Lain-Lain

Kerusakan Lingkungan Penyebab Utama Bencana Garut

bencana-di-tanah-legenda
Array
Ditulis oleh Array

Curah hujan yang  tinggi merupakan salah satu penyebab banjir di wilayah Garut. Korban yang meninggal dunia akibat banjir ini pun terus bertambah. Dilansir oleh Anataranews.com (26/09/2016), data korban meninggal dunia di Posko Tanggap Bencana Makodim 0611 Garut mencapai 36 orang dan 19 orang lainya masih dilaporkan hilang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bahwa  35 orang luka-luka dan 6.361 orang mengungsi.

Banjir bandang ini merupakan akibat meluapnya air Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut. Selain menghilangkan nyawa, banjir ini menyebabkan kerugian secara materil sejumlah fasilitas umum terendam seperti RSUD Dr. Slamet Garut, Kantor Kecamatan Tarogong Kidul, Rumah Sakit Paru-Paru, dan SLB C YKB Garut. Pendataan sementara BNPB terdapat 2.049 rumah rusak yang meliputi 283 rumah hanyut, 605 rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang, dan 961 rumah rusak ringan.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (THP) Kabupaten garut melaporkan, luas lahan pertanian yang terkena banjir bandang mencapai 126 ha, 118 ha terdiri dari areal sawah padi dan 8 ha merupakan lahan tanaman jagung. Kerugian produksi yang diakibatkan bencana ini diperkirakan mencapai 672.000 kg gabah kering panen dan 56.000 kg jagung. Taksiran kerugian ekonomi akibat bencana ini di sektor pertanian mencapai Rp2,8 milliar.

Kerusakan lingkungan merupakan penyebab utama bencana ini. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) Jawa Barat, Anang Sudarna, memprediksi penyebab banjir bandang ini diakibatkan oleh hulu sungai yang rusak. Menurut Catatan Akhir Tahun Lingkungan Hidup Walhi Jawa Barat, berdasarkan data BP DAS Kementrian Kehutanan tahun 2013, luasan lahan kritis di Jawa Barat mencapai 329 ribu ha. Sementara lahan kritis yang ada di DAS strategis di Jawa Barat mencapai 137.417,52 ha, luasan lahan kritis di Cimanuk sendiri mencapai 38.180,80 ha.

Penyebab kerusakan lingkungan di hulu sungai Cimanuk yang memiliki luas mencapai 16.367 ,74 ha, adalah adanya aktivitas pertanian, wisata alam, tambang dan geotermal.  Selain itu Perhutani dengan   pola Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) belum terbukti bisa memanfaatkan kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang menjadi pembukaan lahan di luar tugas pokok dan funginya.

Tidak maksimalnya pembangunan Bendungan Copong, berdampak pada daya tampung air yang terbatas. Kejadian banjir bandang ini merupakan akumulasi dari kerusakan DAS Cimanuk juga daya guna lahan yang semakin memburuk. Pemerintah Daerah Garut harus mengupayakan untuk merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut, adanya audit kinerja Perhutani, adanya audit serta kajian Bendungan Copong, konsep pennggunaan penggunaan tata guna lahan dan kawasan di Gunung Papandayan, Cikuray, dan Mandalagiri, serta menganalisa sejarah banjir Cimacan.

 

Sumber gambar: Array

Tentang Penulis

Array

Array

Pesepeda, penjual komik, pemuda Pangalengan.

Tinggalkan komentar