Industri Hasil Tembakau

Sejarah Mencatat, Tembakau Dapat Mengatasi Masalah Kesehatan

kretek
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Christopher Columbus—seorang pelaut asal Genoa, Italia—dalam ekspedisi pelayaran di Bahama, San Salvador, bertemu dengan suku Lucayanyang yang memberikannya daun tembakau yang sudah dikeringkan sebagai cenderamata. Peristiwa itu terjadi pada 15 Oktober 1492. Di masa itu, menghisap tembakau sudah menjadi bagian ritual suku pribumi ini.

Tak lama setelah itu, para pelayar mulai membawa tembakau ke daratan Eropa dan bahkan menanamnya juga. Maka pada abad ke-16, penggunaan tembakau mulai merebak di sana. Orang Eropa percaya bahwa tembakau dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Tahun 1571, Nicolás Monardes—seorang dokter berkebangsaan Spanyol—sudah menulis dalam buku bahwa tembakau dapat mengatasi 36 masalah kesehatan.

Tembakau sendiri masuk ke Asia pada 1575, ketika Spanyol membawanya ke Filipina dari Mexico.

De Candolle menunjukkan bahwa tembakau diperkenalkan ke tanah Jawa pada 1600 oleh Portugis. B.H.M. Vlekke menuliskan bahwa tembakau dikenal di Indonesia pada akhir kurun abad ke-16. Sementara Tijdschift voor Nederlandsche–India pun mengungkapkan bahwa pada akhir abad ke-16 tembakau sudah tidak asing. Dan Denys Lombard juga sudah menuliskan tentang penggunaan tembakau di Hindia Belanda pada 1603 dan perdagangannya pada 1626.

Penduduk Hindia Belanda menanam tembakau di daerah yang tidak dihuni orang untuk konsumsi kalangan sendiri. Mereka menikmatinya dengan menjadikannya rokok atau dikunyah begitu saja.

Walaupun pada awalnya tembakau sebagai rokok hanya dinikmati oleh kalangan terbatas atau golongan bangsawan, rokok tembakau ini pun kemudian mulai dinikmati secara luas. Seiring memasyarakatnya rokok, orang-orang pun memgembangkan cara yang beragam untuk menikmati rokok. Sebut saja ada kelobot, rokok diko, klembak menyan, rokok kawung, ico, dan satu yang menjadi sangat terkenal: kretek.

Sejarah kretek memang masih samar dengan beredarnya cerita-cerita yang berbeda. Namun cerita yang paling dikenal adalah penemuan kretek oleh Hadji Djamhari, seorang penduduk Kudus. Dikisahkan pada suatu ketika Hadji Djamhari mengeluhkan sakit di dadanya. Ia mencoba mengatasinya dengan mengoleskan minyak cengkeh di dadanya dan kemudian sakitnya membaik. Lantas ini membuat Hadji Djamhari terpikir untuk mengunyah cengkeh langsung. Ternyata ia merasa lebih baik lagi.

Idenya berkembang lagi untuk mencampurkan cengkeh ke dalam rokok tembakau agar asapnya bisa masuk ke dadanya. Hasilnya ia merasa sakit di dadanya pun hilang. Sejak saat itu, ia giat menganjurkan rokok tembakau campur cengkeh ini untuk mengatasi penyakit. Rokok tembakau campur cengkeh inilah yang kemudian dinamakan kretek. Nama ‘kretek’ diambil karena cengkeh yang tersulut bara ketika rokok dihisap menghasilkan bunyi ‘kretek–kretek’.

Hadji Djamhari tutup usia pada tahun 1890. Saat itu kretek sudah ramai diperdagangkan di masyarakat. Beberapa penulis seperti Budiman dan Onghokham (1987) serta Hanusz (2003) memperkirakan Hadji Djamhari menemukan kretek pada kisaran 1870 hingga 1880. Maka sejak saat inilah budidaya tembakau yang baru menemukan bentuknya sebagai buatan asli Indonesia dan menjadi bagian dari tradisi: kretek. [S]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar