Lain-Lain

Menolak Reklamasi Teluk Benoa

bali
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Bali dalam konteks pariwisata adalah mutiara utama di Republik Indonesia. Beragam gelar adilihung disematkan kepada Bali. Mulai dari “Pulau Dewata”, “Pulau Seribu Pura”, hingga “tempat yang mesti dikunjungi sebelum kamu mati”. Ditambah serbaneka penghargaan bergengsi kelas dunia seperti pada 2014 oleh majalah Travel+ Leisure, Bali dianugerahi peringkat kedua sebagai pulau terbaik di dunia.

Eksotisme Bali yang mencengangkan tersebut berujung pada serbuan investor. Berlomba-lomba mereka mencoba meraih sekeping hingga segepok pundi-pundi keuntungan. Di periode awal fenomena ini masih cukup bisa dimaklumi. Dengan mengatasnamakan “pembangunan” serta “kemajuan”, Pulau Bali berkembang begitu pesat. Belakangan, kompetisi untuk merebut profit mulai mengarah ke wilayah tak sehat: “pembangunan” dan “kemajuan” tergelincir menuju “eksploitasi” dan “degradasi”.

Contoh ketamakan investor tercuat vulgar di rencana reklamasi Teluk Benoa. Demi menggaet keuntungan berlipat-lipat, para pemilik modal menggelontorkan niat mengurug laut lalu membuat pulau-pulau baru. Segala fasilitas modern turisme hendak dibangun di situ. Ini bukan saja berarti berkhianat pada spirit Bali yang lekat dengan adat dan budaya, juga jahat pada kelestarian lingkungan hidup. Belum lagi Bali yang sudah kelebihan ribuan kamar—tak perlu lagi dibangun hotel sebab sudah amat berlebih—serta trauma yang belum hilang atas kegagalan reklamasi Pulau Serangan yang terbukti menghancurkan garis pesisir dari Serangan, Sanur, hingga jauh ke Utara.

Demi mencapai tujuan mengurug Teluk Benoa, investor tiada segan-segan menempuh jalur lancung. Yang paling mutakhir, mereka berupaya mengkriminalisasi aktivis penolak rencana reklamasi I Wayan “Gendo” Suardana sekaligus membungkam perlawanan desa adat. Para pengemban jabatan penting di pemerintahan, aparat bersenjata, serta barisan ormas pun ramai-ramai dikerahkan untuk mengintimidasi gerakan anti investor tersebut.

Gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa selama ini didukung oleh sejejeran artis dan pegiat seni yang menunjukkan kepeduliannya terhadap kelangsungan lingkungan hidup di Bali maupun di tempat lain. Iwan Fals, Sandy Sondoro, Glenn Fredly adalah sederet nama artis nasional yang menyuarakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Mereka mewakili suara masyarakat luas yang sedih, kecewa, dan marah atas langkah sistematis penghancuran Bali tersebut.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar