Lain-Lain

Konflik Penguasaan Lahan Terus Meningkat

rembang melawan
Bambang Trisunu
Ditulis oleh Bambang Trisunu

Konflik penguasaan lahan di Indonesia terus meningkat setiap tahun, menghilangkan hak masyarakat atas tanah. Kebijakan serta paradigma pembangunan yang selalu berpihak kepada korporasi hanya melahirkan ketimpangan penguasaan lahan, korporasi semakin masif mencaplok lahan.

Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) tahun 2015, 69% lahan di Indonesia telah dialihkan untuk kepentingan korporasi. Sepanjang tahun itu terjadi 252 konflik agraria di 34 provinsi di Indonesia dengan luasan konflik mencapai 400.430 ha melibatkan 108.714 kepala keluarga.

Sektor perkebunan menjadi yang terpanas di tahun 2015 dengan 127 konflik. Riau di peringkat pertama dari 34 provinsi yang banyak mengalami konflik. Terjadi 36 konflik akibat perusahan sawit yang mendapat dukungan pejabat publik dengan izin-izin konsesinya leluasa mencaplok tanah yang digarap warga. Jika dibiarkan dalam 5-10 tahun ke depan komoditi ini akan terus menimbulkan krisis agraria yang semakin parah.

Sedang di Jawa umumnya konflik agraria berkaitan dengan monopoli hutan oleh Perhutani dan perluasan proyek pembangunan infrastruktur. Konflik agraria menelan banyak korban dan menimbulkan dampak yang meluas, mencakup dimensi sosial, ekonomi dan politik. Mengakibatkan korban tewas sebanyak 5 orang, 39 orang ditembak aparat, 124 orang dianiaya, dan 278 oang dikriminalisasi. Konflik diperparah dengan kecenderungan aparat keamanan dan militer mengambil posisi tidak netral, menjadi perpanjangan tangan perusahaan atau pemerintah.

Itikad merombak struktur agraria nasional yang lebih adil sulit diwujudkan selama pemerintah selalu mengutamakan kepentingan perusahaan. Janji menyelesaikan konflik agraria di Tanah Air pun hanya sebatas wacana. [B]

Tentang Penulis

Bambang Trisunu

Bambang Trisunu

Tembakau, kopi, dan motor tua.

Tinggalkan komentar