Industri Hasil Tembakau

Membantah Mitos Penyebab Kanker Paru-Paru dan Serangan Jantung

merokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

SALAH satu propaganda yang terus-menerus digunakan untuk membatasi rokok sekaligus membunuh tembakau adalah perokok pasif atau secondhand smokers atau environmental tobacco smoke (ETS).

Fakta yang dilaporkan oleh Victoria MacDonald, seorang koresponden kesehatan, tentang hasil studi yang dilakukan oleh WHO (World Health Organization) di tujuh negara Eropa, menyimpulkan tidak ada hubungan antara perokok pasif dengan kanker paru-paru.

Hasil studi ini menjadi tamparan bagi WHO yang selama ini begitu gencar melakukan kampanye anti-tembakau. Studi ini sendiri sebenarnya merupakan salah satu studi terbesar yang dilakukan oleh WHO untuk menemukan keterkaitan antara perokok pasif dengan kanker paru-paru. Studi dilakukan terhadap orang yang berdekatan dengan perokok, baik itu di tempat kerja, di rumah, maupun di lingkungan sekitarnya.

Hasil studi ini secara konsisten menyimpulkan bahwa tidak ada bukti statistik yang menunjukkan tambahan risiko bagi orang yang hidup atau bekerja dengan perokok terhadap kanker paru-paru.

Hasil studi ini oleh The Telegraph ditegaskan dalam hariannya sebagai “There was no association between lung cancer risk and ETS exposure during childhood.” Sementara Levy dan Marimont menyebutnya sebagai “failed to scientifically prove that there is an association between passive smoking and a number of diseases, lung cancer in particular.”

Hasil studi ini coba dibantah sendiri oleh WHO dengan menerbitkan laporan dalam Journal of the National Cancer Institute pada Oktober 1998 yang menyatakan adanya kenaikan risiko relatif bagi perokok pasif sebesar 1,16 hingga 1,17. Padahal, apabila dikorespondesikan dengan guideline yang dikeluarkan sendiri oleh National Cancer Institute, rasio tersebut tergolong kecil karena berada di bawah angka 2.

Artinya, laporan WHO ini bila ditempatkan dalam perspektif mereka sendiri, risiko relatif perokok pasif terhadap kanker paru-paru masih lebih kecil delapan kali dibanding dengan mereka yang minum susu berlemak sebesar 2,4.

Studi yang dilakukan oleh James E. Enstrom dan Geoffrey C. Kabat terhadap penduduk California, Amerika Serikat, mengenai hubungan antara perokok pasif dengan tingkat kematian menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan lebih dari 40 tahun ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara perokok pasif (environmental tobacco smoke) dengan tingkat kematian akibat penyakit jantung atau kanker paru-paru.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa angka kemungkinan perokok pasif terkena penyakit jantung ternyata lebih kecil jumlahnya dari dugaan selama ini.

Memang penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh umat manusia karena telah menimbulkan jumlah kematian yang begitu besar. Para ahli kesehatan terus-menerus berupaya menemukan penyebab penyakit ini sekaligus obat penyembuhannya. Kebiasaan merokok atau konsumsi tembakau seringkali menjadi kambing hitam sebagai biang kerok penyakit jantung.

Artikel yang ditulis Aisling Irwin dalam The Telegraph tanggal 25 Agustus 1998, Study Casts Doubt On Heart ‘risk Factors’, mengungkapkan bahwa studi cardiologi terbesar yang pernah dilakukan ternyata telah gagal menemukan hubungan antara serangan jantung dengan faktor-faktor risiko klasik seperti merokok dan tingkat kolesterol yang tinggi.

MONICA study, (Multinational MONItoring of Trends and Determinants in CArdiovascular Disease) adalah proyek yang dilakukan pada awal 1980-an di 21 negara selama 10 tahun dengan populasi sebanyak 10 juta pria dan wanita berumur 25–64 tahun. Keseluruhan studi selesai pada akhir tahun 1990-an.

Pada akhir studi ini, para ilmuwan tidak dapat menemukan koneksi statistik antara reduksi penyakit jantung dengan perubahan-perubahan dalam obesitas, merokok, tingkat tekanan darah, atau kolesterol. Hasil studi ini diumumkan the European Congress of Cardiology di Vienna pada Agustus 1998.

Studi yang paling lama dan paling besar di dunia itu menghimpun informasi dari 150.000 serangan jantung, terutama di Eropa Barat, Rusia, Islandia, Kanada, Tiongkok, dan Australia. Penurunan penyakit jantung paling besar terjadi di Swedia. Yang meningkat terjadi di Lithuania, Polandia, Tiongkok, dan Rusia.

Hasil studi juga mengungkapkan, kegelisahan, kemiskinan, perubahan ekonomi, dan sosial mempunyai hubungan dengan penyakit jantung. Fakta ini tampak sejak studi ini mulai dilakukan pada era 1980-an. Seseorang yang berhenti merokok namun kehilangan rumah tempat tinggal secara umum berada pada risiko terkena penyakit jantung karena faktor stres.

 

Sumber:

Aisling Irwin, Study Casts Doubt On Heart ‘risk Factors’, The Telegraph – August 25 1998.
Victoria MacDonald, Passive Smoking Doesn’t Cause Cancer – Official, UK Sunday Telegraph – March 8, 1998.
Robert A. Levy and Rosalind B. Marimont, Lies, Damned Lies, & 400,000 Smoking-relared Deaths, dalam Regulation, Vol.21, No. 4 Tahun 1998.
James E Enstrom, Geoffrey C Kabat, Environmental tobacco smoke and tobacco related mortality in a prospective study of Californians, 1960-98.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar