Industri Hasil Tembakau

Pandangan Sempit Memberangus Tembakau dan Rokok di Indonesia

tembakau
Intan Hapsarini
Ditulis oleh Intan Hapsarini

Pemaknaan tentang tembakau dan rokok masih berdasar pada satu asumsi perspektif kesehatan tanpa kesanggupan memahami lebih luas hubungannya dengan perekonomian negara, sosial, dan budaya masyarakat. Sikap abai mereka pada kedaulatan nasional yang sedang terancam, membuat apa pun manfaat dari tembakau dan rokok dinilai tak berguna dan negatif.

Dari cukai rokok, negara mendapatkan sumbangan dana yang besar setiap tahun. Tahun 2015, meski di tengah tekanan perekonomian, cukai rokok melampaui target dan menjadi penyumbang terbesar bagi APBN 2015. Cukai mencapai Rp139,5 triliun atau 100,3 % dari target.

Jutaan rakyat bergantung pada tembakau, dari mulai petani, buruh musiman, buruh pabrik rokok, pelaku industri, sampai pengasong dan usaha rakyat kecil yang menjual produk hasil tembakau.

Bagi olah raga, sebelum muncul peraturan pemerintah yang membatasi produsen rokok menjadi sponsor, keberadaan Industri Hasil Tembakau (IHT) mempunyai andil besar memajukan olah raga nasional. Banyak terselenggara kejuaraan dan pembinaan atlet muda. Salah satu hasilnya pada cabang olah raga bulutangkis, banyak atlet berbakat sering mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Sementara dalam tradisi Nusantara banyak sekali ditemukan ritual dan upacara adat yang menggunakan rokok dan tembakau. Seperti ritus Kantiana, upacara masa hamil dalam masyarakat Tamona, Sulawesi tengah. Bersama sirih dan pinang, tembakau menjadi instrumen utama upacara.

Di beberapa wilayah Indonesia rokok dan tembakau menjadi simbol nilai-nilai luhur, seperti religiusitas, kebersamaan, dan penghormatan. Nilai budaya seperti itulah yang sering diabaikan oleh pendukung anti-rokok. Kebudayaan Indonesia yang beragam dilihat dengan menggunakan kacamata kuda. Hasilnya, apa pun yang berhubungan dengan rokok dan tembakau dianggap berbahaya.

Contohnya, ketika Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia berencana menggugat Menteri SosialKhofifah Indar Parawansa tahun lalu karena memberikan rokok kepada Suku Anak Dalam di Jambi. Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menilai,tindakan Mensos tidak bisa diterima akal sehat dan telah mengabaikan kesehatan suku Anak Dalam.

Menanggapi hal itu, Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) dan Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) menyatakan siap melawan dan melakukan somasi jika YLKI melakukan somasi kepada Kementerian Sosial. Ketua PP Lesbumi, Zastrouw Al-Ngatawi, menilai YLKI tak berbeda dengan kalangan puritanisme agama yang senang membid’ah-bid’ahkan seni tradisi karena dianggap mengotori agama. Atas nama kesehatan, YLKI melakukan penzaliman terhadap kebudayaan.

Mensos sendiri enggan menanggapi tudingan negatif YLKI dan lebih menyarankan pihak yang menyudutkannya itu untuk turun langsung masuk ke dalam pelosok rimba agar memahami kearifan lokal di sana. Pemberian rokok di sana dapat mencairkan komunikasi dengan orang rimba. Selain itu, rokok telah sangat lekat dengan keseharian masyarakatnya, bahkan ada ungkapan khas Orang Rimba ‘ngudut mati, hopi ngudut mati’, yang artinya: merokok akan mati, tidak merokok akan mati juga.

Sikap serupa baru-baru ini kembali terjadi. Kali ini ketika Gerakan Muda Framework Convention Tobacco Control (FCTC) menemui Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka meminta Pemda DKI untuk membersihkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta Barat dari segala bentuk iklan dan promosi terkait rokok, perusahaan rokok, dan anak perusahaan rokok. Menanggapi itu Ahok menolak permintaan Gerakan Muda FCTC. Sebab PT Bli-bli.com hanyalah anak perusahaan PT Djarum karena itu tidak bisa dikategorikan sebagai perusahaan rokok. Selain itu Ahok juga menyatakan agar Gerakan Muda FCTC untuk tidak berpikir sempit.

Jika mereka bisa berlaku adil, seharusnya mereka berpikir bahwa pembiayaan program pembangunan sebagian berasal dari cukai rokok. Tanaman yang mereka benci itu nyatanya berkontribusi banyak bagi negara. Sementara yang mereka lakukan hanya membuat IHT dan berjuta rakyat yang bergantung padanya dalam kondisi tidak sehat.

Sikap ngotot anti-rokok serta berbagai tudingan menyesatkan yang selalu dilayangkannya adalah bagian dari agenda besar untuk menggerus industri tembakau Indonesia. Sejalan dengan semangat FCTC yang ingin membunuh pertembakauan dalam negeri. Dampaknya bukan hanya industri tembakau dalam negeri yang akan gulung tikar, kedaulatan juga kelestarian budaya pun ikut terancam. [B]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Intan Hapsarini

Intan Hapsarini

Membaca dan menulis bagiku bagai sebuah perjalanan indah nan menyenangkan.

Tinggalkan komentar