Industri Hasil Tembakau

Akal Bulus Perusahaan Farmasi Merebut Monopoli Tembakau

tembakau

Jauh sebelum bangsa Eropa mendirikan koloni di daratan Amerika, penduduk pribudi sudah manfaatkan tembakau sebagai obat. Malahan terus dilestarikan sebagai tradisi pengobatan penduduk Amerika hingga abad ke-20 untuk menangani berbagai penyakit dan keluhan fisik.

Sejarah berubah haluan pada tahun 1980-an ketika gerakan anti-tembakau memperoleh momentum dan kekuatannya. Tembakau hingga kandungan nikotinnya ditentang para pejabat kesehatan publik AS. Puncaknya pada 1988, Surgeon General AS dalam laporannya menyatakan bahwa nikotin adalah zat yang menyebabkan kecanduan, yang membuat para perokok terikat pada rokok.

Hingga hari ini argumentasi semacam ini acap menjadi senjata favorit yang digunakan oleh para pemuka gerakan anti-tembakau juga oleh para pengacara yang berupaya memperoleh imbalan besar dalam sidang-sidang melawan industri tembakau.

Sejak tahun 1950-an, para ahli farmakologi yang telah meneliti efek fisiologis nikotin menemukan bahwa nikotin berkemungkinan memiliki manfaat terapi yang signifikan, baik sebagai sarana bantu berhenti merokok maupun sebagai obat untuk menangani berbagai penyakit. Minat mereka terhadap nikotin meningkat seiring munculnya temuan-temuan baru tentang zat itu.

Beberapa pemanfaatan farmakologis nikotin yang telah ditemukan antara lain: meringankan nyeri, meringankan gelisah dan depresi, meningkatkan konsentrasi dan kinerja pada mereka yang menyandang kelainan hiperaktivitas dan lemah dalam pemusatan perhatian; meringankan beberapa gejala pada skizofrenia akut, meringankan beberapa gejala pada sindroma Tourette, meringankan beberapa gejala pada penyakit Parkinson, dan meringankan beberapa gejala pada penyakit Alzheimer.

Brown RW, Gonzalez CL, Whishaw IQ, Kolb B dalam “Nicotine improvement of Morris water task performance after fimbria-fornix lesion is blocked by mecamylamine”, Behav Brain Research, 15 Maret 2001, menyimpulkan bahwa “nikotin merangsang pemulihan kerusakan otak dan hasilnya dibahas dalam kaitannya dengan mekanisme syaraf dan kemungkinan pemanfaatannya.”

Penelitian lain oleh Dr. Alexander Glassman, kepala psikofarmakologi klinis di New York State Psychiatric Institute, Columbia University menemukan tembakau bermanfaat untuk tangani depresi klinis. “Itu bisa berarti arena yang sama sekali baru bagi obat antidepresan baru. Sangat dimungkinkan Anda bisa menghasilkan derivat nikotin yang tak menyebabkan komplikasi medis akibat nikotin, namun terbukti sangat bermanfaat bagi penanganan depresi klinis.”

Peningkatan minat terhadap nikotin ditunjukkan dengan membludaknya riset soal zat ini dalam database PubMed di National Library of Medicine. Antara 1963 sampai 1970, terdapat 1.092 artikel tentang nikotin yang terdaftar; antara 1971 hingga 1980 terdaftar 2.346 artikel; antara 1981 hingga 1990 terdaftar 3.771 artikel, dan antara 1991 hingga 2000, sebanyak 6.919 artikel terdaftar. Demikian, dalam rentang 37 tahun, riset terkait dengan nikotin yang diterbitkan jumlahnya berlipat dengan faktor kelipatan lebih dari enam.

Industri farmasi sudah sekian lama melihat potensi keuntungan dalam pengembangan obat penghenti merokok yang berbasis nikotin. Pada 1962, para ilmuwan Pharmacia mulai merancang sarana pengantar nikotin. Dan pada 1971 mereka telah menyempurnakan permen karet yang mengandung nikotin, yang belakangan dipasarkan oleh SmithKline Beecham dengan merek Nicorette.

Seiring meningkatnya gerakan anti-tembakau, perusahaan-perusahaan farmasi lain pun tertarik pada pasar raksasa yang amat potensial untuk produk penghenti merokok. Ketika peneliti Red Jose mengembangkan koyok nikotin transdermal pada awal 1980-an, industri farmasi segera mengawali langkah mereka untuk memperkenalkannya ke pasaran.

Tentu saja, bukan hanya sarana penghenti merokok berupa sistem pengantar nikotin alternatif yang menarik minat perusahaan-perusahaan obat, melainkan juga sejumlah besar sarana farmakologis lain.

Sejumlah besar kajian tentang manfaat terapeutis nikotin sudah diterima luas. Dapat dipahami mengapa industri farmasi begitu berminat mematenkan sarana pengantar nikotin serta senyawa-senyawa terapeutis baru yang memakai nikotin sebagai kandungan utamanya.

Inilah alasannya kenapa industri farmasi sangat bernafsu menghancurkan perusahaan-perusahaan tembakau dan sarana pengantar nikotin mereka yaitu rokok. Dengan demikian, para pedagang obat akan menjadi satu-satunya penyedia nikotin untuk dunia. [F]

 

Disarikan dari buku Wanda Hamilton, Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat (Insist Press, 2001).

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Arya Wiradikha Sudisman

Arya Wiradikha Sudisman

Penulis lepas, pemerhati isu kesehatan, dan penyuka kopi.

Tinggalkan komentar