Lain-Lain

Warga Bertahan di Lokasi Penggusuran Stasiun Barat Bandung

warga penggusuran stasiun barat bandung
Array
Ditulis oleh Array

Hingga saat ini (13/8) warga Stasiun Barat tetap menjaga semangat dengan mengadakan pagelaran musik. Ketidakpastian pemerintah kota Bandung menyebabkan mereka masih bertahan dan mendirikan tenda. Solidaritas pun dibangun oleh berbagai kolektif. Di antaranya Rumah Bintang, Rumah Sarasvati, Perpusjalanan, Homelles Dawg, juga elemen masyarakat lainya untuk turut mendukung secara moril terhadap warga yang tergusur.

Berbagai kegiatan diinisiasi, terutama yang berkaitan dengan penyembuhan trauma akibat penggusuran. Terhitung sejak Selasa (9/8), banyak kegiatan yang dilakukan bersama warga. Kegiatan difokuskan pada penyembuhan trauma anak-anak. Antara lain lokakarya mencelup pakaian (tie dye), menggambar/mewarnai bersama, hingga lokakarya cetak saring (sablon). Cara tersebut cukup efektif untuk membuat keceriaan sementara di antara ketidakpastian masyarakat Stasion Barat.

Kebingungan melanda para orang yang tak bisa menjelaskan kondisi rumah mereka pada anak-anaknya. Penggusuran dilakukan saat anak-anak sedang bersekolah.

Penggusuran dilakukan pada tanggal 26 Juli 2016 yang lalu. Secara mendadak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Penggusuran ini bermula dari surat yang sampai ke warga pada tanggal 24 Maret 2016. Ditandatangani oleh Ketua Tim Penertiban Aset Daop 2 Bandung, Bayu Hartono. Surat tersebut berisi perintah pada warga untuk membongkar serta mengosongkan kios, selambat-lambatnya hari Minggu, 27 Maret 2016. Sepanjang Jalan Stasiun Barat terdapat 47 bangunan yang dihuni oleh 70 kepala keluarga (KK).

Sementara itu, relokasi yang direncanakan pada hari Jumat(12/8) tidak terlaksana. Nofidi Ekaputera,  Camat Andir mengatakan pihaknya mengutamakan warga yang memiliki kartu identitas penduduk (KTP) kota Bandung untuk direlokasi ke apartemen rakyat. Terdapat 53 KK yang berdomisili di Bandung. 20 KK akan direlokasi ke apartemen rakyat Rancacili serta 33 KK ke apartemen rakyat Sadang Serang. Untuk tahap awal relokasi dipusatkan di Rancacili.

Penggusuran tanpa pemberitahuan ini sudah berulang kali terjadi. Relokasi yang ditawarkan selalu tidak sesuai dengan kebutuhan warga. Perlu adanya kepastian tentang kelayakan dan kenyamanan hunian baru. Menggusur ruang hidup sama dengan menggusur kehidupan.

 

Sumber foto: fokusjabar

Tentang Penulis

Array

Array

Pesepeda, penjual komik, pemuda Pangalengan.

Tinggalkan komentar