Industri Hasil Tembakau

Efek Multiplier Industri Kretek

sigaret kretek tangan
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Produksi kretek secara tradisional yang berlangsung sejak penghujung abad ke-19 terus berkembang seiring datangnya era industrialisasi. Pada tahun 1924, industri kretek di Kudus seluruhnya berjumlah 35 perusahaan, yaitu 12 perusahaan besar (produksi di atas 50 batang juta setahun), 16 perusahaan menengah (produksi 10 – 50 batang juta per tahun), dan 7 perusahaan kecil (produksi di bawah 10 juta per tahun).

Jumlah ini terus meningkat hingga 50 perusahaan pada tahun 1928. Bal Tiga, perusahaan kretek terbesar yang dikembangkan oleh Nitisemito, pada tahun 1924 telah mempekerjakan 15.000 orang.

Industri kretek yang berkembang kini memang memiliki mata rantai yang lebih panjang daripada ketika pertama kali dijalankan. Ada petani tembakau, petani cengkeh, grader, masuk pabrik rokok, beredar lewat jalur distribusi yang berbeda-beda, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen. Pada masing-masing tahapan itu, industri ini kemudian menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit.

Keseluruhan proses industri kretek dari hulu hingga hilir mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional karena mempunyai multiplier effect yang sangat luas, menumbuhkan industri jasa terkait dan penyediaan lapangan usaha.

Data Kementerian dan Perindustrian RI menyebutkan bahwa penyerapan tenaga kerja industri ini mencapai 6,1 juta orang terutama di daerah penghasil tembakau, cengkeh, dan sentra-sentra produksi rokok. Jika dihitung bersama dengan anggota keluarganya, diperkirakan industri ini ikut menyangga kehidupan hampir sepersepuluh keseluruhan jumlah penduduk Indonesia.

Sektor pertanian tembakau sudah menjadi produk tani unggulan Indonesia. Posisi Indonesia stabil dengan menempati urutan kelima produsen tembakau di dunia. Sementara untuk pertanian cengkeh, Indonesia memimpin produksi cengkeh di dunia dan menempati urutan teratas

Sebagian besar lahan pertanian tembakau berada di Pulau Jawa, diikuti NTB, dan sebagian kecil di Sumatera serta Sulawesi. Sebaran lahan pertanian cengkeh banyak terkonsentrasi di Pulau Sulawesi, Jawa, dan Sumatra.

Rantai industri tembakau, ketika sudah dalam bentuk rokok kretek, menghasilkan nilai ekonomi yang semakin berlipat ganda. Jumlah perokok di Indonesia mencapai 60 juta orang. Dari pangsa pasar yang luas ini, kretek menguasainya dengan tingkat konsumsi 90%. Sisanya diisi oleh rokok putih.

Dua jenis kretek—yaitu sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM)—dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan produksi. Rokok kretek yang diproduksi ini selain dikonsumsi di dalam negeri juga menjadi komoditi ekspor ke luar negeri.

Tembakau adalah jenis komoditi yang dikenakan cukai oleh negara. Negara menerima pendapatan yang tidak kecil dari cukai tembakau. Rokok masih menjadi salah satu andalan untuk pendapatan cukai.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri, Kementerian Koordinator Perekonomian, Edy Putra Irawady, target cukai pada tahun 2015 sebesar Rp 139,1 triliun atau 7,9% terhadap penerimaan APBN-P 2015. Dan sumbangan cukai rokok untuk pendapatan cukai sangat besar. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 95% dari total pendapatan cukai. [S]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar