Industri Hasil Tembakau

Efek Ganda Industri Tembakau Memberikan Kontribusi Penciptaan Lapangan Kerja

buruh kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tahun 2009, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengungkapkan, sedikitnya terdapat 3.800 pabrik rokok, termasuk kelas rumahan. Jumlah ini terbanyak di seluruh dunia. Dua provinsi terbanyak pabrik rokok – Jawa Tengah dan Jawa Timur – terdapat sekitar 3.000 pabrik.

Menurut Gappri, tahun 2007, jumlah produsen rokok mencapai 5.000 perusahaan. Tahun 2010, jumlahnya merosot lagi sampai 1.500 pabrik, serta turun lagi menjadi tersisa 1.000 pabrik pada 2012. Karena kian banyak industri rokok kecil yang mengalami kesulitan memenuhi ketentuan pemerintah. Jumlah pabrik rokok terus merosot dan sebanyak 500 pabrik sedang berada di ambang kehancuran.

Kendati tidak menunjukkan berapa jumlah pekerja seluruhnya, namun industri rokok ini telah membentuk lapisan pekerja industri kretek. Tidak hanya serapannya atas tenaga kerja, melainkan juga telah melempangkan jalan bagi demikian banyak perempuan untuk ambil bagian dan terserap sebagai pekerja.

Kecenderungan penyerapannya seperti ini masih terus berlangsung selama dekade 2000-an. Pada umumnya, sepanjang periode 1970-2006, kecenderungan industri pengolahan tembakau skala besar dan menengah dalam menyerap tenaga kerja terus mengalami peningkatan, kecuali sempat menurun selama 1991-1992.

Pada 1970, jumlah pekerja sebanyak 132.000 orang. Tahun 2006, meningkat menjadi 316.991 pekerja. Memang sempat turun dan stagnan selama 1992-1994 hanya sebanyak 182.817 pekerja, sebelum menanjak lagi pada tahun berikutnya. Kecenderungan ini belum termasuk industri skala kecil yang lebih bersifat padat karya dan dipastikan lebih banyak jumlah pekerjanya.

Jumlah pekerja dalam produksi rokok kretek memang jauh melampaui jumlah pekerja rokok putih, namun dari tahun ke tahun jumlah pekerja rokok putih justru meningkat dan rokok kretek menunjukkan naik-turunnya.

Dalam rokok kretek, jumlah pekerja mencapai puncaknya pada 2007, yakni sebanyak 278.353 orang. Industri rokok ini lebih banyak menyerap pekerja perempuan ketimbang pekerja laki-laki. Selama 1993-2006, rata-rata komposisi pekerja perempuan dan laki-laki berkisar antara 80 persen berbanding 20 persen.

Jumlah pekerja perempuan tidak pernah dilampaui oleh pekerja laki-laki. Tahun 2001, jumlah pekerja perempuan adalah yang terbanyak, yakni 82,21 persen. Sedangkan jumlah pekerja lakilaki yang terbanyak adalah tahun 1993, yakni sebesar 20,70 persen.

Dari segi kinerja selama 2006-2010 dalam industri besar dan menengah, industri rokok kretek terus mengalami peningkatan nilai produksi dari tahun ke tahun dalam periode 2006-2008, namun selama 2009-2010 justru menurun yang juga diikuti penurunan biaya input. Sebaliknya, nilai tambah bruto rokok kretek menunjukkan kecenderungan meningkat, kecuali pada 2008.

Operasi industri rokok dan efek ganda yang terkait dengannya diperkirakan telah memberikan kontribusi penciptaan lapangan kerja yang mencapai 24,4 juta orang di mana dan sekurang-kurangnya 10 juta orang terlibat langsung di dalamnya.

Menurut Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), jumlah pekerja yang mencakup juga pedagang yang terlibat dalam industri rokok secara nasional sekitar 6,5 juta orang. Sedangkan yang langsung terlibat dalam produksi rokok berjumlah sekitar 350.000 orang.

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) memperkirakan sekitar 6 juta orang yang bekerja dalam industri pengolahan tembakau, termasuk industri rokok.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga memperkirakan jumlah pekerja industri rokok sekitar 6,1 juta orang, dengan 80 persen adalah alihdaya (outsourcing) di bagian pelintingan yang justru sebagai core business.

Secara spesifik, produksi rokok didominasi kretek, maka industri rokok kretek menyerap 97 persen jumlah pekerja dalam industri rokok nasional. Paling banyak pekerja, diserap oleh pabrik-pabrik SKT, namun pangsa pasarnya hanya sebesar 30,5 persen pada 2010, karena mengalami penurunan dalam lima tahun. Pangsa pasarnya dikuasai oleh SKM.

Karena juga kebanyakan produksi SKM dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan industri rokok raksasa kendati beberapa dari perusahaan ini bekerja sama dalam bentuk Mitra Produksi Sigaret (MPS) di sejumlah daerah yang sedikit membantu menyerap tenaga kerja.

Beberapa perusahaan besar yang berbasis di Jawa Timur adalah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Salah satu perusahaan rokok terbesar yang sejak lama berdiri dan beroperasi di Kediri, pernah mengklaim bahwa yang dipekerjakannya berjumlah 500.000 orang.

Perusahaan rokok dengan anak perusahaannya yang berbasis di Surabaya dan sedang menguasai pangsa pasar, mempekerjakan 27.000 orang. Jumlah lebih banyak lagi, seiring kerja sama dengan 38 unit MPS di berbagai lokasi di Pulau Jawa dalam memproduksi SKT, secara keseluruhan mempekerjakan lebih dari 60.000 orang.

Sedangkan tiga pabrik dari perusahaan rokok kretek terbesar di Malang yang tergolong SKT mempekerjakan 5.400 buruh linting dari seluruhnya 20.000 buruh. Lamongan yang juga menjadi salah satu daerah penghasil rokok, sedikitnya beroperasi 40 pabrik rokok. Selain memberikan kontribusi terhadap ekonomi lokal, juga menyerap sebanyak 4.481 pekerja.

Masih ada lagi pekerja lainnya yang diserap sebagaimana yang berlangsung di Kabupaten Jember ketika investor besar menggarap pembangunan pabrik rokok yang akan mengambil tempat di Desa Garahan, Kecamatan Silo. Diperkirakan, kelak bakal mempekerjakan 6.000 orang.

Pada 2010, industri rokok yang terdapat di Jawa Tengah – sebagian besar terkonsentrasi di Kudus – mampu menyerap sebanyak 113.323 orang pekerja.

Perkembangan berikutnya, pada 25 Februari 2011, Lingkungan Industri Kecil – Industri Hasil Tembakau (LIK-IHT) diresmikan, sehingga kawasan ini diperkirakan dapat menyerap 1.100 orang sebagai pekerja. Dengan penduduk Kabupaten Kudus yang berjumlah sekitar 750.000 orang, namun sebanyak 110.000 orang di antaranya bekerja di sektor industri rokok.

Pabrik rokok terbesar di Kudus mempekerjakan sedikitnya 64.206 buruh di salah satu unit kerjanya, dengan total diperkirakan 75.000 pekerja. Perusahaan lainnya yang masih tergolong besar juga mempekerjakan lebih 7.000 buruh seiring ikut dalam memproduksi kretek yang ringan dan pusat distribusinya pindah dari Kudus ke Pulogadung, Jakarta.

Sebuah perusahaan yang mengambangkan status 3.400 buruhnya sejak 2008, ternyata masih aktif membeli pita cukai rokok di Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) Kudus untuk mempertahankan pabriknya. Sedangkan di Yogyakarta terdapat tiga pabrik di Dusun Jati, Jejeran, Pleret, Kabupaten Bantul. Pabrik-pabrik ini diresmikan pada 2010 dan sudah menyerap sebanyak 4.061 pekerja.

 

(Dikutip dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.100-105.)

 

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar