Industri Hasil Tembakau

Bagaimana Tiongkok Melindungi Pertembakauannya

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Tiongkok, The State Tobacco Monopoly Administration (STMA) merupakan pembeli tunggal yang diizinkan dalam perdagangan tembakau. Sebuah badan khusus di bawah badan monopoli tembakau negara, yaitu The China National Tobacco Import-Export Company menjalankan semua urusan impor-ekspor daun tembakau dan rokok. Perusahaan yang ingin terlibat dalam pabrikan rokok atau tembakau dan peralatan pengolahan rokok harus mendapatkan lisensi dari STMA.

Karakteristik pasar tembakau di Tiongkok telah mengalami perubahan. Terjadi internasionalisasi dan restrukturisasi pada pasar tembakau di Tiongkok.

Tahun 2007 STMA mempercepat restrukturisasi industri melalui merger dan pengklasifikasian ulang. Jumlah pabrik rokok dari 47 (tahun 2006), menjadi 31 (tahun 2007). Jumlah merek mengalami penurunan dari 325 merek (tahun 2005) menjadi 224 merek (tahun 2007). Desain utamanya adalah Tiongkok hanya memiliki tiga pusat tembakau, yaitu di utara, tengah, dan selatan-barat.

Salah satu metode yang digunakan STMA untuk mencapai pengurangan jumlah produsen dan jumlah merek adalah membuat korporasi di level provinsi mengatur kembali semua perusahaan pembuat rokok yang menjadi sub-ordinat mereka, melalui proses merger dan akuisisi.

Salah satu hal lain yang terjadi dalam industri tembakau adalah internasionalisasi, baik dari aspek manufaktur maupun industri. Philip Morris, Gallaher, dan Imperial telah memiliki usaha bersama di Tiongkok, dengan industri tembakau lokal. Namun, pangsa pasar yang dimiliki hanya berada di bawah 1%.

Hal yang berlaku secara umum dalam industri tembakau di Tiongkok, berdasarkan The Law of The People’s Republic of China on Tobacco Monopoly, adalah pemerintah pusat secara mendasar mengendalikan produksi tembakau, yang dilaksanakan oleh agen-agennya pada tingkat kabupaten. Berdasarkan rencana ini, The China Tobacco Leaf Production Procuring and Sale Corporation (sebagai unit usaha STMA), menandatangani kontrak pengadaan dengan petani tembakau melalui agen lokalnya. Daerah tanam ditentukan dalam kontrak. Input untuk produksi tembakau juga dapat ditentukan dan disediakan oleh perusahaan tembakau negara dengan harga tetap.

Berdasarkan undang-undang tersebut, perusahaan tembakau negara merupakan pembeli tunggal untuk semua daun tembakau yang diproduksi petani. Tidak ada daun tembakau yang diproduksi berdasarkan rencana negara dapat diperdagangkan di pasar dan tidak ada individu yang memenuhi syarat untuk berdagang tembakau. Petani tembakau harus menjual seluruh produksinya kepada negara pada harga pengadaan yang diatur oleh negara, berdasarkan nilai standar. Perusahaan tembakau negara harus membeli, pada harga tetap, seluruh daun tembakau yang diproduksi petani pada areal tanam yang telah dikontrak. [S]

 

Sumber foto: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar