Industri Hasil Tembakau

Menunggu Pemerintah Mendukung Petani Tembakau

tembakau
Intan Hapsarini
Ditulis oleh Intan Hapsarini

Minimnya perhatian permerintah kepada nasib petani tembakau mengakibatkan tingkat produktivitas petani tembakau dalam negeri sangat rendah dibanding produktivitas negara lain.

Berdasarkan data Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), produksi tembakau selama beberapa tahun terakhir masih di bawah 200 ribu ton. Tahun ini mencapai sekitar 170 ribu ton. Sedangkan permintaan pasar telah mencapai lebih dari 300 ribu ton. Untuk memenuhi selisih kebutuhan, industri rokok terpaksa impor 100 ribu ton tembakau.

Jika pemerintah tidak segera turun tangan maka impor tembakau akan bertambah besar. Sebab permintaan terhadap rokok terus meningkat setiap tahun. Tahun ini produksi rokok meningkat 16 miliar batang dibanding tahun 2014, atau sekitar 362 miliar batang. Sementara tahun 2015–2020 produksi rokok akan meningkat 5–7,5% per tahun.

Seharusnya petani tembakau dibantu, seperti halnya petani pada komoditi lain. Tanaman ini melibatkan 2 juta petani di seluruh Indonesia dan menyumbang 34% pasar tembakau dunia. Penerimaan negara dari sektor tembakau jauh lebih besar dibanding yang negara dapatkan dari Freeport.

APTI mencatat, luas lahan tembakau yang tersebar dari Aceh hingga Sulawesi Selatan mencapai 192.525 ha. Telah merosot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 260.000 ha. Produksi sebesar 163.187 ton per tahun.

Data dari Statistik Perkebunan Indonesia di Sekretariat Ditjen Perkebunan, terdapat delapan jenis tembakau dengan kekhasan masing-masing. Tembakau Madura tertanam di areal seluas 22.603 ha dengan produksi 7.380 ton. Tembakau Rajangan di atas areal 47.417 ha dengan jumlah produksi 33.162 ton. Jenis tembakau lainnya yakni tembakau Jawa di atas lahan seluas 30.111 ha atau 22.069 ton, tembakau Burley di lahan seluas 1.260 ha atau 1.731 ton, dan tembakau Virginia di atas lahan 35.095 ha dengan produksi 46.055 ton.

Tiga jenis tembakau lainnya yakni tembakau Besuki tertanam di atas lahan seluas 5.656 ha dengan produksi 7.322 ton, tembakau Kasturi seluas 13.241 ha dengan produksi 13.172 ton, dan tembakau Paiton tertanam di atas lahan seluas 10.027 ha dengan produksi 9.329 ton.

Pemerintah harus lebih berpihak kepada petani, mengatur tata niaga komoditas tembakau yang masih berantakan. Melihat kontribusi industri hasil tembakau yang besar bagi negara, pemerintah jangan malah terus-terusan menekannya dengan berbagai regulasi. [B]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Intan Hapsarini

Intan Hapsarini

Membaca dan menulis bagiku bagai sebuah perjalanan indah nan menyenangkan.

Tinggalkan komentar