Industri Hasil Tembakau

Stigmatisasi Kretek Menyudutkan Perekonomian

petani tembakau
Harry S. Waluyo
Ditulis oleh Harry S. Waluyo

Di Kudus terdapat banyak industri hasil tembakau (IHT) atau lebih dikenal dengan kretek. Kretek merupakan heritage dan identitas Kudus. Ini diperkuat dengan fakta bahwa kretek pertama kali ditemukan oleh putra asli Kudus dan di Kudus pula.

Kretek menyimpan khazanah tak ternilai dalam kesejarahan Kudus dan masyarakatnya. Karena itulah kretek perlu diproteksi agar tidak terkikis oleh (mereka) yang anti kretek.

Pertimbangan kedua, diihat dari aspek ekonomi kerakyatan.  Kretek berkontribusi besar bagi perekonomian rakyat  dengan lapangan kerja. Belum lagi efek dominonya seperti pasar tradisional.

Kudus perlu segera memiliki Perda Perlindungan Kretek. Perlindungan kretek sangat penting karena adanya stigmatisasi oleh kelompok anti-tembakau.

Stigmatisasi yang dilakukan anti tembakau sangat mengancam dan berdampak berkurangannya tenaga kerja di sektor produksi, terutama untuk kretek tangan (KT). Urgensi Perda ini untuk menjaga keberlangsungan IHT yang berkontribusi besar bagi masyarakat, juga untuk menjaga tradisi dan budaya kretek, warisan nenek moyang yang memiliki nilai kebudayaan tinggi, mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, hingga pelestarian lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan olahraga.

Sekretaris Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Wilayah NU (LPP PWNU) Jawa Tengah, Helmi Purwanto mengatakan, Islam menyatakan tembakau halal. Sebagian besar ulama Islam, bahkan tidak hanya di kalangan Nahdlatul Ulama, juga menyatakan rokok dan tembakau halal. Tapi kenapa UU kesehatan yang sifatnya mengikat justru menyatakan haram. Ini jelas sangat merugikan petani.

UU Kesehatan yang berkaitan dengan tembakau,atau yang lebih dikenal dengan sebutan ayat tembakau, Ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan berbunyi , “Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya.”

UU tersebut menimbulkan keresahan petani tembakau di Jawa Tengah dan sejumlah daerah lain karena dikhawatirkan akan mematikan mata pencaharian mereka. Di Jawa Tengah luasan lahan yang ditanami tembakau sangat dominan, nyaris berbanding lurus dengan luas areal tanaman pangan. Petani khawatir UU Kesehatan malah menyudutkan perekonomian negara.

 

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar