Industri Hasil Tembakau

Melawan Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia

tembakau
Harry S. Waluyo
Ditulis oleh Harry S. Waluyo

Majelis Kesehatan Dunia menyerukan kepada seluruh negara anggota World Health Organization (WHO) untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) tiap tanggal 31 Mei. Tujuannya adalah mengajak orang untuk tidak merokok pada hari itu.

Kampanye satu hari tidak merokok tersebut berubah menjadi dorongan dari WHO untuk membatasi peredaran tembakau di dunia. Salah satu caranya adalah mendorong negara-negara anggota WHO membuat berbagai aturan yang mempersempit ruang gerak tembakau.

Larangan iklan, promosi, membuat regulasi berupa kawasan tanpa rokok, menaikkan cukai rokok ke titik tertinggi, berdampak pada mahalnya harga jual produk tembakau. Aturan lain mendorong petani tembakau untuk mengganti komoditi pertanian tembakaunya dengan produk pertanian lain.

Alasan utama berbagai pelarangan tersebut adalah kesehatan. WHO mengklaim tembakau telah membunuh hampir 6 juta orang tiap tahun. WHO menyatakan penyebab utama kematian adalah tembakau, tanaman tembakau adalah pembunuh nomor satu di dunia.

Berbagai organisasi di Indonesia ikut merayakan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, di antaranya  Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Komnas Pengendalian Tembakau, No Tobacco Community, Lembaga Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat  Indonesia, dan berbagai organisasi lainnya. Mereka mendapat kucuran uang miliaran rupiah dari Bloomberg Intiative untuk mengkampanyekan anti tembakau.

Kampanye anti tembakau ini tidak bisa dibuktikan keabsahannya dan cenderung hiperbolik dan dibesarkan. Ada kepentingan lain di balik isu anti tembakau tersebut. Tak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan berani mengatakan 6 juta orang meninggal murni akibat dari tembakau atau produk tembakau. Misalnya penyakit paru-paru selalu dikatakan akibat dari rokok, faktor lain seperti asap pabrik, asap kendaraan debu dan lain sebagainya tak dinyatakan.

Kepentingan lainnya adalah menggantikan rokok dengan produk-produk lain pengganti rokok dan obat – obatan. Kampanye anti rokok dibungkus dengan isu kesehatan memang sarat dengan kepentingan dagang.

International Labour Organization (ILO) menyatakan sekurang-kurangnya 10 juta orang menggantungkan hidupnya dari tembakau, mulai dari petani, ribuan industri kretek, pedagang kelontong, industri periklanan, dan lain lain. Khusus Indonesia, dengan rokok kretek, ratusan ribu petani cengkeh dan tembakau hidup dari geliat industri tersebut.

Pendapatan negara mencapai ratusan triliun dari cukai dan pajak produksi hasil tembakau. Apakah para pegiat anti tembakau siap mengganti dana ratusan triliun kas negara dan mencarikan pekerjaan untuk jutaan orang yang kehilangan sumber penghidupan jika tembakau dikatakan sebagai pembunuh dan akhirnya dilarang? Jelas tidak.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar