Industri Hasil Tembakau

Kretek Mendominasi Pasar Domestik

rokok kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Pada dekade 1950-an, rokok putih mendominasi pasar sekitar 90%. Namun, rokok kretek bisa melesat sesudah krisis 1998. Tahun 2009, segmen rokok kretek memegang sekitar 93% dari pangsa pasar.

Namun demikian, pertumbuhan produksi rokok cenderung rendah karena disesuaikan dengan rencana pembatasan produksi jangka panjang. Tahun 2015 produksi dibatasi secara ketat dengan hanya 260 miliar batang.

Pembatasan produksi ini juga membangkitkan persaingan yang kian ketat di segmen SKM bagi sejumlah perusahaan yang memproduksi kretek ringan (mild and slim), terutama dengan munculnya produk-produk baru.

Konsumsi rokok bergeser dari kretek batang besar (SKT) ke rokok kretek batang kecil atau mild (SKM). Pergeseran ini menjadi tantangan yang berat bagi perusahaan-perusahaan yang masih berproduksi SKT.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan produksi industri rokok skala menengah dan besar pada 2011 sebesar 9,22%. Peningkatan ini didorong oleh permintaan domestik yang tumbuh pada 2010. Gappri memproyeksikan produksi rokok secara nasional hingga akhir 2011 mencapai 300 miliar batang. Proyeksi itu didasarkan pada perhitungan produksi rokok hingga Agustus 2011 yang telah mencapai 199,77 miliar batang. Namun, asumsi ini melebihi batas yang telah ditetapkan pemerintah 265 miliar batang.

Pertumbuhan produksi dan pangsa pasar rokok kretek memang mengalami peningkatan secara signifikan sesudah krisis 1998. Menurut pengamatan Bloomberg Institute, pangsa pasar rokok di Indonesia pada 2001, sudah didominasi kretek. Perusahaan yang memproduksi Gudang Garam, Sampoerna dan Djarum menikmati pangsa pasar dalam jumlah yang signifikan. Ketiga perusahaan yang memproduksi kretek ini menguasai 72 persen pasar rokok, dengan Gudang Garam menguasai 34 persen.

Selang tujuh tahun kemudian, pangsa pasar rokok tetap dikuasai tiga besar itu, namun kedudukan pertama rokok Gudang Garam telah diambil alih oleh Sampoerna seiring keberhasilannya dalam memproduksi kretek ringan. Dalam triwulan pertama 2008, ketiga rokok ini mengecap 71,4 persen pangsa pasar. Kretek lainnya yang mengikuti dalam jumlah yang lebih kecil adalah Nojorono dan Bentoel. Demikian pula pada triwulan pertama 2009, tiga besar tetap ditempati Sampoerna, Gudang Garam dan Djarum, dengan penurunan sedikit. Ketiganya tetap mendominasi pangsa pasar sebesar 69,5 persen.

Hasil riset yang disusun Nielsen Retail Audit menunjukkan ada lima perusahaan besar pada 2011 yang mendominasi pasar rokok dan masih dipuncaki Sampoerna dengan pertumbuhan perjualan sebesar 22 persen menjadi Rp 52,8 triliun dibandingkan tahun 2010. Namun penguasaan pangsa pasar Nojorono telah dilampaui oleh Bentoel sesudah diakuisisi BAT. Dari kelimanya, hanya dua perusahaan yang mengalami kenaikan, sedangkan tiga lainnya menurun. Kelima perusahaan ini menguasai 85,8 persen pasar rokok di Indonesia yang sekaligus menunjukkan dominasi mereka atas pasar domestik.

 

Sumber foto: Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar