Industri Hasil Tembakau

Pasar Tembakau Global

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Keberhasilan perusahaan-perusahaan farmasi multinasional menjadikan tembakau sebagai musuh kesehatan dunia tidak lantas mengesahkan kehancuran perusahaan-perusahaan tembakau multinasional. Sebaliknya, justru agresivitas ekspansi dan akuisisi perusahaan-perusahaan tem bakau multinasional—katakanlah Philip Morris dan BAT—makin menjadi.

Pada tahun 1992 Philip Morris mengambil mayoritas kepemilikan saham di perusahaan milik negara Ceko, Tabak AS, sebesar 420 juta dolar AS, sebuah investasi tunggal terbesar oleh perusahaan Amerika Serikat di Eropa Tengah pada saat itu. Pada awal 1990-an Philip Morris mengambil bagian dalam privatisasi pabrik-pabrik rokok di negara-negara lain, termasuk Kazakhstan, Lithuania, dan Hungaria. Tahun 1995, Philip Morris membuka pabrik pertama di Seremban, Malaysia.

Tahun 2003, Philip Morris membuka sebuah pabrik di Filipina yang merupakan investasi perusahaan rokok terbesar di Asia pada saat itu. Pada tahun yang sama, Philip Morris mengakuisisi saham mayoritas di Papastratos Tobacco Company SA, produsen dan distributor rokok terbesar di Yunani. Pada tahun yang sama pula, Philip Morris memperoleh 74,22% dari DIN Fabrika Duvana AD Nis di Serbia, dan per Desember 2007 memegang saham dari perusahaan ini lebih dari 80%.

Pada tahun 2005, Philip Morris mengakuisisi PT HM Sampoerna Tbk di Indonesia dan Compania Colombia de Tabaco SA (Coltabaco) di Kolombia. Kedua perusahaan itu adalah produsen rokok terbesar di negara masing-masing. Di tahun yang sama, Philip Morris mengumumkan perjanjian dengan China National Tobacco Company (CNTC) untuk lisensi produksi Marlboro China dan pembentukan sebuah usaha ekuitas internasional bersama di luar China. Tahun 2007 Philip Morris membeli 50,2% saham tambahan di Lakson Tobacco Company, Pakistan, dan menjadikannya memegang total saham menjadi sekitar 98%.

Demikian juga halnya dengan British American Tobacco, yang pada tahun 2001 mengumumkan serangkaian investasi baru di negaranegara seperti Turki, Mesir, Vietnam, Korea Selatan, dan Nigeria.

Tahun berikutnya British American Tobacco mengontrol keuntungan dari perusahaan Peru Tabacalera Nacional dan memenangkan tawaran untuk perusahaan negara mantan pemonopoli tembakau di Italia, ETI, dan Serbia Duvanska Industrija Vranje.

Tahun 2004 British American Tobacco menggabungkan AS Brown & Williamson dan RJ Reynolds Tobacco Company menjadi Reynolds America, di mana British American Tobacco mengontrol 42% saham.

Tahun 2008, British American Tobacco mengeluarkan dana 1.720.000.000 dolar AS untuk mengambil alih aset Tekel, perusahaan tembakau negara di Turki.

Tahun 2009 British American Tobacco melakukan akusisi perusahaan kretek terbesar keempat di Indonesia, Bentoel, dengan nilai pembelian sebesar 580.000.000 dolar AS.

Telah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi bisnis perusahaan rokok di negara berkembang umumnya ditransfer ke kantor pusat perusahaan raksasa tersebut di negara-negara maju. Keadaan ini tentu merupakan kerugian tersendiri bagi negara berkembang dalam upaya meningkatkan pembentukan modal (capital formation) di dalam negerinya.

Meskipun kampanye global melawan tembakau semakin gencar, pasar tembakau tidak lantas menurun. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 miliar dolar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6% pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23% lagi, mencapai 464,4 miliar dolar AS.

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah ‘negara’, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestic bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.

Dalam rentang waktu 50 tahun dari 1960 – 2007, produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 ton menjadi 6,33 juta ton per tahun, atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21% per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72% per tahun.

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Disarikan dari buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek (Abhisam D.M., dkk., Penerbit Kata-kata, 2011, h.112—114).

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar