Lain-Lain

Tanah untuk KPU

husni kamil manik
Arpan Rachman
Ditulis oleh Arpan Rachman

Obituari Husni Kamil Manik 

Dia menginginkan Komisi Pemilihan Umum yang mandiri. “Salah satu wujud kemandirian itu kita ingin punya kantor tetap dan itu merupakan bagian dari hibah pemerintah,” katanya ketika saya wawancarai di Makassar, Jumat, 4 Januari, tiga tahun silam.

Kamis, 30 April 2015 – Husni menetapkan Peraturan KPU No.7/2015. Terurai pada Pasal 2, penyelenggara Pemilihan berpedoman pada 13 asas. Butir (a) tertulis: mandiri. Belum diketahui, apakah sejenis petunjuk teknis tentang PKPU itu sudah terbit untuk menjabarkan kata “mandiri” di butir (a) Pasal 2 itu. Jika memang belum ada, kalau boleh usul, bunyinya kira-kira begini: “Mandiri yang dimaksud dalam Pasal 2 butir (a) adalah memiliki kantor di atas tanah milik sendiri yang berasal dari hibah pemerintah.”

Tiba-tiba tersebar kabar duka, Kamis, 7 Juli 2016 –: Husni Kamil Manik meninggal dunia. Dia masih mengidamkan agar KPU berdiri di atas tanah milik sendiri. Bukan menempati gedung-gedung kantor yang dipinjamkan pemerintah seperti selama ini.

Tapi sayang, pemerintah pelit. Padahal tanahnya banyak, luas, di mana-mana, segunung-gunung, berbukit-bukit. Malah pemerintah tetap menggusur tanah yang ditempati rakyat dengan bengis layaknya zaman fasis Soeharto dulu.

Kata kunci keinginannya adalah “mandiri”. Sama dengan nama satu bank milik pemerintah. Tapi bedanya pemerintah tidak berhak memiliki KPU. Bila suatu saat kelak di kemudian hari pemerintah mau menghibahkan tanahnya untuk KPU, maka nama KPU tidak usah diubah jadi KPU Mandiri. Soalnya kalau bertempat di Jakarta, papan namanya akan tertulis: “KPU Mandiri Cabang DKI Jakarta”. Nanti malah dikira KPU milik pemerintah juga.

Husni belum sempat menggunting pita untuk masuk ke kantor baru bagi rumah demokrasi negeri ini. Rakyat pun seperti sedang hidup di zaman susah, jadi agak sulit mengumpulkan sumbangan sukarela dari kantong kita-kita. Padahal hanya perlu batu, pasir, semen, cat, paku, kayu – itu saja semua.

Kini, kata kuncinya itu telah ikut tertanam di liang lahat. Dia mendahului kita sebagai orang yang selamat. Kita mengingat impiannya yang terwujud pun tak sempat. Husni Kamil Manik telah wafat. Semoga Tuhan memberinya tempat yang terhormat.

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar