Industri Hasil Tembakau

Dari Media Interaksi Sosial Menjadi Ekspresi Konflik Sosial Ekonomi Politik

rokok
Bambang Trisunu
Ditulis oleh Bambang Trisunu

Dalam Serat Centhini yang ditulis sekitar tahun 1814, terdapat nukilan tentang kegiatan merokok yang saat itu telah meluas di kalangan masyarakat Jawa. Disebutkan selain daun jagung dan tembakau juga terdapat menyan madu sebesar biji kemiri sebagai campurannya.

Racikan tembakau dengan berbagai bahan seperti menyan madu, cengkeh, wur, dan rempah-rempah lainnya, adalah khas Indonesia yang dikenal dengan nama kretek. Berbeda dengan rokok putih yang diperkenalkanoleh kolonialis Eropa yang dalam setiap batangnya hanya mengandung paling banyak tiga jenis tembakau (American Blends), di dalam sebatang kretek bisa terkandung belasan bahkan sampai tiga puluh jenis tembakau yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia, membuat cita rasa dan aroma kretek berbeda dari jenis rokok lain.

Pantaslah kalau kretek memang bukan sekedar rokok. Keunikannya menjadikan kretek sebagai produk yang merepresentasikan tradisi masyarakat pribumi, setara dengan simbol-simbol tradisi Nusantara lain. Bahkan sejarah mencatat kelobot (kretek yang dibungkus daun jagung) menjadi penanda identitas mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Belanda. Saat itu rokok ala Indonesia, menjadi salah satu simbol pergerakan nasional yang menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya menuju pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Melissa C. Mitchell dari George Mason University melalui tulisannya mendedah bagaimana kretek menjadi manifestasi berbagai bentuk perjuangan dalam menghadapi pemerintah kolonial. Nama kretek yang berasal dari tafsiran orang Indonesia yang mengacu pada bunyi rokok dan bersifat onomatope, menghapus rujukan linguistik Belanda, adalah aksi “penentangan dan perlawanan aktif”.

Ketika pemerintah fasis Jepang menguasai Nusantara, rokok kretek pun pernah menjadi alat propaganda politik anti-Jepang. Kala itu guna melanggengkan kekuasaannya, Jepang melancarkan propaganda yang halus dengan mengganti semua nama yang berbau Belanda ke dalam bahasa yang lebih ke-Jepang-Jepangan atau Melayu. Dari nama jalan sampai merk produk kebutuhan hidup sehari-hari diubahnya, tak terkecuali merk rokok. Merk seperti Momo Taro, Semangat, Siraho, Sekidoo, Kooa, dan Mizuho dijadikan alat propaganda politik Jepang.

Untuk melawannya, rakyat membuat propaganda lain. Di Surabaya terdapat sebuah penyemangat dalam bahasa Jawa. “Sira Semangata, Musuha, tak kooaplok!” (Kalian semua semangatlah, karena musuh sekalipun akan kupukul!) Kalimat tersebut penggabungan dari merk-merk rokok Jepang: Siraho, Semangat, Mizuho, dan Kooa. Sementara di Yogyakarta dan sekitarnya, beredar lagu senggakan dalam bahasa Jawa yang liriknya merupakan pembandingan antara produk rokok dari pabrikan besar dan produk rokok rumah tangga yang menunjukkan ketidaksukaan pada penguasa. Misuho misuho, Koa/Fajar semangat, Srutu Momotaru/Rokok kretek taline ijo/Isih enak rokok tali loro/Paling enak, klobote mbako. (Memaki, memakilah, Kau/Fajar semangat, Cerutu Momo aru/Rokok kretek bertali hijau/Masih enak rokok klobot tembakau).

Sebelumnya, bersama sirih, tembakau telah lama menjadi tradisi masyarakat, dinikmati dengan cara disusur. Kegiatan meludah sirih pun pernah menjadi cara untuk mengungkapkan sentimen anti-kolonial. Sebuah narasi yang ditulis pada tahun 1845 menggambarkan situasi ketika seorang patih di Bali bernama I Gusti Ketut Jelantik menyatakan perang melawan Belanda dengan cara meludahkan sirih pada surat izin berlayar Belanda. Kemarahan terhadap rezim kolonial, menggeser makna meludah sirih dari penyembuhan dan media interaksi sosial menjadi ekspresi konflik sosial politik dan ekonomi antara rezim kolonial dengan rakyat Indonesia.

Selanjutnya motif ekonomi mendorong pemerintah kolonial menciptakan pengetahuan soal kebersihan yang sesuai dengan ala Eropa, untuk menggantikan tradisi menginang dengan mengisap tembakau yang dibungkus kertas putih. Awal abad 20, di Eropa dan Amerika konsep kebersihan menjadi penting, maka untuk memperluas rasa malu ruang-ruang publik secara aktif dibentuk. Dengan standar kebersihan itu orang menginang dianggap kotor dan bertentangan dengan modernitas. Sepanjang politik etis pamor sirih kian merosot, menyirih tidak memenuhi cita rasa kebersihan, sementara menghisap tembakau bisa lebih diterima.

Oleh masyarakat Nusantara cara baru itu diterima dengan tidak menghilangkan tradisi leluhur. Penyatuan tanaman asli dengan tembakau menginspirasi lahirnya kretek. Masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi meracik, melahirkan produk budaya yang bermutu dan bernilai tinggi. Daya kreativitas yang luar biasa inilah yang disebut Rendra, menjadi kekuatan adaptasi bangsa Indonesia dan memperkaya wajah kebudayaan bangsa. Selanjutnya terbukti kretek sebagai warisan leluhur, menjadi penopang perekonomian bangsa.

Kini hampir serupa dengan yang terjadi pada sirih dan komoditi Indonesia lainnya, motif ekonomi mendorong pihak asing menciptakan wacana kesehatan yang berlebihan, sambil terus mendesak pemerintah untuk menerbitkan berbagai regulasi yang sejalan dengan agenda mereka. Ujung-ujungnya untuk menghilangkan budaya kretek dan industri kretek nasional, lalu mengganti cara mengonsumsi tembakau. [B]

 

Sumber foto: Flikr

Tentang Penulis

Bambang Trisunu

Bambang Trisunu

Tembakau, kopi, dan motor tua.

Tinggalkan komentar