Lain-Lain

Kementerian Kesehatan Bertanggung Jawab atas Beredarnya Vaksin Palsu

vaksin palsu
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Vaksin merupakan bahan antigenik untuk memperkuat sistem imun terhadap suatu penyakit. Bagaimana jika ternyata vaksin yang diterima anak-anak adalah vaksin palsu?

Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat pemalsu vaksin untuk balita. Disita barang bukti yakni 195 saset hepatitis B, 221 botol vaksin polio, 55 vaksin antisnake, dan sejumlah dokumen penjualan vaksin. Penyelidikan ini dimulai berdasarkan banyaknya laporan anak yang mengalami gangguan kondisi kesehatannya setelah diberikan imunisasi atau vaksin di beberapa puskesmas daerah.

Vaksin palsu ternyata sudah menyebar ke seluruh Indonesia sejak 2003. Ditemukan barang bukti vaksin palsu di tiga daerah, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Peredaran vaksin palsu terjadi di rumah sakit kecil atau klinik-klinik.

Para pelaku vaksin palsu itu menggunakan botol bekas vaksin yang kemudian diisi dengan antibiotik Gentacimin yang dioplos dengan cairan infus sebagai bahan dasar vaksin palsu, lalu diberi label. Supaya vaksin terlihat lebih sempurna, dipress dengan alat press kemudian dikemas dan dipacking lalu didistribusikan.

Pihak kedokteran saja susah membedakan mana vaksin yang asli dan palsu. Satu paket vaksin palsu dengan biaya Rp150 ribu dan dijual Rp250 ribu. Padahal harga vaksin asli dipatok Rp800-900 ribu per paket. Penyebarannya sudah menyeluruh di Indonesia

Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD mengungkapkan dampak terberat vaksin palsu ini bagi anak adalah akan terkena infeksi. Pembuatan vaksin palsu yang tidak steril dan tidak mengikuti prosedur seperti pembuatan vaksin asli tentu akan menimbulkan banyak kuman dan menyebabkan infeksi. Vaksin palsu tidak dibuat di laboratorium yang higienis, melainkan di sebuah gudang yang diubah menjadi tempat peracikan vaksin.

Gejala infeksi tersebut antara lain demam tinggi disertai laju nadi cepat, sesak napas, dan anak sulit makan. Jika anak hanya demam saja setelah divaksin, orangtua tak perlu khawatir, karena beberapa vaksin memang bisa membuat anak demam.

Menkes Nila Moeloek belum tahu pasti di mana saja peredaran vaksin palsu tersebut. Dia tengah mendata rumah sakit atau fasilitas kesehatan mana saja yang memakai vaksin palsu itu. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa peredaran vaksin palsu tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan. Meski memang tetap harus diwaspadai, namun Kemenkes memberi petunjuk agar para orang tua tidak perlu terlalu waswas dengan hal tersebut.

Kemenkes mengimbau orang tua yang khawatir anaknya disuntik vaksin palsu untuk melapor. Nila F. Moeloek mengatakan bahwa anak yang mendapat vaksin palsu seharusnya kembali diimunisasi. Sebab, mereka yang mendapat vaksin palsu tentu tidak mendapat manfaat kebal terhadap suatu penyakit.

Beredarnya vaksin palsu ini menimbulkan keresahan bagi orang tua yang memiliki bayi dan balita yang membutuhkan vaksin untuk kesehatan buah hatinya. Kementerian Kesehatan harus lebih bertanggung jawab. Vaksin abal-abal ini jelas mengancam kehidupan generasi penerus bangsa karena diperuntukkan bagi bayi yang baru lahir. Setelah dihadapi dengan beredarnya sejumlah barang abal-abal tak ber-SNI (Standar Nasional Indonesia), kini masyarakat harus dibayang-bayangi kekhawatiran lantaran beredarnya vaksin palsu.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar