Industri Hasil Tembakau

Pemenuhan Hak atas Jutaan Pekerja

pekerja tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Apa pun tudingan yang dialamatkan berbagai elemen baik pada tingkat global maupun tingkat nasional, industri pengolahan tembakau dan cengkeh telah memberikan kontribusinya bagi pemenuhan hak atas pekerjaan yang diperoleh jutaan orang.

Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia (Gappri) menyebut 33 juta buruh. Partisipasi Indonesia menyebut jumlah sebanyak 30,5 juta orang. Koalisi Nasional Penyelamat Kretek (KNPK) menyebut sebanyak 30 juta pekerja.

Seorang pakar tembakau, Syamsul Hadi, yang diundang DPR menyatakan kontribusi bagi penciptaan lapangan kerja dari industri rokok dan yang terkait dengannya mencapai 24,4 juta dengan rincian 1,25 juta orang bekerja di ladang-ladang tembakau, 1,5 juta orang bekerja di ladang cengkeh, dan sekurang-kurangnya 10 juta orang terlibat langsung dalam industri rokok.

Mantan Rektor Universitas Jember Prof. Dr. Kabul Santoso MS – juga sebagai pakar tembakau – mengungkapkan, ada sekitar18 juta orang mulai dari hulu sampai hilir yang hidup dari industri rokok kretek di mana sekitar delapan juta orang menggantungkan hidup sebagai petani tembakau.

Sedangkan perkiraan Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) lebih kecil lagi, yakni sebanyak hampir 6 juta orang bekerja dalam industri pengolahan tembakau di Indonesia.

Ketua Dewan Pertimbangan organisasi HKTI Siswono Yodo Husodo, memperkirakan jumlah petani dan buruh yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam industri rokok mencapai 30,5 juta orang. Perkiraannya, jumlah petani dan buruh tembakau sebanyak 6 juta orang, petani dan buruh cengkeh 1,5 juta orang, serta buruh linting kretek sebanyak 600.000 orang.

Gabungan keseluruhannya adalah 30,5 juta orang baik yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kretek, juga para pedagang eceran, asongan, pekerja industri kreatif dan percetakan. Gambaran ini memperlihatkan banyaknya orang yang menggantungkan hidupnya dalam industri pengolahan tembakau dan cengkeh.

Serikat Pekerja Rokok Tembakau, Makanan dan Minuman (SP RTMM) memperkirakan, sebanyak 4 juta orang terlibat langsung sebagai pekerja. Bila setiap pekerja menanggung tiga orang lagi dari anggota keluarganya, maka 24 juta orang yang menggantungkan hidupnya dalam industri rokok. Sedangkan dalam perkebunan tembakau, jumlahnya orang yang terlibat mencapai 2,5 juta petani.

Data lainnya dihimpun Akhyar Rais dalam tulisannya yang memperkirakan jumlah pekerja yang terserap baik langsung maupun tidak langsung dalam industri rokok pada 2006, secara keseluruhan mencapai sekitar 6,5 juta orang. Jumlah petani tembakau adalah yang terbanyak, 2,4 juta orang. Data ini memasukkan pula jumlah pedagang dan pekerjanya, serta jumlah pekerja di bidang percetakan dan transportasi.

Tidak bisa diingkari bahwa banyak orang yang terlibat dalam rangkaian kerja produksi industri pengolahan tembakau dan cengkeh, yang membentang mulai dari Aceh sampai Papua kendati terkonsentrasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Maluku dan Sulawesi Utara. Kendati tanpa menjadi kewajibannya – sebagaimana halnya negara terutama pemerintah – berbagai industri pengolahan tembakau dan cengkeh telah memainkan perannya dalam memberikan kontribusinya bagi pemenuhan hak atas pekerjaan.

Sekitar 6,5 juta orang sudah dipenuhi haknya oleh berbagai perusahaan – bukan atas dasar kewajiban – melainkan karena kebutuhan sebagai implikasi dalam relasinya dengan tenaga kerja (labour power) yang saling membutuhkan. Angka ini lebih besar jumlahnya ketimbang rencana pemerintah yang berencana memenuhi kurang dari 5 juta orang untuk mendapatkan hak atas pekerjaan, namun dengan nilai investasi yang mencapai Rp 2.225 triliun.

Berdasarkan data yang disajikan Widyastuti Soerojo, selama 1996-2001, sebagian orang yang menggantungkan hidupnya dalam perkebunan tembakau, jumlahnya mengalami fluktuasi. Pada 1996, jumlah petani tembakau sebanyak 668.844 orang. Ketika krisis moneter pada 1997, mengalami peningkatan yang pesat menjadi 893.620 petani, namun sempat anjlok setahun kemudian.

Tahun-tahun selanjutnya kembali menunjukkan kecenderungan meningkat, bahkan mencapai titik tertinggi pada 2001, yakni sebanyak 913.208 orang. Perkebunan tembakau menjadi salah satu sumber ekonomi yang kembali menemukan kebangkitannya sesudah krisis finansial itu. Kebangkitan ini dapat ditarik korelasinya dengan perkembangan industri rokok yang terus menanjak tanpa terpengaruhi oleh krisis yang sempat melanda Asia Tenggara, terutama Indonesia.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar