Industri Hasil Tembakau

Sigaret Kretek Tangan Menyerap Banyak Tenaga Kerja

sigaret kretek tangan
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Sebagaimana pada umumnya setiap permulaan industrialisasi, banyak pekerja yang terlibat dalam proses produksi. Sampai sekarang, industri kretek masih banyak yang menggunakan tangan, pada umumnya dalam pabrik-pabrik sigaret kretek tangan (SKT).

Industri kretek yang termasuk kategori SKT memang yang paling banyak menyerap tenaga kerja, namun sekaligus pula yang banyak muncul dan kemudian tenggelam. Industri SKT banyak termasuk industri yang bermodal kecil, lebih mengandalkan kemampuan atau produktivitas pekerjaan tangan ketimbang mesin.

Tahun 2006, jumlah pabrik yang tercatat adalah 3.961 perusahaan rokok. Sebagian besar tergolong pabrik kecil yang memproduksi maksimal 6 juta batang rokok. Golongan pabrik IIIB ini berjumlah 3.834 perusahaan, dengan mengandalkan kerja tangan dalam melinting dan mengemas rokok.

Sedangkan yang termasuk golongan I – pabrik yang berproduksi dalam skala besar – diperbolehkan memproduksi lebih dari 2 miliar batang per tahun, namun jumlah perusahaannya justru paling sedikit, hanya enam perusahaan saja.

Pabrik skala besar lebih mengandalkan teknologi produksi yang modern, yakni dijalankan oleh mesin-mesin yang produktivitasnya lebih tinggi.

Sebagai sentra industri rokok, Kabupaten Kudus merupakan jumlah pabrik terbanyak di wilayah eks-Keresidenan Pati, dengan jumlah sebanyak 94 pabrik dari total 138 pabrik di wilayah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Kudus. Tidak sedikit perusahaan industri rokok yang bangkrut baik karena kebijakan pemerintah maupun kekalahan dalam persaingan.

Tingginya harga bahan baku rokok – tembakau dan cengkeh – ditambah lagi dengan omzet atau penjualan yang tidak sesuai target, kemudian juga menjadi penyebab puluhan perusahaan rokok kretek di Kabupaten Sumenep terpaksa gulung tikar.

Demikian pula atas apa yang diderita pabrik rokok di Pamekasan sebagai buntut kenaikan cukai setiap tahun yang ikut tergulung dalam kebangkrutan. Para pengusaha industri rokok kecil ini menilai cukai sudah terlalu tinggi, sehingga tidak sepadan dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Menurut Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), banyak pabrik kecil yang rontok akibat harga cengkeh yang melambung sampai Rp250 ribu per kilogram pada 2011. Pabrik rokok kecil juga harus menghadapi persaingan dengan pabrik rokok besar yang bisa leluasa menaikkan harga untuk mengembalikan beban biaya produksi.

Lebih dari 100 perusahaan rokok berskala kecil di Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, terancam bangkrut karena naiknya cukai dan harga tembakau.

Kendati demikian, berlangsung pula sejumlah pabrik SKT yang baru dibangun dengan sokongan dari beberapa perusahaan besar. Pada Juli 2012, salah satu perusahaan besar meresmikan dua pabrik SKT di Probolinggo dan Lumajang. Perusahaan ini menganggap pembangunan dan pengoperasian dua pabriknya sebagai upaya memperkuat tradisi SKT yang diharapkan menyerap 8.400 pekerja.

Sebaliknya, tidak sedikit pula izin pabrik rokok yang dicabut karena kesulitan dan tidak beroperasi atau gulung tikar. Kenaikan cukai menuntut mereka untuk meningkatkan daya saing dengan alih teknologi produksi untuk menggantikan banyak pekerja tangan (manual labour). Dengan kenaikan cukai ini pabrik-pabrik rokok dihadapkan pada persaingan yang kian keras.

 

(Disarikan dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.93-95.)

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar