Industri Hasil Tembakau

Tembakau Masih Menjadi Komoditas Ekspor

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tembakau tidak sekadar diperdagangkan di pasar domestik, melainkan juga komoditas ekspor. Pada tingkat global, China dikenal sebagai negeri penghasil tembakau paling banyak di dunia.

Tahun 2007, China menghasilkan tembakau sebanyak 2.397.200 ton atau sebesar 38% produksi dunia. Tempat kedua diduduki Brazil serta disusul India dan Amerika Serikat (AS).

Keempat negeri penghasil tembakau ini menghasilkan 4,2 juta ton tembakau atau 67% total produksi dunia (6.311.103 ton). Indonesia menempati urutan kelima dengan produksi sebanyak 164.851 ton atau 2,6% produksi dunia.

Selain diserap oleh pasar dalam negeri sebagai salah satu komoditas yang menguntungkan, tembakau juga menembus pasar ekspor. Tembakau Deli termasuk yang sudah sejak awal produksinya menjadi komoditas ekspor di masa kolonial Hindia Belanda.

Tahun 2011, ekspor tembakau cukup menggembirakan. Nilai ekspornya mengalami kenaikan sebesar 4,59%. Larangan impor dari beberapa negara juga memberikan keuntungan, yakni harganya terdongkrak naik. Harga rata-rata tembakau pada 2011 lebih tinggi 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Kendati demikian, volume ekspornya turun 15,76% menjadi 92.311 ton dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 109.577 ton. Salah satu sebabnya adalah faktor keterbatasan stok.

Memang sejauh ini terkesan bahwa nilai ekspor tembakau kurang signifikan dibandingkan dengan ekspor nonmigas lainnya. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan, dalam 15 tahun, selama periode 1992-2007, nilai ekspor tembakau mengalami kenaikan sebesar 54%. Bila pada 1992 bernilai 80,9 juta dollar AS, maka pada 2007 sudah mencapai 124,4 juta dollar.

Nilai ekspor tembakau berfluktuasi, karena pada 1993-1996 sempat menurun, namun naik lagi pada 1997 dan turun lagi pada 1999-2000. Nilai ekspor sempat mencapai puncaknya pada 1998, yakni 147,6 juta dollar AS.

Namun demikian, salah satu produk tembakau yang juga masyhur adalah tembakau dari Jenggawah, Kabupaten Jember, yakni jenis Besuki Na Oogst (NO). Tembakau ini biasa digunakan untuk bahan baku cerutu dan diekspor ke berbagai negeri di Eropa seperti Jerman, Italia, Belanda.

Ekspor tembakau Besuki ini tidak terpengaruhi oleh krisis ekonomi di negeri-negeri tujuan ekspor tersebut. Sebanyak 70% produksi tembakau Besuki NO ditujukan untuk memenuhi permintaan ekspor. Naiknya harga tembakau Besuki NO didukung kualitas yang baik karena cuaca cukup mendukung kendati sempat ada hujan ‘salah mongso’.

Permintaan ekspor yang tetap tinggi juga tidak terpengaruh oleh kampanye-kampanye anti rokok.

 

(Dipetik dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.72-74.)

Sumber foto: Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar