Industri Hasil Tembakau

Cuaca Tak Menentu, Petani Tembakau di Klaten Khawatir Merugi

tembakau
Andika Tazaka
Ditulis oleh Andika Tazaka

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten, Kadarwati, menjelaskan kekhawatiran petani tembakau dengan kondisi cuaca berupa hujan saat musim kemarau. Hujan ini mengakibatkan perkembangan tanaman tembakau tak maksimal, sehingga  tembakau mengalami liyer alias layu.

Peluang kerugian yang dialami petani tembakau ketika terjadi gagal panen berkisar Rp25 juta per hektare. Kalau sinar matahari tidak ada dan masih terus hujan, peluang kerugian itu semakin besar.

Intensitas hujan yang terlampau tinggi membuat tanaman mudah rusak dan mengancam kualitas panen. Hujan dengan intensitas tinggi menjadikan tanaman tembakau layu dan sulit berkembang di masa awal penanaman.

Di Klaten terdapat tiga jenis tembakau yang ditanam petani; rajangan, asepan, dan suncured. Dari ketiga jenis tersebut, hanya tembakau jenis asepan yang tidak terlalu terpengaruh cuaca. Tembakau rajang dan suncured mengandalkan matahari. Kedua jenis tembakau ini kalau ada hujan, petani hanya pasrah. Berbeda dengan tembakau asepan, masih dapat diselamatkan karena di dalam oven.

Ketua Koalisi Nasional Penyelamat Kretek (KNPK) Klaten, Aryanta Sigit Suwanta, mengatakan tembakau yang baik merupakan tembakau dengan kadar air terendah saat dipanen. Namun intensitas hujan saat ini sudah melebihi ambang batas aman tanaman tembakau. Terbukti banyak yang layu hingga busuk. Ini terjadi karena terlalu banyak air yang diserap, sementara tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air.

Luas lahan tanam tembakau di Klaten mencapai 80 hektare pada tahun ini. Kendati demikian, belum diketahui berapa total lahan tanam tembakau yang terserang penyakit maupun hama. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menanam tembakau sekitar Rp20 juta per hektare. Saat ini di Klaten, sudah ada lebih dari 20 ribu petani, baik itu petani penggarap hingga petani pengrajang.

Para petani tembakau juga berharap Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di Klaten berpihak pada petani. Terlebih karena DBHCHT sebesar 30 persen berasal dari hasil produksi se-kabupaten.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Andika Tazaka

Andika Tazaka

Penyuka teks, gambar, dan pemandangan.

Tinggalkan komentar