Pangan

Impor Gula dan Kegagalan Kemandirian Pangan

gula
Intan Hapsarini
Ditulis oleh Intan Hapsarini

Kebijakan impor membuat gagasan kedaulatan pangan semakin tidak jelas arahnya. Setiap tahun dengan alasan yang sama—seperti menjaga pasokan dan meredam kenaikan harga serta rendahnya produksi dalam negeri—selalu digunakan pemerintah untuk membuka keran impor.

Dalam 5 tahun terakhir, impor 7 pangan utama (beras, cabai, daging sapi, gula, jagung, kedelai, dan bawang merah) meningkat pesat. Berniat ingin membangun kemandirian pangan yang terjadi malah menambah ketergantungan kepada negara pemasok lain. Setelah Thailand dan Vietnam, kini Pakistan juga India menjadi pemasok pangan bagi Indonesia. Ironis, kebutuhan pangan negeri agraris dibuat menjadi semakin tergantung impor.

Sementara itu, jeritan kaum tani dan penolakan berbagai pihak terhadap kebijakan impor tidak menjadi pertimbangan pemerintah. Seperti yang dilakukan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) yang menolak keras rencana pemerintah melakukan impor gula sebanyak 200.000 ton tahun ini. APTRI menganggap impor tidak perlu dilakukan sebab stok gula saat ini masih sangat cukup.

Hal serupa membuat geram APTRI tahun lalu, ketika Kementerian Perindustrian merekomendasikan impor 1,5 juta ton raw sugar untuk dua kuartal sekaligus, untuk kebutuhan April–Juni dan Juli–September. Jumlah per kuartalnya mencapai 750 ribu ton, lebih tinggi ketimbang untuk kuartal Januari–Maret sekitar 600 ribu ton. Impor besar-besaran itu dikhawatirkan dapat mengulangi kejadian tahun 2013. Saat itu keran impor raw sugar dibuka lebar membuat harga gula di masyarakat hancur.

Bersama beras, jagung, dan kedelai, gula menjadi salah satu komoditi pertanian yang ditetapkan sebagai komoditi khusus. Setelah dihapusnya tarif impor gula tahun lalu, pasokan gula impor semakin besar membuat harga gula semakin rendah yang berdampak pada menurunnya kesejahteraan produsen gula.

Target mewujudkan kemandirian pangan dalam kurun waktu 3 tahun, gagal diwujudkan jika masih saja mengandalkan impor. Dan bukankah Presiden juga pernah sangat malu karena ditanya, kapan akan melakukan impor lagi?  [B]

 

Sumber gambar: Pixabay

Tentang Penulis

Intan Hapsarini

Intan Hapsarini

Membaca dan menulis bagiku bagai sebuah perjalanan indah nan menyenangkan.

Tinggalkan komentar