Industri Hasil Tembakau

Salah Satu Aset Nasional yang Terus Berputar dan Produktif

rokok kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tidak sedikit penduduk sekitar perkebunan cengkeh dan tembakau, serta industri rokok kretek yang diserap sebagai pekerja. Memang semula, cengkeh dan tembakau – sebagai bagian dari kepentingan dagang perusahaan Belanda – diekspor ke Eropa untuk industri farmasi dan pengolahan tembakau. Namun dengan kecerdikan sejumlah orang Kudus, kedua komoditas ekspor ini diracik dalam produk yang dikenal ‘rokok cengkeh’, yang kemudian populer dengan sebutan kretek. Hampir seluruh sumber daya untuk produksi dapat dipenuhi kebutuhannya hanya di dalam negeri.

Industri pengolahan tembakau dan cengkeh itu juga pernah mengalami masa paling gelap ketika Indonesia diduduki penguasa fasisme-militerisme Jepang. Banyak lahan perkebunan dan ladang-ladang rakyat dipaksa mengabdi kepada kepentingan penguasa. Sebagian besar petani dipaksa menanami tanaman pangan. Banyak pula penduduk dipaksa bekerja sebagai romusha demi melayani kepentingan perang Jepang.

Namun, industri ini mampu bangkit kembali dari kehancuran, bahkan berhasil menyetorkan kontribusi dari total pajak dan bea sampai18,2% pada tahun 1959. Perlahan tapi pasti, setengah abad kemudian, industri kretek mengecap masa keemasannya dengan mendominasi 93% pangsa pasar di negerinya sendiri.

Industri ini tidak hanya mampu bertahan dan bangkit dari krisis ekonomi, namun juga kerusuhan sosial dan kebijakan penguasa yang paling mencekik sekalipun. Industri kretek mempunyai sejarah panjang. Lebih dari itu mempunyai kaitan dari hulu ke hilir yang lengkap, sehingga tidak bergantung kepada impor.

Tahun 2010 diperkirakan nilai investasi industri rokok kretek berjumlah Rp250 triliun yang tersebar dalam 3.000 perusahaan. Struktur industri rokok – dengan mempertimbangkan penguasaan pasar – yang bersifat oligopolis, menyulitkan pemain atau pelaku baru yang masuk membangun industri kretek yang sama sekali baru, kecuali lewat celah akuisisi atau pengambilalihan di bursa saham.

Dengan panjangnya proses perjalanan sejarah industri rokok kretek itu maka akar-akarnya sudah cukup dalam tertanam dan tersebar di banyak daerah tidak hanya di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun mekar pula di Yogyakarta, beberapa di Jawa Barat. Pengakaran mereka bergandeng tangan dengan perkebunan-perkebunan tembakau dan cengkeh di banyak daerah yang diproduksi oleh banyak pekerja.

Industri ini sudah melewati fase-fase yang buruk seperti dihantam gelombang krisis ekonomi, kerusuhan sosial dan ketegangan dengan penguasa monopoli cengkeh, didera oleh dua perang dunia maupun penghancuran perkebunan, dislokasi ekonomi, dan menghadapi berbagai persaingan dan kelicikan. Namun tetap mampu bertahan dengan secara mandiri sampai memperoleh tempat yang sangat meyakinkan di negerinya sendiri.

Tidak hanya sejarahnya yang panjang, namun industri pengolahan tembakau dan cengkeh itu juga telah menyediakan salah satu aset nasional yang sangat penting sebagai sumber daya yang membentang di lahan-lahan perkebunan cengkeh dan tembakau serta industri-industri kretek di sejumlah daerah di Indonesia. Tanpa banyak dukungan pemerintah – sejak masa Hindia Belanda sampai sekarang – mampu menggapai masa keemasannya serta menyediakan pundi-pundi pajak dan cukai buat negara. Aset nasional ini terus berputar dan produktivitasnya meningkat yang digerakkan oleh banyak petani dan pekerja untuk mendominasi pasar domestik dan menembus pasar ekspor. Lagi-lagi, dengan ekspor yang meningkat, industri pengolahan tembakau dan cengkeh ini ikut menyumbangkan tambahan devisa negara.

Diakui pula bahwa tembakau produksi dari Indonesia termasuk salah satu kualitas terbaik di dunia. Selain ekspor tembakau, industri pengolahan tembakau dan cengkeh juga mengekspor rokok, terutama kretek. Diperkirakan, nilai ekspor rokok mencapai 400 juta dollar AS atau Rp 3,6 triliun pada 2011, karena relatif naik setiap tahun. Kendati dibayang-bayangi larangan impor dari pemerintah AS, namun nilai ekspor pada 2010 mencapai lebih 400 juta dollar. Ekspor terbesar rokok tertuju pada Kamboja yang mencapai 150 juta dollar, disusul Malaysia, Singapura dan Thailand. Tahun sebelumnya, ekspor rokok menembus 410,49 juta dollar pada 2009.

Nilai ekspor rokok dari Kabupaten Kudus saja mencapai 61,25 juta dolar AS pada 2012 atau melonjak naik 24,34 persen dibanding nilai ekspor tahun sebelumnya, dengan tujuan ekspor ke 75 negeri.

Beroperasinya industri pengolahan tembakau dan cengkeh, telah membuat negara memetik nilai pajak dan bea sejak awal abad ke-20. Bila dulu dipetik oleh pemerintah Hindia Belanda, maka sejak pasca-kolonial dipetik oleh pemerintah RI. Perkembangan nilai penerimaan negara dari pajak dan bea ini terus menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun sejak cukai diberlakukan pemerintah Hindia Belanda. Dari setoran cukai rokok saja, tren ini tidak pernah anjlok maupun sama dengan tahun sebelumnya.

Tahun 2000, pemerintah meraup setoran cukai dari perusahaan-perusahaan industri rokok sebesar Rp 11,29 triliun. Selang 12 tahun selanjutnya, penerimaan negara dari cukai sudah mencapai 7,5 kali lipat atau Rp 84 triliun.

Sumber daya industri ini menunjukkan kemampuan bersaingnya tanpa khawatir berhadapan dengan produk-produk rokok lainnya di pasar internasional.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar