Lain-Lain

Nongkrong: Refleksi atas Aktivasi Waktu Luang dan Ruang Publik di Kota Bandung

darurat militer
Audry
Ditulis oleh Audry

Peristiwa pemukulan yang diduga dilakukan oleh prajurit Kodam III Siliwangi terhadap penggiat literasi Perpustakaan Jalanan di Taman Cikapayang, Bandung pada Sabtu malam 23 Agustus 2016 dapat dikatakan merupakan tamparan telak bagi kota yang selama ini mengklaim sebagai ‘kota kreatif’ dan ‘kota ramah HAM’.

Memang pemukulan yang dilakukan oleh anggota Kodam III masih dalam status ‘terduga’, namun pembubaran secara paksa yang dibarengi dengan aksi pemukulan merupakan preseden buruk bagi hak warga atas sebuah ruang publik.

Pihak Kodam sendiri melalui Kepala Penerangan M. Desi Arianto menjelaskan bahwa aksi pembubaran tersebut dilakukan atas instruksi dan kerja sama dari pemerintah kota Bandung dan aparat kepolisian dalam rangka penertiban ‘geng motor’ yang dianggap meresahkan warga. Bahkan Arianto juga mengatakan bahwa aktivitas membaca dan menginisiasi perpustakaan terbuka hingga pukul 23.00 WIB merupakan aktivitas yang sudah terlampau larut serta tidak lazim. Hal itu disebabkan, seharusnya aktivitas perpustakaan dilakukan pada siang hari dan dapat dikatakan bahwa penerangan di Taman Cikapayang tidak memadai dalam menunjang aktivitas membaca.

Tidak lazim?

Komunitas Perpustakaan Jalanan sendiri merupakan komunitas anak muda yang telah berdiri sejak 2010. Aktivitasnya sendiri dapat dikatakan tidak pernah mendapat keluhan dari warga. Bahkan pemilihan Taman Cikapayang sendiri didasari aspek spasial Dago sebagai medan strategis anak muda dalam mengaktivasi dan menginisasi identitasnya sejak 1980-an (Lihat Prasetyo, 2014).

Grup Vokal Pahama melalui lagu Oplet Dago juga sempat menggambarkan Dago sebagai tempat (wilayah) untuk menunggu teman, angkutan umum, hingga melakukan aktivitas nongkorng. Begitu juga dengan Taman Cikapayang yang menjadi simpul pertemuan antara anak muda yang sedang nongkrong, mengisi waktu luang, sekedar jajan hingga para pedagang yang menjual penganannya sebagai teman bercerita hingga menikmati keramaian jalanan Dago. Kemudian, apabila penerangan Taman Cikapayang dianggap tidak layak, tentu menjadi pekerjaan bagi pemerintah kota Bandung untuk ‘memfasilitasi obsesinya’ dalam meresureksi Bandung sebagai kota taman bukan?

Selain itu, dalam perspektif historis dapat dikatakan bahwa Bandung memiliki tradisi dalam melakukan aktivitas nongkrong. Dalam Wajah Bandung Tempo Doeloe (1984), Haryoto Kunto mengatakan bahwa pada periode kolonial Belanda, masyarakat Bandung memiliki kebiasaan nongkrong di malam hari, sembari menikmati segalan jenis penganan, pertunjukkan hingga berkontestasi dalam wujud fashion, eksibisi kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Begitu juga kemunculan komunitas anak muda yang banyak memanfaatkan dan mengaktivasi sarana taman hingga trotoar sebagai sarana nongkrong, mengisi waktu luang, hingga berkontestasi dengan beragam identitas, dari Jalan Tamblong di era 1970-an, komunitas pencinta motor tua pada era 1980-an, komunitas skateboard di Taman Lalu Lintas, punk di belakang pelataran Bandung Indah Plaza, hingga beragam rumah yang kemudian dikonstruksi dan diinisasi menjadi ‘ruang komunitas’ sejumlah komunitas anak muda di Bandung pada awal dekade 2000-an. Dapat dikatakan, mayoritas musik, karya seni, literasi, hingga beragam aktivitas warga –dalam hal ini anak muda— yang kemudian dilabeli oleh pemerintah kota dengan ‘cap kreatif’, tentu tidak dapat dipisahkan dari aktivitas nongkrong.

Mungkin banyak yang mempertanyakan perihal ‘ketidakkreatifan’ anak muda dengan segala keterbatasan yang terkondisikan atau (mungkin) dikondisikan oleh pihak-pihak yang selama ini dianggap memiliki kuasa dan kewenangan atas ‘warganya’. Bahkan, ada pula yang mempertanyakan alasan di balik pemilihan waktu nongkrong di malam hari.

Namun, sebelum anda menghakimi ‘ketidakreatifan’ sebuah kelompok, ada baiknya anda memahami terlebih dahulu pra-kondisi dan kondisi yang mempengaruhi aktivitas dan identias mereka (Perpustakaan Jalanan) untuk berkumpul di malam hari. Melalui pernyataan resminya di akun media sosial facebook, Perpustakaan Jalanan mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka merupakan anak muda yang sehari-harinya tidak memiliki waktu luang untuk beraktivitas pada siang hari dengan alasan bekerja. Sudah jelas bahwa dengan latar belakang kesibukan mereka sebagai pekerja, mereka memanfaatkan Sabtu malam sebagai waktu mereka untuk mengisi waktu luang, bercengkrama hingga belajar dengan teman-teman lainnya hingga warga sekitar selepas bekerja.

Selain itu, bukankah membuka perpustakaan di ruang publik (taman) merupakan sebuah bentuk eksperimen warga untuk mereduksi kesan perpustakaan yang tertutup, angkuh, hingga waktu operasional yang dibatasi hanya sampai sore hari? Lalu, melalui Perpustakaan Jalanan yang tidak hanya membatasi aktivitasnya dengan kegiatan membaca dan pinjam buku justru akan membuka kemungkinan lainnya, di antaranya dalam wujud berinteraksi atau membicarakan buku yang telah dibaca bersama temannya dan pengurus perpustakaan.

Dari kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa tindakan pemukulan yang dilakukan oleh ‘terduga’ hingga beragam komentar sinis atas ‘ketidakkreatifan’ mereka tidak didasari atas pembacaan objektif terlebih dahulu atas sebuah kenyataan yang terjadi dalam kotanya. Tentu, sebuah kebudayaan dan kreativitas yang dihasilkan oleh warganya akan selalu bersifat dinamis. Dalam hal ini ruang dan waktu luang merupakan kata kunci yang turut mempengaruhi proses kreativitas dan kebudayaan di sebuah kota.

Setiap warga tentu memiliki imajinasi tersendiri dalam megaktivasi waktu luangnya. Ada yang menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku dan berkumpul dengan teman-temannya di rumah, restoran, café, pusat perbelanjaan. Ada pula yang memilih untuk menyambangi pameran seni di sebuah galeri, memproduksi karya seni di studio miliknya atau menggunakan studio milik kampus secara bersamaan. Hingga, ada pula yang menghabiskan waktu luangnya dengan membaca dan menongkrong di sebuah taman, dinamis bukan?

Inisiatif sebuah warga dalam berkesperimen dan mengaktivasi ruangnya sudah seharusnya mendapat dukungan. Buku dan nongkrong merupakan aktivitas kebudayaan. Tentu apabila sebuah bentuk kebudayaan dibatasi, maka tidak heran apabila di kemudian hari akan terdapat sebuah kota yang mengalami kegagalan dalam mewacanakan ‘kota kreatif’ dan ‘ramah HAM’.

 

Bacaan penunjang:

Iskandar, Gustaff H. 2006. “Fuck You! We’re From Bandung!-MK II”, dalam Adlin, Alfathri (ed.), Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, Yogyakarta, Jalasutra

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: PT. Granesia

Prasetyo, Frans Ari. 2014. Ruang dan Memori Kolektif Anak Muda. Makalah yang digunakan sebagai pengantar diskusi “Kultur Anak Muda di Bandung” dalam Pekan Sejarah 2014, Jatinangor, 26 November 2014

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160823092812-20-153180/kodam-siliwangi-bubarkan-perpustakaan-jalanan-di-bandung/

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/22/058797844/tentara-bersenjata-bubarkan-perpustakaan-jalanan-bandung

https://www.facebook.com/perpustakaanjalanan/?hc_ref=NEWSFEED&fref=nf

 

Sumber gambar: @matamerahcomix

 

 

 

 

Tentang Penulis

Audry

Audry

Tertarik pada sejarah, budaya, anak muda, musik, dan sepak bola

Tinggalkan komentar