Industri Hasil Tembakau

Ketangguhan Kretek dari Masa ke Masa

pedagang tembakau

Keterikatan kretek dengan budaya dan industri nasional telah teruji dari satu krisis ke krisis lain sepanjang sejarah Indonesia. Kandungan lokal yang tinggi adalah sebab industri kretek kebal dari berbagai goncangan. Industri kretek selalu bisa jadi andalan pemerintah Indonesia di saat tersulit sekalipun.

Pada masa demokrasi terpimpin, tahun 1950 – 1965, kretek menikmati dukungan rezim nasionalis-kiri Soekarno. Pada tahun 1959 Soekarno mulai menasionalisasi perusahaan-perusahaan rokok asing Belanda, Inggris, dan Amerika. Yang paling merasakan dampaknya adalah British American Tobacco. Dari sisi pajak, pemerintah juga berpihak pada industri kretek. Untuk rokok putih dikenakan pajak sebesar 50%, sedang kretek hanya dikenai 20%. Kudeta berdarah Soeharto sempat memupus harapan kemandirian tembakau.

Orde Baru yang dapat kucuran dana dari Bank Dunia dan IMF, mematuhi keinginan lembaga-lembaga donor itu untuk mengembalikan perusahaan-perusahaan milik Inggris dan Amerika Serikat. Salah satu perusahaan yang dikembalikan adalah BAT. Sejak tahun 1968, watak ekspansif BAT perlahan mendesak keberadaan kretek. Memang segmentasi pasar BAT dan kretek berbeda. Yang satu kalangan menengah atas, yang terakhir kalangan menengah bawah. Dengan modal internasional, kampanye pemasaran BAT berhasil menenggelamkan kretek. Hanya butuh 3 tahun sejak dikembalikan, BAT menguasai 40% pasar rokok di Indonesia.

Sadar telah kehilangan devisa cukup besar dari perusahaan-perusahaan kretek, Orde Baru mengucurkan pinjaman lunak sejak tahun 1974 pada perusahaan kretek. Pinjaman diberikan pada Djarum pada 1976, Gudang Garam pada 1978, dan Sampoerna pada 1984. Perusahaan kretek gunakan dana pinjaman untuk memodernisasi produksi dan distribusi produknya. Pangsa pasar perlahan mulai berimbang.

Industri kretek mengalami perkembangan positif. Indonesia untuk pertama kali mencatat swasembada cengkeh pada tahun 1991. Indonesia jadi penghasil cengkeh terbesar dunia. Ini didukung oleh peningkatan ketersediaan lahan produksi yang mengalami perluasan dari 82.387 Ha tahun 1970 jadi 724.986 Ha tahun 1990. Industri kretek lepas dari ketergantungan atas impor cengkeh. Selain bahan baku tembakau yang sepenuhnya gunakan varietas lokal.

Ujian sesungguhnya bagi industri kretek sesungguhnya terjadi saat krisis moneter tahun 1997 menerpa. Di saat industri nasional lain, seperti industri mie instan dan besi baja berjatuhan satu per satu, industri kretek tetap kokoh. Sebabnya, kandungan lokal mulai dari bahan baku sampai produk akhir berasal dari negeri sendiri.

Di masa krisis moneter, industri kretek malah mampu meningkatkan sumbangan bagi pendapatan negara. Dari Rp4,153 triliun pada 1996, menjadi Rp4,782 triliun pada 1997, hingga melonjak Rp7,391 pada 1998. Peningkatan kontribusi industri kretek tersebut didorong oleh pertumbuhan jumlah perusahaan kretek yang naik hingga 5,26% pada 1998. Dari sisi lapangan pekerjaan, perusahaan kretek sanggup menampung peningkatan 9,73% pencari kerja di tahun yang sama.

Dapat disimpulkan bahwa ketangguhan industri kretek dari berbagai goncangan, politik dan ekonomi, disebabkan oleh tingginya kandungan lokal dari industri ini. Dari hulu ke hilir, baik bahan baku maupun tenaga kerja dan konsumen berasal dari negeri sendiri. Mempertimbangkan ketangguhan industri kretek, layak rasanya mendudukkan industri ini sebagai industri strategis yang patut dilindungi dan dikembangkan. [F]

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Arya Wiradikha Sudisman

Arya Wiradikha Sudisman

Penulis lepas, pemerhati isu kesehatan, dan penyuka kopi.

Tinggalkan komentar