Industri Hasil Tembakau

Setoran Cukai Rokok Andalan Pendapatan Negara

Cukai
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Beroperasinya industri pengolahan tembakau dan cengkeh telah membuat negara memetik nilai pajak dan bea sejak awal abad ke-20. Bila dulu dipetik oleh pemerintah Hindia Belanda, maka sejak pasca-kolonial dipetik oleh pemerintah RI.

Perkembangan nilai penerimaan negara dari pajak dan bea ini terus menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun sejak cukai diberlakukan pemerintah Hindia Belanda. Dari setoran cukai rokok saja, tren ini tidak pernah anjlok.

Tahun 2000, pemerintah meraup setoran cukai dari perusahaan-perusahaan industri rokok sebesar Rp 11,29 triliun. Selang 12 tahun selanjutnya, penerimaan negara dari cukai sudah mencapai 7,5 kali lipat atau Rp 84 triliun.

Sumber daya industri ini menunjukkan kemampuan bersaingnya tanpa khawatir berhadapan dengan produk-produk rokok lainnya di pasar internasional.

Menurut Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, panen cukai rokok yang dikantongi pemerintah selalu melebihi target.

Tidak mengherankan bila pemerintah mengakui bahwa setoran cukai rokok menjadi salah satu andalan bagi pendapatan negara. Industri rokok kretek menggerakkan roda perekonomian nasional sebagai penyumbang cukai terbesar bagi pendapatan negara. Pada 2012, kontribusi cukai rokok hampir mencapai Rp 90 triliun.

Dengan tarif cukai yang terus meningkat, maka kontribusi perusahaan-perusahaan industri rokok untuk keuangan negara semakin besar.

Panen cukai ini dipetik pemerintah dari daerah-daerah yang banyak beroperasi industri rokok seperti Jawa Tengah. Tahun 2012, gabungan Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan kontribusi cukainya sebesar Rp 20 triliun. Tahun 2013 meningkat lagi Rp 24,67 triliun. Cukai rokok menyumbang 85 persen total penerimaan Ditjen Bea dan Cukai di Jateng/DIY, sedangkan untuk penerimaan pusat kedua provinsi menyumbang sebesar 30 persen.

Dengan kontribusi cukai rokok itu, Gappri pun merasa bangga karena nilai setoran cukai rokok jauh lebih besar bila dibandingkan dengan perusahaan tambang emas raksasa PT Freeport Indonesia.

Sumber daya industri rokok telah berbuah dengan kontribusinya bagi pendapatan negara baik dari cukai maupun pajak lainnya. Sumber daya industri ini juga yang membentangkan aktivitas ekonomi dari hulu ke hilir, dari para petani tembakau dan cengkeh beserta buruh-buruh yang dipekerjakan sampai perusahaan industri kretek dan buruh-buruh, serta pedagang pengecer dan asongan.

Dalam kaitan hulu ke hilir itulah yang menempatkan industri pengolahan tembakau dan cengkeh sebagai industri yang kuat dan stabil.

 

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar