Industri Hasil Tembakau

Pergeseran Industri Kretek Masa Hindia Belanda

kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Pertumbuhan industri kretek itu menjalar tidak hanya di sekitar Kudus, namun juga merembet ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bila sebelumnya usaha kretek banyak dirintis dan dijalankan oleh kalangan pribumi, namun ketika keuntungan menjadi motif dan peluang masih terbuka lebar, maka mulai banyak pula kalangan Tionghoa yang mengikuti jejak membangun usaha mereka.

Dengan perkembangan ini di satu sisi terbentuk golongan pengusaha pribumi atau bumiputra serta golongan pengusaha Tionghoa dalam arena bisnis yang sama, sedangkan di sisi lain di antara sesama mereka terjadi saling bersaing demi mengejar laba atau keuntungan.

Persaingan bisnis pun terbentuk dalam industri kretek. Berbeda dengan sektor perkebunan raksasa dan pertambangan, maka di sektor perkebunan tembakau dan cengkeh rakyat serta industri kretek, arena ini justru tanpa melibatkan pengusaha Belanda secara langsung.

Kendati demikian, persaingan ini berjalan kian sengit seiring bertambahnya jumlah usaha industri kretek baik di Kudus maupun di kota-kota lainnya. Cepat atau lambat, persaingan ini memanaskan situasi dan menimbulkan gejolak untuk memperebutkan laba di antara mereka. Pada 31 Oktober 1918, persaingan mencapai puncak dan akhirnya memercikkan ledakan, yakni suatu kerusuhan hebat di Kudus.

Kerusuhan itu bukan saja menimbulkan kerusakan atas rumah-rumah dan pabrik-pabrik kretek, namun juga banyak korban yang menderita luka-luka. Tidak lepas dari itu juga kedudukan pemerintah Hindia Belanda dalam menempatkan diri untuk menjalankan politik atau kebijakan ekonominya.

Dampak kerusuhan ini sangat dirasakan karena banyak pengusaha bumiputra yang berpengaruh diajukan ke muka pengadilan dan dijatuhi hukuman. Sehingga industri rokok kretek mereka yang pernah mekar di Kudus, sejak itu mengalami kemunduran.

Situasi ini dimanfaatkan oleh para pengusaha Tionghoa untuk memperkuat kedudukan mereka dalam industri kretek. Inilah pergeseran yang terjadi dalam industri kretek di masa Hindia Belanda.

Kendati kerusuhan itu telah mengakibatkan kerusakan cukup berat bagi industri kretek, namun pelan tetapi pasti, industri ini bangkit kembali dari kehancurannya. Salah satu pendorongnya adalah permintaan konsumen yang sudah telanjur membutuhkan kretek.

Pada 1924, industri kretek di Kudus kembali pulih, bahkan tercatat sekitar 35 pabrik skala besar, menengah, dan

kecil. Tahun 1928, jumlah pabrik tetap menunjukkan peningkatan menjadi 50 pabrik, dan komposisi kepemilikan antara kalangan bumiputra dan Tionghoa hampir seimbang. Perimbangan kepemilikan ini ditandai pula dengan pertambahan penduduk di Kudus menjelang 1930.

Usaha yang dijalankan Nitisemito demi mengembalikan kejayaan Bal Tiga – sebelumnya adalah rokok cap Kodok Mangan Ulo namun kurang membawa keberuntungan – juga pulih kendati harus menghadapi persaingan dengan pengusaha kretek dari kalangan Tionghoa.

Kejayaannya sungguh-sungguh dicapai pada 1938, dengan mengoperasikan pabrik seluas 6 hektare dan mempekerjakan lebih 10.000 buruh termasuk tenaga ahli keuangan asal Belanda, serta memproduksi lebih 10 juta batang. Bal Tiga merambah pasar di berbagai daerah melintasi Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan, bahkan sampai ke Singapura dan Malaysia.

Dengan kemajuan ini pemerintah Hindia Belanda memandang usahanya sebagai salah satu yang penting bagi pemasukan pajak dan bea, sehingga harus menimbang berulang kali untuk menutup pabriknya.

Beriringan dengannya, muncul pula rokok Goenoeng Kedoe yang dimiliki M. Atmowidjojo, Delima milik pengusaha H.M. Muslich, Djangkar milik H. Ali Asikin, dan Trio yang dimiliki Tjoa Khang Hay, sejak tahun 1914 di Kudus.

Kemunculan industri kretek sebagai arena bisnis yang menguntungkan bukan saja mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk merasa perlu menarik pajak dan bea yang lumayan besar masa itu, namun juga memberikan kesempatan kepada sebuah perusahaan transnasional, PT British American Tobacco (BAT) untuk mendirikan pabrik yang memproduksi rokok putih pada 1925 di Cirebon, Jawa Barat.

Sasaran konsumen rokok putih adalah kalangan etnis Belanda (Eropa) dan para pejabat pribumi, yang belum atau tidak menyukai kretek. Dengan demikian – terlepas dari segmen pasarnya – BAT dapat diletakkan sebagai salah satu pesaing dalam industri rokok di masa Hindia Belanda.

Meluasnya pasar kretek telah membangkitkan dorongan sejumlah orang mendirikan pabrik di beberapa kota lainnya seperti Surabaya, Malang dan Kediri. Dalam menghadapi persaingan dan gejolak, memang tidak banyak yang dapat bertahan lama. Ada yang jatuh dalam kebangkrutan dan ada pula yang bangun sebagai pabrik baru. Mereka juga harus menghadapi persaingan dengan perusahaan rokok putih yang menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia.

Pada dekade 1950-an, rokok putih mendominasi pangsa pasar, dengan penguasaan sekitar 9%. Namun, perlahan-lahan pangsa pasar kretek merambat naik dan melejit sejak 1998.

Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) mengungkapkan, penguasaan produk kretek atas pasar domestik selama lebih satu dekade ini di atas 90 persen dan ditandai dengan kemunculan hampir 5.000 pabrik.

 

(Disarikan dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.92-93.)

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar