Industri Hasil Tembakau

Industri Kretek Bukan Bentukan Belanda

kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Pembentukan industri kretek bukan hasil daya kreasi dari kreativitas kebudayaan Belanda. Tidak ada pengusaha Belanda yang terlibat dalam industri kretek, karena tembakau yang dikuasai mereka justru diekspor ke Eropa.

Para pengusaha Belanda tidak berkepentingan memupuk modal di sektor industri pada negeri jajahan (pinggiran), melainkan ditanam dan diakumulasi di pusat. Negeri-negeri jajahan lebih ditempatkan sebagai wilayah kantong ekspor bagi pengusaha Belanda ketimbang melakukan industrialisasi. Kemudian, negeri-negeri jajahan dijadikan sebagai pasar bagi barang-barang jadi yang diimpor, seperti halnya tekstil.

Namun berbeda dengan kepentingan pengusaha Belanda, maka sejumlah orang di Kudus justru mulai merintis kembali suatu industri pengolahan tembakau yang diabaikan perusahaan Belanda yang menguasai pasar tembakau untuk ditransformasi menjadi rokok.

Para kreator kalangan pribumi inilah yang menyelesaikan proses produksi pengolahan tembakau secara domestik pada permulaan abad ke-20. Dengan modal kecil –menggunakan teknologi produksi yang sangat sederhana – mereka mengolah tembakau dan cengkeh untuk dilinting dengan tangan dan peralatan kayu untuk berubah menjadi kretek.

Rokok jenis inilah yang sekarang merajai pasaran dalam negeri yang menjadi motif perusahaan rokok asing menguasai saham perusahaan kretek dalam negeri. Perusahaan kretek menikmati lonjakan penjualan.

Kretek dimulai atau dirintis oleh Haji Djamari yang merajang cengkeh dan dicampurkan dalam tembakau yang akan dilintingnya menjadi rokok sekitar tahun 1880. Melinting rokok yang akan dihisap sudah menjadi kebiasaannya, sebagaimana kebanyakan penduduk yang mengkonsumsi rokok.

Namun pada 1906, langkah yang ditempuh Nitisemito lebih serius dalam menyelami bisnis kretek yang sangat diuntungkan karena pengusaha Belanda tidak memasukinya sebagai kompetitor. Keberhasilannya dalam menyelami dan menggerakkan industri kretek telah menaikkan kedudukannya sebagai “Raja Kretek” dari Kudus.

Pada puncaknya, sekitar 1938, perusahaannya memproduksi lebih 10 juta batang dan mempekerjakan lebih dari 10.000 orang – suatu angka yang tergolong besar – termasuk mempekerjakan tenaga ahli asal Belanda di bidang keuangan.

Pada tahap primitif, industri kretek menunjukkan kemampuannya tumbuh secara mandiri.

Pertama, industri kretek tidak membutuhkan kredit besar dari bank-bank negara sebagaimana yang pernah digelontorkan di masa pemerintahan Soeharto orde baru kepada perusahaan-perusahaan industri yang menjadi kroni-kroni bisnisnya dalam jumlah yang akhirnya menjadi kredit macet, melainkan lewat serangkaian perdagangan – jual produk, mengumpulkan keuntungan dan menanam kembali sebagian keuntungannya – dalam memupuk dan memperluas modalnya.

Kedua, industri kretek yang mulai tumbuh juga tidak memperoleh proteksi politik dari pemerintah atau kebijakan tarif impor rokok yang tinggi untuk membentenginya sebagaimana yang dinikmati para pengusaha industri substitusi impor (ISI) terutama di masa orde baru. Karena di masa pertumbuhannya, industri kretek berada di bawah intaian pemerintah kolonial Hindia Belanda yang berkepentingan untuk memaksa perusahaan kretek menyetorkan pajak dan bea.

Tahap primitif itu, industri kretek tumbuh di luar ekonomi perkebunan raksasa yang dikuasai pengusaha Belanda yang justru tidak berkepentingan dengan industri kecil. Pengusaha Belanda tidak berkepentingan dengan industrialisasi di negeri jajahannya, melainkan berkepentingan dengan industrialisasi di negerinya dan di Eropa. Sehingga industri kretek ibarat tumbuh liar dalam berbagai dominasi modal-modal Belanda, karena juga bukan bisnis yang menjadi kepentingan mereka. Dalam kedudukan ini keberadaan pengusaha industri kretek bukan menjadi pesaing pengusaha Belanda.

Tidak ada persaingan antara pengusaha pribumi dan pengusaha Belanda dalam industri kretek. Namun, rintisan dan pemupukan primitif atas industrialisasi kretek yang diabaikan pengusaha Belanda ini justru menjadi salah satu industri yang menguntungkan.

 

(Disarikan dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.90-91.)

Sumber foto: Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar