingkungan. Di sana, sudah berkumpul para penduduk dusun. Mereka membahas jual-beli lahan yang tak pernah mereka sepakati. Sementara janji pemerintah kepada warga untuk dijadikan petani plasma hanya omong kosong belaka.

Peninggalan leluhur yang selama berabad-abad terjaga itu akhirnya lepas terampas ke tangan pengusaha yang bermufakat jahat dengan penguasa. Y terpaksa kehilangan warisannya di dusun itu. Termasuk kebun durian, di mana… “Harimau Sumatra yang liar sering berkeliaran di sini,” pamannya bercerita.

Katanya, harimau mengincar buah yang jatuh dan kulitnya setengah terbuka. Lewat indera penciuman yang tajam, Si Raja Hutan selalu hapal durian paling lezat untuk santapan. Konon harimau mengupas durian dengan gigi taring dan kukunya sendiri. Sisa kerakusannya khas sekali: durian jatuh di bawah pohon dengan kulit yang sudah menganga, isinya habis, licin tandas tak ada lagi secuil daging buah pun di dalam cangkangnya! Bisa dipastikan itu durian paling harum dari seluruh pohon di kebun.

Y dan harimaunya kehilangan lahan. Mereka berdua menelan nasib sepahit empedu. Kelak akhirnya lahan di sekitar dusun itu disulap jadi areal perkebunan raksasa, yang terhampar dengan sombongnya. Bahkan di hadapan keturunan para penduduk asli dan kawanan harimau yang mulai punah, di mana habitatnya telah dikangkangi perusahaan seizin pemerintah.

Sahabat akrabnya pergi tak pernah kembali. Tapi terus dicekam kenangan buruk tentang lahan warisan Y yang terampas dan harimau yang berlari makin jauh dari kebunnya. Terus saja cerita seperti itu menjadi kegetiran yang tetap berulang kali terjadi. Terus, sahabatnya itu menulis kisah ini.

 

 

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar