Industri Hasil Tembakau

Besarnya Tenaga Kerja yang Diserap Industri Hasil Tembakau

buruh kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Mata rantai produksi tembakau, cengkeh, dan industri rokok terutama kretek, bukan saja memberikan banyak keuntungan bagi lapisan petani dan pedagang tembakau, petani dan pedagang cengkeh, serta pengusaha industri rokok dan pedagangnya, namun juga serapannya terhadap tenaga kerja dari berbagai perlintasannya.

Industri pengolahan tembakau ini telah membentuk rangkaian lapisan pekerja, mulai dari perkebunan dan pengolahan tembakau sampai industri rokok. Sebagian besar pekerja terserap dalam industri kecil yang masih menggunakan tangan atau sigaret kretek tangan (SKT). Lapisan ini masih ditopang dengan pekerja dagang untuk memasarkan tembakau dan rokok baik untuk pasar domestik (domestic demand) maupun pasar ekspor.

Bisa dipastikan bahwa banyak orang terlibat dalam penanaman dan pengolahan tembakau sebelum diserap oleh industri rokok, terutama kretek. Sedangkan penanaman dan pengolahan cengkeh tidaklah sebanyak tembakau, dengan sentra utama terdapat di Maluku dan Sulawesi Utara.

Perkebunan tembakau terbanyak memang paling banyak tersebar di Jatim, dengan luas lahan mencapai 102.000 hektare dan tersebar di 22 kabupaten. Pada 2011, produksi tembakau Jatim per tahun mencapai 81 ribu ton atau 56,9% dari produksi tembakau nasional.

KNPK memperkirakan, dari hulu hingga hilir, berkisar antara 30-35 juta orang yang bekerja dalam rangkaian produksi tembakau, cengkeh, industri rokok, serta dalam perdagangan tembakau dan rokok, termasuk efek ganda (multiplier effect) dari keberadaan produk-produknya.

Sedangkan perkiraan lain mengungkapkan, sekitar 34 juta pekerja yang bersentuhan dengan industri rokok, baik langsung maupun tidak langsung.

Perihal berapa banyak petani dan buruh tembakau di seluruh Indonesia, APTI mengatakan, jumlahnya sebanyak 2,1 juta orang. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), pada 2005 jumlah petani tembakau 1,6 persen dari jumlah tenaga sektor pertanian, yakni sebanyak 2,2 juta orang. AMTI memperkirakan, sekitar 2,5 juta orang bekerja di perkebunan tembakau.

Mereka tersebar terutama di 10 provinsi. Jumlah petani tembakau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lebih dari 12.500 orang, namun mereka menghidupi seratusan ribu keluarga mereka.

Pada Januari 2010, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengungkapkan, di Indonesia sedikitnya terdapat 3.800 pabrik rokok, termasuk kelas rumahan. Sehingga jumlahnya paling banyak di seluruh dunia. Pabrik rokok ini terkonsentrasi di Jateng dan Jatim, dengan jumlah sekitar 3.000 pabrik.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang dikompilasi oleh asosiasi industri, jumlah perusahaan rokok di Indonesia tahun 2007 mencapai 5.000 unit, kemudian turun menjadi 1.500 unit pada 2010. Jumlahnya diperkirakan turun lagi sebesar 17% pada 2012 dibandingkan tahun sebelumnya.

Sedangkan jumlah pekerja dalam industri rokok, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan sekitar 6,1 juta orang. Namun sebanyak 80% justru pekerja outsourcing (alihdaya) yang mayoritas bertugas sebagai pekerja linting (menggulung rokok) yang merupakan pekerjaan utama (core business). Perusahaan rokok besar yang menggunakan sistem mitra produksi sigaret (MPS), banyak mempekerjakan buruh borongan bidang melinting rokok.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim mencatat sebanyak 1.314 perusahaan rokok, dengan perkiraan menyerap tenaga kerja sebanyak 6,4 juta orang pada 2006. Operasi industri ini juga menimbulkan efek ganda yang ditaksir mencapai 18 juta orang.

(Dikutip dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.40-42.)

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar