Industri Hasil Tembakau

Dana Bloomberg untuk Mengharamkan Rokok

bloomberg
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Bloomberg Philanthropies, yayasan amal milik multimiliarder sekaligus Wali Kota New York Michael Bloomberg, mengumumkan pemenang Bloomberg Awards untuk pengendalian tembakau global. Penyerahan plakat piala kepada pemenang dilakukan langsung oleh Bloomberg di Suntec City Convention Centre, Singapura, 22 Maret 2012.

Pemberian penghargaan ini sudah dihelat dua kali. Yang pertama digelar pada 2007. Adapun para peraih Bloomberg Awards 2012 adalah:

  • Health Justice, Filipina (Kategori Monitoring). Ini adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menyediakan informasi industri untuk pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang melindungi langkah-langkah terhadap pengawasan tembakau.
  • Turkish National Coalition on Tobacco or Health, Turki (Kategori Protecting). Ini adalah sebuah koalisi yang berisi 40 organisasi yang fokus terhadap pengendalian tembakau. Mereka memonitor untuk memastikan hukum pengendalian tembakau nasional yang kuat dan menyeluruh.
  • Kementerian Kesehatan Uruguay (Kategori Warning). Kementerian ini menjadi yang terdepan dalam peringatan rokok dalam kemasan. Uruguay memiliki peringatan kemasan terbesar di dunia, yakni sekitar 80 persen dari area kosong kemasan.
  • Corporate Accountability International Colombia (CAI) dan Fundacion para la Educacion y el Desarrollo Social (FES), Kolombia (Kategori Enforcing). Keduanya bersama-sama telah bekerja agar iklan dan sponsor rokok di lima kota besar di Kolombia tetap dilarang. Pelatihan dilakukan dan dipantau dengan melaporkan jika ada pelanggaran.
  • Kementerian Keuangan Mesir (Kategori Raising Tobacco Taxes). Kementerian ini menerapkan pajak tembakau tinggi, termasuk pajak 100 persen untuk shisha, yaitu tembakau uap yang dihisap menggunakan pipa. Kementerian ini juga menerapkan pajak 70% untuk merek rokok yang paling populer di Mesir dan telah menghasilkan lebih dari 2,2 dolar miliar pendapatan pemerintah setiap tahun.

“Penerima penghargaan ini mewakili ribuan pahlawan yang berjuang melawan tembakau di kota, daerah, dan negara mereka setiap hari,” kata Bloomberg dalam sambutannya. Ia sangat mengapresiasi penggiat anti-tembakau yang telah menunjukkan kemajuan sejak 2007. “Saya berharap karya mereka mengilhami orang lain untuk mencapai sukses serupa,” ujarnya.

Selain Bloomberg, turut hadir Margaret Chan, selaku Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Presiden Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan (WCTOH) ke-15, Philip Eng. Nominasi dan seleksi penghargaan dilakukan sebelumnya secara panel oleh para ahli internasional.

Pemberian penghargaan itu sebenarnya berada dalam rangkaian yang sama di tengah perang besar memperebutkan nikotin antara industri farmasi dan industri rokok di AS sejak 1990-an. Nikotin menjadi rebutan karena punya banyak manfaat medis, namun tidak bisa dipatenkan.

Nikotin terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang, dan banyak jenis sayuran lain. Hanya senyawa “mirip nikotin” dan sarana pengantar nikotin yang bisa dipatenkan. Kepentingan industri rokok atas nikotin sudah jelas, sementara kepentingan industri farmasi adalah bisnis perdagangan obat yang dikenal dengan Nicotine Replacement Therapy (NRT).

WHO dan badan-badan pemerintah federal AS membuat industri farmasi berada di atas angin. Merangkul dalam hal ini adalah menjadi sponsor; mengucurkan dana untuk kepentingan kampanye anti-rokok. Pada 1998, Pharmacia Upjohn, Novartis, dan Glaxo-Wellcome menjadi sponsor terbentuknya WHO Tobacco Free Initiative (TFI).

Ketiganya adalah perusahaan farmasi yang memasarkan produk produk-produk NRT. Pharmacia Upjohn menjual permen karet nikotin, koyok transdermal, semprot hidung, dan obat hirup. Novartis menjual koyok habitrol. Sedangkan Glaxo-Wellcome menjual zyban.

Salah satu misi TFI adalah mempromosikan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebagai landasan hukum internasional dari WHO untuk memerangi tembakau. Pada 2000, ketiga perusahaan farmasi terkemuka di atas kembali menggerakkan kampanye dunia memerangi tembakau dengan menggelar Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan ke-11 di Chicago.

Bedanya, kali ini amunisi mereka bertambah dengan partisipasi SmithKline Beecham. SmithKline Beecham, yang melakukan merger dengan Glaxo-Wellcome sesudah konferensi tersebut, adalah perusahaan farmasi yang menjual produk NRT seperti koyok nikotin Nicoderm CQ dan permen karet Nicorette. WHO, World Bank, Centers for Disease Control, dan Cochrane Tobacco Addiction Group, memberikan dukungan di konferensi tersebut.

Michael Bloomberg sendiri ikut merapat ke WHO. Melalui Bloomberg Initiative, pada 2006 ia mengucurkan 125 juta dolar AS, kemudian 250 juta dolar di tahun 2008, sebagai komitmennya dalam memerangi tembakau. Bloomberg Initiative bergerak di lima lini organisasi, yaitu Campaign for Tobacco Free Kids, Centers for Disease Control and Prevention Foundation, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, serta WHO, and World Lung Foundation.

Adapun tujuan pokok Bloomberg Initiative adalah:

  • Optimalisasi program pengontrolan rokok supaya orang berhenti merokok dan mencegah anak-anak mulai merokok.
  • Mendukung segala upaya pembahasan regulasi dan penegakan hukum seperti pemberian pajak rokok, pencegahan penyelundupan, dan pencitraan perokok.
  • Mendukung gerakan kampanye pendidikan ke masyarakat tentang bahanya perokok.
  • Membangun sistem yang mantap untuk memonitor perkembangan jumlah perokok di dunia.

Di belakang Bloomberg adalah salah satu Direktur Novartis, yaitu William R. Brody, yang juga teman dekat sekaligus penasihatnya.

Sebelumnya, Bloomberg sebagai Wali Kota New York membuat program pengawasan tembakau Kota New York yang mencakup penaikan pajak rokok, membuat hampir seluruh tempat kerja bebas rokok, melancarkan kampanye pendidikan umum, membantu orang berhenti merokok, serta memantau tingkat merokok dan hasil program. Selama 10 tahun sebelum program itu dilaksanakan, tidak ada penurunan tingkat merokok.

Namun pada 2002 dan 2007, di bawah kepemimpinan Bloomberg, program komprehensif Kota New York mengurangi kebiasaan merokok di kalangan orang dewasa sampai 300.000 orang, dari 21,6 persen menjadi 16,9 persen, sehingga mencegah 100.000 kematian dalam beberapa tahun mendatang. Kebiasaan merokok di kalangan remaja menurun dari 17,6% pada 2001 menjadi 8,5% pada 2007, tingkat yang hampir 2/3 lebih rendah daripada tingkat nasional kebiasaan merokok di kalangan remaja yang akhir-akhir ini.

Melalui Bloomberg Initiative, dana mengalir ke banyak lembaga di dunia. Di Indonesia, dana itu menyebar ke organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pengurus Pusat Muhammadiyah adalah yang pertama disoroti pada 2010 karena ketahuan menerima dana dari Bloomberg hingga Rp 3,6 miliar demi mengeluarkan fatwa haram merokok. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengakui Muhammadiyah mendapat sokongan dana dari lembaga asing untuk pengendalian penyakit TBC dan saluan pernafasan. “Iya benar, Muhammadiyah mendapat bantuan dari lembaga asing karena terlibat dalam beberapa gerakan, seperti penanggulangan flu burung, flu babi, penyakit TBC, dan penyakit saluran pernapasan,” ujarnya.

Din menjelaskan, Muhammadiyah memang bermitra dengan lembaga-lembaga asing, seperti The Union for TBC and Lung Diseases dan Global Fund untuk menjalankan program kesehatan di Indonesia. Namun, menurutnya, itu tidak perlu dibesarkan menjadi rumor yang tendensius.

“Saya menyampaikan apa adanya, kebetulan langkah itu sejalan dengan dikeluarkannya fatwa haram pelarangan merokok oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah,” jelasnya.

Pemberian dana bantuan dari hasil kerja sama itu pun dinilai tidak masalah, sebab Muhammadiyah bekerja untuk kesehatan masyarakat. “Sebetulnya dari mana pun tidak masalah, karena kita bekerja demi kesehatan masyarakat,” kata Ketua PP Muhammadiyah Sudibyo Markus. “Apa salahnya dengan Bloomberg? Sepanjang itu untuk kesejahteraan masyarakat, apa salahnya?”

Menurutnya, memang agak lucu Bloomberg membuat program yang berlawanan dengan bisnis tembakau AS di Indonesia. Sebab, sejumlah pebisnis AS membeli saham perusahaan rokok di Indonesia seperti Bentoel dan Sampoerna. “Tapi kita tidak mau tahu itu. Yang penting dana kerja sama itu kita gunakan secara amanah untuk melindungi masyarakat dari asap rokok,” ujar Sudibyo yang juga seorang dokter.

Menurut Sudibyo, Muhammadiyah memang giat menjalin kerja sama dengan lembaga internasional seperti Bloomberg untuk kampanye bahaya rokok sejak diterbitkannya UU No 36/2009 Tentang Kesehatan. Beberapa lembaga lain yang digandeng Muhammadiyah yakni Global Fund serta International Union Against Tuberculosis and Lung Disease. “Bantuan-bantuan di Muhammadiyah itu diaudit baik secara independen maupun oleh auditor internal. Tentu dalam kerja sama itu kita tidak mau terikat. Kecuali kalau ikatannya humanitarian, seperti menyelamatkan orang-orang dari bahaya rokok itu,” jelasnya.

Namun Muhammadiyah membantah bila disebut bahwa bantuan dana asing itu terkait dengan dikeluarkannya fatwa haram rokok oleh PP Muhammadiyah. Fatwa itu, menurut Sudibyo, merupakan penyempurnaan dari fatwa Muhammadiyah tahun 2005 yang menyebut rokok hukumnya mubah. Ia juga mengatakan bahwa tidak hanya fatwa haram rokok, rujukan gerakan Muhammadiyah untuk memerangi rokok adalah UUD 1945 pasal 28 serta UU HAM. Disebutkan dalam kedua peraturan tersebut bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. “Ditinjau dari segi kesehatan, rokok itu mengandung 6.000 zat adiktif yang membahayakan. Asap rokok itu 80% dihisap oleh perokok pasif,” katanya.

Selain Muhammadiyah, LSM antikorupsi Indonesian Corruption Watch ( ICW) juga menerima 45.470 dolar (sekitar Rp427,418 juta) pada Juli 2010 demi mengonsolidasikan kampanye anti-tembakau untuk memulai perubahan fundamental pada aturan soal tembakau di Indonesia.

Adapun Indonesian Institute for Social Development yang ditugaskan Bloomberg untuk mencari dukungan publik terhadap kontrol tembakau dan piagam PBB antitembakau (FCTC). Pada September 2010, mereka menerima 322.643 dolar (Rp 3,032 miliar) pada September 2010. Lembaga ini mengeluarkan penelitian yang mengkritik sistem tata niaga perdagangan tembakau yang diklaim merugikan serta memiskinkan petani.

Lembaga Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (Tobacco Control Support Centre-Indonesian Public Health Association atau TCSC-IPHA) mendapat bagian yang besar. Dengan tugas membangun pusat kontrol koordinasi gerakan antitembakau, lembaga ini menerima 542.600 dolar (Rp 5,1 miliar) pada Agustus 2007. Lalu pada September 2009, kembali mendapat 491.569 dolar (Rp 4,620 miliar).

Kemudian TCSC-IPHA kembali diguyur uang dari Bloomberg sebesar 200.000 dolar (Rp 1,88 miliar) pada Desember 2011. Pada Januari 2009, lembaga ini menerima 12.800 dolar (Rp 120,32 juta) untuk membuat pertemuan LSM anti-tembakau.

Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) ditugasi Bloomberg untuk memberi dukungan hukum bagi aturan bebas asap rokok di kota Jakarta. Mereka menerima 225.178 dolar (Rp 2,116 miliar) atas jasanya itu dari Bloomberg pada Juli 2010.

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (National Commission on Tobacco Control atau NCTC) bekerja untuk Bloomberg demi melawan industri tembakau yang mensponsori industri musik dan film di Indonesia. Atas jasanya, mereka menerima 81.250 dolar (Rp 763,75 juta) pada Desember 2009. Pada Februari 2011, sebesar 112.700 dolar (Rp 1,059 miliar) dikeluarkan Bloomberg bagi lembaga ini. Pada Maret 2012, kembali dicairkan sebesar 110.628 dolar (Rp 1,039 miliar) demi mendorong lembaga ini mendapatkan dukungan politik dari pejabat pembuat kebijakan. Lembaga ini dipimpin Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prijo Sidipratomo, yang gencar juga berkampanye antikorupsi.

Di daerah, Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen Semarang dibayar oleh Bloomberg sebesar 106.368 dolar (Rp 999,85 juta) pada November 2010 untuk mendorong Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah Anti- Rokok.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali juga dibayar Bloomberg untuk mendorong dikeluarkannya Peraturan Daerah untuk Kawasan Bebas Rokok di Bali. Pada Januari 2012, mereka menerima Rp 300,5 juta.

Komunitas Tanpa Tembakau (No Tobacco Community) memperoleh 193.968 dolar (Rp 1,823 miliar) pada Mei 2011 dari Bloomberg untuk mendorong keluarnya Peraturan Daerah tentang Kawasan Bebas Rokok di Kota Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya, pada Maret 2009, lembaga ini menerima 228.224 dolar (Rp 2,145 miliar) dari Bloomberg.

Selanjutnya adalah Swisscontact Indonesia Foundation yang menerima 360.952 dolar (Rp 3,392 miliar) dari Bloomberg pada Mei 2009 untuk melobi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengeluarkan Peraturan Daerah tentang Anti-Rokok. Pada Juli 2011, lembaga ini kembali menerima 300.000 dolar (Rp 2,820 miliar).

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) juga tercatat menerima aliran dana Bloomberg sebesar 454.480 dolar (Rp 4,272 miliar) pada Mei 2008 untuk mendorong Peraturan Daerah tentang Bebas Asap Rokok di empat daerah di Pulau Jawa. Setelah itu, dana 127.800 dolar (Rp 1,201 miliar) dikucurkan lagi pada Januari 2011.

Dana Bloomberg juga disalurkan ke Yayasan Pusaka Indonesia yang ditugaskan untuk mengadvokasi Peraturan Gubernur Sumatera Utara untuk membuat kawasan bebas rokok di provinsi itu. Nilai uangnya adalah 32.010 dolar (Rp300,894 juta) yang dicairkan pada November 2011.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak luput dari aliran dana Bloomberg. Bloomberg mengucurkan dana sebesar 240,000 dolar (Rp 2,256 miliar) kepada Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development (IFPPD) pada Maret 2011. Tujuannya adalah agar para anggota DPR RI Periode 2009-2014 bersedia membantu pembuatan Undang-undang Kontrol atas Efek Tembakau terhadap Kesehatan. Proyek itu juga bertujuan mencari dukungan Komisi I DPR agar mengakses Konvensi Anti-Tembakau PBB (FCTC).

Kepentingan Bloomberg melalui Bloomberg Initiative tidaklah sulit dibaca. Ia juga bersama Bill Gates membela para eksekutif farmasi yang dikambing-hitamkan dalam perdebatan layanan kesehatan. Gates melakukannya antara lain karena istrinya, Melinda, mempunyai saham di industri farmasi.

Bloomberg adalah sosok yang sangat dekat dengan kalangan industri farmasi dunia. Padahal industri farmasi sangat getol mendukung kampanye anti-rokok. Mereka menawarkan produk-produk yang membantu orang untuk berhenti merokok. Pada 2008, mereka mencetak penjualan hingga tiga miliar dolar dan diprediksi akan terus meningkat di tahun-tahun setelahnya.

 

Sumber gambar: www.gov.ph

Disarikan dari buku Tipuan Bloomberg: Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok (Zulvan Kurniawan, Indonesia Berdikari, 2012, h.72—83).

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar