Industri Hasil Tembakau

Melindungi Industri Hasil Tembakau Dalam Negeri

tembakau-virginia
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tidak semua jenis tembakau itu sama. Begitupun semua rokok tidak memakai jenis tembakau yang sama. Setidaknya di dalam sebatang rokok ada 3 jenis tembakau. Satu merek rokok bahkan bisa mengandung hingga 8 jenis tembakau.

Tembakau satu daerah tidak bisa digantikan dengan tembakau daerah lain. Tembakau Temanggung berbeda dengan tembakau Bojonegoro, berbeda dengan tembakau Madura. Semua punya karakter masing-masing.

Tembakau yang diproduksi petani kita mulai tidak kompatibel dengan kebutuhan industri. Penawaran tidak sesuai dengan permintaan. Tembakau yang diproduksi para petani kebanyakan masih berupa tembakau lokal yang tinggi nikotin. Sementara kebutuhan pabrikan, sesuai dengan kebutuhan pasar, adalah tembakau rendah nikotin.

Salah satu tembakau dengan permintaan pasar yang tinggi adalah berjenis Virginia FC. Varietas ini kebanyakan didatangkan dari Amerika Serikat dan juga Brazil. Sebagian besar tembakau yang diimpor memang jenis Virginia yang dibutuhkan untuk rokok mild dan putihan. Dari impor tembakau yang berkisar 160 ribu hingga 180 ribu ton per tahun, sekitar 150 ribu ton di antaranya adalah jenis Virginia. Tembakau Virginia ini punya karakter daun lebih tipis dan lebih elastis. Lebih rendah nikotin.

Kalau dibiarkan terus tanpa ada solusi, maka bisa tidak baik bagi industri hasil tembakau di Indonesia. Karena para petani menanam tembakau yang makin ‘tidak dibutuhkan’ oleh industri. Selama ini petani tembakau di Indonesia, terutama petani di kawasan Temanggung, jarang ada yang mau menanam varietas Virginia. Sebab prosesnya lebih repot dan harganya lebih murah.

Di sisi lain, pemerintah membuat keputusan aneh. Tembakau impor dikenakan bebas pajak. Sementara tembakau lokal dikenakan pajak penghasilan. Dengan harga yang lebih murah, tembakau impor memang tampak lebih menguntungkan. Tapi tentu saja ini akan mematikan tembakau lokal.

Pabrikan, alias industri rokok, tentu akan memilih untuk memproduksi rokok yang disukai pasar, alias mild. Sedangkan petani tembakau harus mulai memikirkan untuk menanam tembakau varietas lain, dalam hal ini adalah Virginia. Pemerintah sebagai pihak penentu kebijakan seharusnya bisa memberikan proteksi terhadap tembakau lokal. Karena tidak bisa begitu saja mengurangi impor tembakau, langkah mengenakan pajak bagi tembakau impor adalah langkah yang paling masuk akal.

Sesungguhnya sudah ada upaya dari pabrikan untuk merespons permintaan pasar dengan menanam Virginia. Dua daerah penghasil Virginia terbesar adalah Lombok dan Bojonegoro.

Di Bojonegoro, harga tembakau Virginia rajangan adalah Rp21 ribu per kilogram. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, harga tembakau Virginia kualitas baik berada di kisaran Rp39 ribu per kilogram. Lombok adalah daerah yang menjadi sentra pertanian tembakau Virginia terbesar di Indonesia. Luas lahan perkebunan tembakau Virginia di sana berkisar 18 ribu hektare.

Virginia Lombok ini membutuhkan setidaknya 10 tahun agar bisa mantap sebagai sebuah sistem budidaya. Menanam tembakau termasuk budidaya tanaman yang tidak mudah. Butuh sistem, kehati-hatian, perawatan yang ekstra, dan tentu saja adalah perlakuan pascapanen. Dan tembakau Virginia Lombok ini membuktikan pula bisa diekspor. Produksi tembakau Virginia tahun ini sekitar 29 ribu ton.

Memang tidak semua hasil tembakau Indonesia diserap untuk penggunaan dalam negeri. Indonesia juga dikenal sebagai pengekspor tembakau. Tahun 2014 ada sekitar 17 ribu ton tembakau yang diekspor. Tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat. Tahun 2015 Amerika Serikat sudah mengimpor 2.624 ton tembakau Indonesia.
 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar