Industri Hasil Tembakau

“Revolusi” Kretek

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Sejak Demokrasi Terpimpin jatuh, Orde Baru berkuasa. Kiblat ekonomi berubah. Bantuan keuangan dalam jumlah besar mengucur dari negara-negara Barat. Sebagai kompensasi, Orde Baru mengangkat World Bank dan International Monetary Fund sebagai mentor perekonomian Indonesia.

Dalam perjalanannya, World Bank dan International Monetary Fund terus memuji kebijakan-kebijakan yang diambil Orde Baru. Ditambah kehadiran ahli-ahli ekonomi Indonesia lulusan Universitas Berkeley yang memainkan peran penting dalam berbagai kebijakan.

Perubahan kiblat ekonomi juga berarti dikembalikannya perusahaan-perusahaan milik Inggris dan Amerika Serikat yang diambil alih di era pemerintahan Soekarno. Salah satu perusahaan tersebut adalah BAT, produsen rokok putih terbesar di Indonesia. Tahun 1968 – 1969, BAT segera menjadi lokomotif rokok putih yang melesat cepat hingga mendesak kretek.

Sejak awal ditemukan, segmen kretek memang untuk kalangan menengah ke bawah. Namun keadaannya menjadi lebih parah di masa ini. Citra dan prestise rokok putih, terutama merek internasional, telah menenggelamkan kretek. Mark Hanusz menggambarkan: “Even if they personally liked the taste of kretek, well-to-do Indonesians in the 1960s would light up a white cigarette in public and only enjoy their kretek in the privacy of their home.”

Ancaman seperti awal tahun 1930-an berulang. Tahun 1970, hanya tiga tahun setelah BAT dikembalikan, rokok putih telah menguasai 40% pasar rokok Indonesia. Tetapi industri kretek kembali mendapat perlindungan pemerintah. Perbaikan ekonomi yang dicanangkan di awal kekuasaan Orde Baru tidak bisa tidak mempertahankan industri kretek.

Menimbang kebutuhan cengkeh yang tinggi untuk industri kretek, tahun 1970 swasembada cengkeh dicanangkan untuk mengurangi impor dan menguatkan devisa. Kemudian, dari oil booming di tahun 1974, pemerintah mengucurkan pinjaman lunak bagi industri kretek. Pinjaman itu digunakan industri kretek untuk menambah investasi.

Revolusi kretek terjadi. Dimulai dari perusahaan besar, yaitu Djarum tahun 1976, Gudang Garam tahun 1978, lalu Sampoerna tahun 1984, pemerintah memberikan izin mekanisasi industri (Bentoel sudah lebih dulu melakukannya di tahun 1968). Sejak saat itu pula, kretek mulai menggunakan filter. Ditambah kemasan yang jauh lebih bagus dan iklan yang mengubah citra maupun prestisenya, kretek akhirnya berhasil menggusur rokok putih dari konsumsi kalangan elit. Citra kretek sebagai konsumsi kalangan menengah ke bawah, yang selalu lekat sejak ditemukan oleh Hadji Djamhari, lenyap sudah.

Kejayaan kretek kemudian dipastikan melalui program transmigrasi pemerintah Orde Baru mulai dekade tahun 1970-an. Secara “tidak sengaja”, transmigrasi mengantarkan distribusi kretek secara luas ke daerah-daerah di luar Jawa, membuat kretek semakin tak tertandingi rokok putih dan menjadi primadona di negerinya sendiri.

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Disarikan dari buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek (Abhisam D.M., dkk., Penerbit Kata-kata, 2011, h.95—96).

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar