Industri Hasil Tembakau

Bungkus Rokok Bernilai Tinggi

bungkus rokok
Harry S. Waluyo
Ditulis oleh Harry S. Waluyo

Bungkus rokok merupakan hasil karya desain komunikasi visual. Dalam setiap desainnya mempresentasikan nilai kreativitas dan terkandung berbagai unsur estetika seperti komposisi, warna, tipografi, ilustrasi, dan lain sebagainya.

Beberapa merek rokok berbentuk sigaret kretek tangan seperti ‘Praoe Lajar’, ‘Lajar Tantjep’, ‘Kantil Putih’, ‘Kampret’, dan ‘Beras Tuton’ sangat menarik dari segi visual. Desain bungkus rokok produksi rumahan ini memiliki focus of interest saat dipajang di warung.

Ada hal menarik dan bernilai dalam bungkus rokok, lebih dari saat membakar dan menghisapnya, kenikmatan terkait pola pikir dan kreativitas para desainer komunikasi visual dari para pengelola industri rokok rumahan yang masih bertahan. Hal lain yang juga bisa ditemukan juga adalah aspek antropologi, sosiologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat perokok serta pedagang rokok produksi rumahan di daerah-daerah.

Perberlakuan bungkus rokok yang wajib mencantumkan peringatan bergambar seram diberlakukan sejak Juni 2014. Kebijakan yang tertuang dalam PP 109 Tahun 2012 ini diadopsi dari Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kesepakatan yang melibatkan berbagai negara dan yang paling cepat dalam merumuskan kesepakatan dalam sejarah Badan Kesehatan Dunia (WHO) itu sangat banyak menuai kecaman.

Di balik kecepatan meraih keputusan itu ada sebab, yaitu adanya  aliran dana dari berbagai perusahaan multinasional farmasi yang mempunyai kepentingan dari bisnis nikotin. Di mana bila nikotin masih bebas beredar di pasaran dalam bentuk rokok, maka nilai ekonomis dari bisnis nikotin yang disiapkan oleh perusahaan multinasional farmasi akan sulit dijalankan.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar