Industri Hasil Tembakau

Amerika Serikat Terus Melindungi, Indonesia Malah Mau Menghancurkan

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Di Amerika Serikat, tembakau tumbuh di 21 negara bagian. Tembakau tetap menjadi sumber pendapatan terpenting dari sektor pertanian AS. North Carolina dan Kentucky adalah negara bagian penghasil tembakau terbesar yang mencapai dua pertiga dari tembakau yang ditanam di AS.

North Carolina merupakan produsen tembakau terbesar dengan nilai US$ 746 juta (tahun 2009). Kentucky merupakan produsen kedua dengan nilai US$ 383 juta. Tembakau telah menjadi tulang punggung negara bagian Kentucky selama lebih dari 100 tahun dan tidak tergantikan untuk bisnis pertanian hingga saat ini.

Sedikitnya 11 negara bagian AS memproduksi tembakau senilai US$ 1,5 miliar pada tahun yang sama. Total lahan penanaman produksi dari semua kelas tembakau diperkirakan mencapai sekitar 354.000 hektar.

Kebijakan tembakau AS sangat berpihak pada kepentingan petani. Perlakuan terhadap tembakau sama dengan perlakuan terhadap sektor pertanian lainnya yang sangat didukung oleh kebijakan pemerintah. Petani tembakau di AS cukup terjamin kehidupannya, terbukti dari besarnya perhatian pemerintah terhadap mereka.

Pemerintah AS telah lama memiliki program untuk membantu petani tembakau, salah satunya adalah program bantuan harga tembakau (tobacco price support programme). Program bantuan harga tembakau pertama kali dibuat pada tahun 1930 bersama program bantuan komoditi lainnya. Program-program ini menguntungkan ekonomi petani.

Anggaran terbesar yang dikelola Commodity Credit Corporation/Farm Service Agency USDA sebesar US$ 44.269.000 untuk kegiatan seperti pengeluaran administrasi bantuan harga, gaji, dan pengeluaran kantor daerah, pinjaman bantuan harga tembakau, dan operasi terkait (tahun 2004). Perkiraan anggaran yang juga terbilang besar di tahun yang sama adalah untuk program asuransi tanaman yang dikelola Risk Management Agency USDA, dengan total US$ 39.919.000. Program asuransi tanaman ini juga memiliki porsi anggaran terbesar tahun 2005 sebesar US$ 41.072.000.

Besarnya jumlah anggaran yang dikeluarkan USDA untuk kegiatan-kegiatan terkait tembakau menunjukkan keseriusan pemerintah AS dalam mendukung sektor ekonomi tembakau dalam negerinya. Petani tembakau sangat diuntungkan dengan berbagai program dan anggaran yang disediakan USDA. Petani tidak perlu khawatir jika tanaman rusak akibat cuaca, penyakit tanaman, serangga, atau bencana alam, karena mereka akan mendapat ganti rugi dari Risk Management Agency, USDA. Petani juga tidak perlu khawatir merugi akibat adanya fluktuasi harga tembakau.

Subsidi yang diberikan pemerintah AS untuk petani juga cukup besar dan meningkat sejak tahun 1995 hingga tahun 2010. Total subsidi tembakau AS mencapai US$ 1,1 miliar.

Pada tahun 2004, tobacco quota buyout legislation mengakhiri bantuan harga perkebunan tembakau AS dan kontrol produk dometik, tapi dengan kompensasi kepada pemilik kuota dan produsen aktif senilai US$ 9,6 miliar. AS juga melakukan impor tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri nasional. Besaran impor tembakau AS cenderung menurun secara fluktuatif.

Di AS juga telah disahkan sebuah undang-undang regulasi tembakau, yaitu Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act, yang berisi peraturan sangat ketat terhadap perusahaan rokok, apalagi rokok impor. Dalam salah satu pasal undang-undang tersebut, disebutkan bahwa produk tembakau tidak boleh mengandung: rasa buatan atau alami selain tembakau dan menthol, atau herbal atau rempah-rempah.

Dengan demikian, kretek dari Indonesia tidak bisa lagi masuk AS. Karena pada kretek, selain tembakau juga mengandung komponen utama lain, yaitu cengkeh. Ini adalah bentuk hambatan non-tarif bagi rokok impor yang bertujuan untuk melindungi industri tembakau dalam negeri AS. Sementara itu, rokok produksi AS tetap bebas masuk ke Indonesia. Keseriusan pemerintah AS melindungi industri dan pertanian tembakau dalam negerinya kontras sekali dengan pemerintah Indonesia.

Selain tidak serius melindungi industri pertembakauan dalam negeri, pemerintah kita–khususnya Kementerian Kesehatan—malah ikut-ikutan membebek rezim kesehatan internasional. Dengan Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau—FCTC, ramai-ramai ikut mengkambinghitamkan tembakau dengan dalih kesehatan yang di balik itu sesungguhnya mengandung misi dagang demi kepentingan ekonomi negara-negara asing, termasuk tentu saja AS sendiri.

Dengan melemahnya industri dan pertanian tembakau Indonesia, tentu saja impor tembakau dan rokok dari luar—termasuk dari AS—akan semakin meningkat. Jangan-jangan memang selama ini Indonesia sudah menjadi negara bagian Amerika Serikat.

 

Sumber foto: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar