Lain-Lain

Jualan dan Main di Pantai Losari

fitri jualan di pantai losari
Arpan Rachman
Ditulis oleh Arpan Rachman

FITRI, 52 tahun, seorang penduduk Bulogading di antara pedagang kaki lima yang berjualan pisang bakar di Pantai Losari, Makassar. Selain berdagang Pisang Eppe, dia juga menjual aneka jus dan minuman dingin.

“Setiap hari, laku dua sampai lima sisir pisang,” katanya. Kalau akhir pekan, biasanya terjual sampai sepuluh sisir, karena Pantai Losari ramai sekali.

Sore di awal Januari, tampak dua anaknya membantu Fitri berjualan. Sepasang remaja lelaki dan perempuan sibuk mengipas-ngipas nyala api dari arang supaya membesar dalam panggangan. Pisang dijepit dulu sampai berbentuk pipih, baru dibakar di atas nyala api, ditaburi saus dari gula kelapa. Lalu siap disajikan di piring.

Tak jauh dari situ, Afdal dan kawan-kawan bergegas setengah berlari di trotoar di sela ramainya kendaraan lalu-lalang. Mereka beradu cepat menuju ke jembatan dekat mesjid. Dari jembatan itu, 14 anak-anak semua bertelanjang bulat, terjun bebas, berenang sejauh ratusan meter melintasi selat untuk mencapai bangkai kapal karam di ujung sebuah teluk buatan.     bangkai kapal losari

“Tapi saya tidak selalu mau berenang. Orang tua saya melarang,” kata Afdal. Anak lelaki berusia 12 tahun yang bersekolah di SD Samiun itu bercerita bahwa setiap akhir pekan mereka bermain di pantai. Berenang-renang menantang ombak yang bergulung, tertawa riang, seperti tak ada persoalan yang merisaukan hati mereka.

Tapi ada persoalan yang membuat risau hati orang tua mereka. Tanah di Bulogading diakui negara sebagai milik orang lain. Kalau warga digusur, entah ke mana Fitri berjualan dan Afdal cs bermain. Mereka sudah begitu dekat dengan Pantai Losari. Pantai itu bagaikan halaman rumah mereka.(*)

 

Sumber foto: Arpan Rachman

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar