Industri Hasil Tembakau

Peran Industri Pengolahan Kretek terhadap Pertumbuhan Ekonomi

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Di Provinsi Jawa Timur banyak terdapat industri pengolahan tembakau dan cengkeh. Ladang-ladang tembakau dan cengkeh hampir tersebar di seluruh daerah. Industri kretek terkonsentrasi di Surabaya, Malang, dan Kediri. Volume produksi industri pengolahan tembakau besar kontribusinya pada industri pengolahan di Jawa Timur.

Industri pengolahan tembakau dan cengkeh – dengan produk akhirnya rokok kretek – menempati kedudukan dan peran yang sangat signifikan dalam memberikan kontribusinya terhadap pertumbuhan industri pengolahan di Jawa Timur.

Dengan besarnya pendapatan dan sumbangan cukai – bukan hasil tambang atau produk pertanian lainnya – produksi industri kretek juga mampu menempatkan kota Kediri sebagai salah satu kota yang menghasilkan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang besar, yakni Rp 202,33 juta. Kota ini menempati urutan keempat di mana terdapat PT Gudang Garam Tbk yang tahun 2010 mencatatkan pendapatan Rp 32,97 triliun.

Kota Bontang di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kabupaten Mimika di Papua adalah peringkat pertama dan kedua sebagai kabupaten/kota yang terkaya di Indonesia yang bersumber dari produksi barang tambang gas alam dan emas. Peringkat ketiga ditempati Jakarta Pusat dengan PDB per kapita sebesar Rp 224,41 juta.

Kontribusi perusahaan rokok Gudang Garam telah menempatkan kota Kediri menduduki peringkat empat sebagai kota yang mempunyai PDB tertinggi. Namun juga perusahaan-perusahaan dari Kabupaten Kudus menunjukkan kontribusi mereka bagi penerimaan negara yang disetorkan melalui pembelian cukai rokok dalam jumlah Rp 15,1 triliun pada 2011. Tahun berikutnya mencapai Rp 19,7 triliun.

Dengan banyaknya perusahaan rokok kretek yang beroperasi, terutama yang besar dan sedang, Kabupaten Kudus dapat meraup produk domestik regional bruto (PDRB) hampir Rp 29 triliun pada 2009 dan pajak tak langsung (netto) lebih dari Rp 12,5 triliun pada tahun yang sama.

Kontribusi setoran cukai lebih lagi disumbangkan oleh PT HM Sampoerna dengan jumlah Rp 21 triliun pada 2009.

Sedangkan Kabupaten Temanggung – sebagai penghasil tembakau terbaik dengan kualitas srintil – menuai panen setoran cukai yang dialokasi dalam bentuk dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH-CHT) sebesar Rp 10,05 miliar pada 2009 atau lebih dari seperempat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pemerintah pusat, dan bertambah pada 2010 menjadi Rp 13,67 miliar atau 24,81 persen PAD. Bahkan ketika panen tembakau di Temanggung sebagai satu titik hulu dari industri pengolahan tembakau, perputaran uang mencapai lebih Rp 1 triliun.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar